Blog

Drama-Wayang Semar Mesem 17 November (2)

5,320 Views

ST4DC2Harusnya Presiden Yaiyo punya duit setelah menerbitkan album musik keempatnya, Presiden Yaiyo, Agustus lalu. Sehingga Presiden Yaiyo, yaitu saya, Prof. Dr Sujiwo Tejo, tidak perlu pusing-pusing mikirin duit buat pentas Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem 17 November di Gedung Kesenian Jakarta. Tapi setiap kali ada duit, saya tergoda buat mencetak lagi-mencetak lagi Album Yaiyo, yang kini sudah beredar sekitar 5000-an CD tanpa lewat toko dan publikasi gencar. (Masyaallah, lupa, gelar saya itu lengkapnya…ah lihat aja di alinea Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem Jakarta 17 November  (1).

Dan seharusnya saya dapat duit dari CD yang telah beredar itu, sehingga pentas Semar Mesem tanggal 17 November aman. Tapi hampir sepertiga dari duit itu masih nyangkut di “distributor” nggak resmi yang umumnya mahasiswa. Tanpa saya tagih, sebagian bilang duitnya masih dipakai buat bayar kuliah. Ya, ndak papa. Kuliah itu kan bagus lagi mulia. Seorang lagi, distributor paling aktif di Surabaya bilang, dia tidak ada problem dengan uang kuliah. Ya udah bayar saja via rekening,

“Tapi teman saya banyak yang problem kuliahnya,” katanya.

“Ya terus, hubungannya apa?”

Singkat kata, hubungannya, duit dari penjualan CD album Yaiyo dipinjam temennnya buat bayar kuliah. Ya, ndak papa. Seperti Presiden Yaiyo bilang tadi, kuliah itu kan bagus, penting buat kesehatan dan mencerdaskan bangsa.

Ada juga yang pesan CD sekitar 100 keping album Presiden Yaiyo. Katanya buat acara ulang tahun. Jadi CD musik campuran jazz-dangdut-dan keroncong itu buat bingkisan ulang tahun para undangan. Ya, udah, saya kirim aja. Tapi sampai sekarang juga belum bayar. Ya, met ulang tahun lah!

Mestinya saya nagih. Tapi semangat saya buat nagih urusan CD album Presiden Yaiyo emang kurang besar. Mungkin karena sebetulnya duitnya sudah dibayar oleh para pembeli lukisan saya. Itu juga kenapa kok CD saya jual murah, Rp 30.000 per keping, tidak seperti umumnya harga CD yang bisa mencapai Rp 60.000. Saya selalu bilang ke para pembeli lukisan saya, dengan membeli lukisan itu, berarti mereka telah mensubsidi para pembeli CD album Yaiyo.

Dan mestinya buat pementasan Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem Jakarta 17 November nanti saya sudah dapat sponsor seandainya mulai cari duit Agustus lalu. Tapi saya paling males bikin proposal. Saya tuh suka banget menulis. Tapi kalau bikin proposal, menyangkut angka-angka, pusing kepala. Saya penginnya sih cuma ketemu orang atau perusahaan, ngomong maksud saya bikin pementasan Drama-Wayang Semar Mesem, lantas mereka kasih sponsor. Tapi ternyata harus bikin proposal ya?

Mungkin juga kenapa saya males bikin proposal, karena biasanya ide teater saya itu muncul di hari-hari menjelang pentas. Jadi saya tidak tahu pengeluaran buat set panggung berapa, buat musik berapa, buat kostum berapa. Soalnya itu semua kan tergantung skenario. Padahal skenario itu biasanya baru muncul beberapa hari menjelang pentas. Itu pun skenario di benak kepala, tidak di kertas. Sewaktu-waktu bisa berubah. Temen-temen seniman sudah tahu tabiat saya yang itu, kalau tidak percaya tanya antara lain Djaduk Ferianto.

Wong ketika pentas berlangsung kadang-kadang saya suka lupa pada skenario di benak kepala saya. Pernah dulu waktu bikin teater di Bandung, ada pemain yang sudah pakai kostum gak jadi naik panggung karena sebagai sutradara saya lupa ngasih komando kapan dia harus keluar. Usai pementasan baru dia, yang masih berkostum ala Majapahit nyamperin saya, “Cak,” katanya, “Saya gak jadi pentas ya?” (Orang ini, asal Surabaya dan penggemar motor trail, ponakannya Jenderal Arie Sudewo, Pangdam Siliwangi ketika itu, sekarang hidup di Amerika dan kabarnya sukses).

Jadi gimana saya mau bikin proposal buat cari sponsor. Tapi udahlah, dapet sponsor maupun gak dapat sponsor, yang jelas saya pengin banget di pementasan ini ada pemain perempuan yang rambutnya panjang. Ada gak ya, perempuan kayak gitu, yang apes-apesnya gak dapat sponsor maka main gratisan?