Blog

Drama-Wayang Semar Mesem 17 November (1)

5,325 Views

ST4DC2Abis nerbitin album musik keempat “Presiden Yaiyo”, dalam posisi sekarang, tanggal 22 Oktober 2007, saya, Prof. Dr Sujiwo Tejo alias Presiden Yaiyo belum punya duit sepeserpun buat…o Ya gelar saya tadi masih ada lagi, MPH, MSC, M. Eng…buat pementasan Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem 17 November di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Tapi saya sudah bertekad bahwa pementasan di Jalan Pasar Baru Jakarta itu jadi. Sore buat mahasiswa dan kalangan yang agak kurang mengandung duit. Malam buat yang sangat mengandung duit.

Kenapa jadi? Ya karena Presiden Yaiyo dapat SMS dari teman yang kebetulan lewat di GKJ, spanduk sudah terpasang. Wado, ternyata Marusya Nainggolan yang mempimpin GKJ menganggap serius guyonan saya. Saya pernah guyon, kayaknya boleh juga deh kalau suatu hari Presiden Yaiyo dalam rangka Hari Pahlawan 10 November tampil di gedung kesenian bergengsi peninggalan Belanda itu. “Tapi jangan 10 November. 17 November ya. Hari bagus tuh, malem Minggu,” kata pihak GKJ. Saya respon, “Oke deh. Pokoknya kira-kira pentasnya ada wayang-wayangnya, ada teater-teaternya, ada musik-musiknya gitu…”

Eh, spanduknya udah nongol ternyata.

Ya, udahlah. Kalau misalnya Presiden Yaiyo tidak dapat sponsor, apa salahnya tampil sendirian saja. Yang penting kan ada wayangnya. Ada drama-dramanya. Ya, monolog kan bisa didrama-dramain. Ada musiknya. Ya musik akapela mulut juga jadilah. Saya tanya teman, apa kalau tampil kayak gitu akan nipu penonton yang sudah jauh-jauh datang dan beli tiket lagi. Kata dia sih gak nipu. Toh sudah ada drama dan wayangnya. Berarti Presiden Yaiyo sudah bersikap benar.

Saya sebenarnya juga gak begitu yakin bakal betul-betul tampil sendirian. Pasti ada yang ketika waktu makin mepet, terus merasa gak tega ama saya. Terus pengin ngebantuin pentas. Ya, siplah. Siapa yang gak pengin dibantuin. Tapi, kalau boleh nawar, saya berharap mudah-mudahan yang menawarkan diri itu perempuan dan berambut panjang. Karena, bayangan saya, lakon gubahan baru tentang Semar ini bagus juga kalau ada perempuan berambut panjangnya. Dia bisa jadi Dewi Kanestren, isteri Semar. Atau bisa jadi apa ajalah. Wong sampai sekarang naskahnya belum saya bikin.

Tapi, intinya, saya cuma pengin menampilkan Semar alias panakawan dalam wayang, secara apa adanya. Yaitu babu, yang melayani para ksatria, tetapi juga teman jenaka yang menjadi guru para ksatria.

Dan saya yakin pasti tetap bisa dipentaskan, tanpa duitpun. Karena bantuan pasti dateng pas saat-saat mepet. 17 tahun lalu saya kawin juga gak punya duit. Eh jadi kawin juga. Saya bikin teater dibantuin temen-temen di ITB dan Unpad Bandung, semuanya gratis, dan ini buat mas kawin. Abis kawin, teman ngebantuin ruangan. Sebagian kontrakan rumahnya, garasi, dikasih ke saya buat tinggal ma isteri. Dan seterusnya dan seterusnya.

Tapi sebetulnya aku cuma mau menghibur diri lho. Jujur aja saya deg-degan bener bisa pentas gak sih, tanggal 17 November di GKJ itu. Kalau penonton yang dateng cuma satu orang sih enak. Ajak ke warung sebelah GKJ. Dongengin soal wayang di situ kan udah jadi pentas. Dua tiga orang penonton masih mungkinlah. Tapi kalau yang dateng di atas 20 orang, gak bisa di warung. Ya udahlah. Lihat entar. Hehehe…