Sindo

Asam Garam Hetty Koes Endang…

4,495 Views

Ya! Hetty Koes Endang….

Nama itu sudah lama tak mampir-mampir di hati khalayak. Tapi jujur saya akui, ia selalu di benak saya. Mungkin karena mirip Rudi Hartono di bulutangkis, atau Harvey Malaiholo di dunia serupa, Hetty sangat berkali-kali menjuarai festival menyanyi nasional. Tujuh kali sampai delapanan kalau tak keliru. Persis Rudi di All England.

Sangat luar biasa! Perlu mental juara untuk saban tahun unjuk bukti menyisihkan para penyanyi termasuk yang baru timbul. Bermental juara berarti rendah hati. Rela bersusah payah dari “nol” lagi bersaing termasuk dengan para ingusan. Bermental juara artinya juga siap kalau-kalau kalah dan ibu-ibu di pasar merasa kasihan atau malah menertawakan.

Luar biasa lantaran lumrahnya tokoh kalau sudah unggul, takut mencoba tahun depannya lagi. Manajer dan orang-orang dekat Hetty pasti melarangnya ikutan lagi lomba tarik suara. Tapi kita lihat bagaimana sikap Hetty. Tepat jika para penyiar infotainment saat ini, yang pasti bukan dari generasi persaingan ketat penyanyi via berbagai lomba tahun 70-80an, menyebut Hetty penyanyi legendaris.

***

Tak terlalu tepat dibilang nama Hetty tak pernah mampir di benak publik. Singgah sih cuma tak pernah tinggal. Ibu-ibu, termasuk saya, memang gampang dibikin lupa. Sekarang toh kita sudah lupa kenaikan BBM adalah awal kesengsaraan. Masyarakat kini malah ribut soal lain, yaitu perkara antrean BBM di berbagai kota. Orang mempertanyakan distribusi BBM. Tak lagi memperkarakan kenaikan BBM.

Suara Hetty Koes Endang setidaknya masih saya dengar dari radio di Batu Bulan, pinggiran Denpasar arah Gianyar, ketika bulan lalu saya ke sana. Ini pesawat radio di warung jalanan. Larut malam. Lagunya Damai tapi Gersang. Berarti penyanyi legendaris itu memang masih mampir-mampir namanya bahkan suaranya. Saya mendengarnya lamat-lamat dari kedai kopi di kejauhan.

“Sedih banget ya, Mas,” kata teman saya. Tiba-tiba saya turut merasakan air matanya. Bahkan, dalam perasaan saya, pada larut malam sisa gerimis di Bali itu mendengar Damai tapi Gersang, lagu ciptaan almarhum Ajie Bandi yang menang di festival Jepang, sangat sedih. Sama sangat sedihnya kala nyaris seluruh radio dulu memancarkan lagu Let It Be malam ketika pentolan The Beatles, John Lennon ditembak penggemarnya.

Paginya, bangun tidur, saya sudah mau nulis soal Hetty buat para pembaca Seputar Indonesia, tapi saya tidak tahu harus menulis sisi mananya.

***

Pernah saya pengin menulis Hetty dari segi salah kaprah orang mengujarkan “Endang”. Mestinya “Endang” diucapkan dengan “E” seperti pada suku kedua “Eksekutif”. Bukan suku pertamanya. Karena Hetty orang Sunda. Di Sunda Endang nama laki-laki. Bisa jadi dia bapaknya.

Lagi-lagi tulisan ini batal saya bikin karena saya tidak tahu manfaatnya buat Ibu-ibu. Apalagi di alam Bhinneka Tunggal Ika bukannya lebih asyik lagi kalau setiap suku di dalamnya diberi kebebasan mengucapkan Endang dalam versi udelnya masing-masing, seperti halnya orang merdeka berteriak “Macet” atau “Mallarangeng” dengan “E” pada suku pertama atau kedua “Eksekutif”.

Saya baru menemukan alasan menulis Hetty buat Ibu-ibu ketika KPK mencokok, menggeledah rumahnya di Bumi Serpong Damai, dan menahan suaminya yang anggota DPR. Luar biasa! Ia dampingi suaminya, tak ikut-ikutan menghujatnya. Bahkan membelanya. Orang Madura bilang tatag. Hetty tatag. Beda jauh dengan para penyanyi kini yang meninggalkan suami pas suaminya bangkrut, atau pas suaminya diurus KPK.

Bagi saya, dalam kefanaan dunia, yang termasuk indah selain batas pandang lengsernya matahari di senja Krakatau ialah tatkala kita saksikan ada lelaki sedang kalah tapi tetap didampingi, diberi kedekatan fisik dan konkret, dan dibela mati-matian oleh perempuan yang mencintainya. Waduh!

***

Ini juga pernah saya katakan kepada Mbak Nina Akbar Tandjung ketika saya mampir ke rumahnya dulu nyaris tengah malam di Surakarta bersama Ray Sahetapi. Saya bilang, saya mampir buat menyatakan kekaguman karena Mbak Nina tetap mau mendampingi Pak Akbar di tahanan Kejaksaan Agung. Foto keduanya dalam tahanan, dan putrinya yang masih bocah, menjadi headline di koran-koran.

Tapi mungkin lebih baik lagi jika pendampingan dan kecintaan kaum istri yang tatag itu menjalar ke ibu-ibu yang lain dan diarahkan untuk gerakan ke depan. Misalnya, membuat para suami di DPR makin tangguh dan perkasa sehingga tidak menyelewengkan hak angket tentang minyak dan energi, melenceng dari tuntutan masyarakat.

Kini ibu-ibu di Indramayu sudah mulai mengarahkan pendampingan dan cintanya untuk langkah mandiri. Kita memang masih babak belur dan kontradiktif, negeri serba-pantai tapi malah harus mengimpor garam hampir 2 juta ton per tahun. Tapi kini mereka sudah mulai bangkit dengan industri rumah tangga untuk kristal yang bisa mengusir tikus dan dipercaya menolak hantu itu. Rekan saya salah seorang perangsang produksi garam di sana, Basuki Suhardiman, bilang Indramayu bisa menghasilkan 40.000 ton garam per tahun, kini sudah mulai merintis 10.000 ton dan target tahun depan 25 ribu ton.

Mari bidang-bidang lain di seluruh negeri kita gemparkan pula. Dengan pendampingan, kedekatan yang konkret, dan cinta para perempuan.

(Dimuat di harian Sindo No. 95, tanggal 18 Juli 2008)