Blog

Drama-Wayang Semar Mesem 17 November (3)

5,309 Views

ST4DC2Saya masih kesel menyangkut Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem Jakarta 17 November. Bukan karena sampai sekarang belum dapat dana sepeserpun. Tapi karena untuk pertunjukan sekitar 1,5 jam di Gedung Kesenian Jakarta itu sampai sekarang saya belum dapat pemain perempuan berambut panjang. Please tolong, kalau punya temen, atau saudara, yang mau main teater berisiko tak dibayar, kontak saya di web ini atau di Kiki Dunung Basuki, salah seorang pemusik saya di 085217119793 atau Waskito di waskitomailbox@gmail.com

Kalau soal duit yang belum dapat, ya kesel sih, tapi keselnya lebih karena hal lain. Yaitu, kenapa sih saya tidak hidup pada massa perang. Kalau tahun-tahun perang itu saya sudah hidup dan berjuang bareng temen-temen, ketika terjadi perubahan zaman, saya pasti tinggal telepon atau sms minta dana ke temen-temen di peperangan itu. Nggak usah pakai proposal, nggak usah pakai penjelasan buat bayar aktor segini, pemusik segini, setting panggung segini. Begitu saya sebut angka, pasti duit langsung datang buat Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem 17 November. Karena apa? Karena mereka ingat zaman perang.

Tapi ketika saya sudah dewasa, perang sudah ndak ada. Kegiatan kemahasiswaan di kampus, tak bisa disamakan nilainya dengan peperangan. Tingkat penderitaannya mungkin kurang, sehingga tingkat persahabatan selanjutnya juga tidak seabadi persahabatan yang dibangun pada kancah peperangan, di tengah bau mesiu dan derap sepatu larsa.

Waktu saya jadi wartawan, saya iri tuh lihat orang-orang angkatan 45. Kalau perlu duit tinggal telepon sana-sini. Nggak pake proposal. Nggak pakai pertanggungjawaban. Wah, kebayang kalau aku kayak gitu sudah berapa pementasan teater yang aku bikin.

Semua wakil presiden kalau habis masa tugas ya langsung meninggalkan istana di Merdeka Selatan. Tetapi berani nggak ke Sri Sultan Hamengku Buwono IX begitu? Karena dia sejawat perjuangan Pak Harto. Karena HB IX banyak jasanya terhadap pendirian republik ini.

Tahu ngga? Ini aku dapat dari sumber yang sangat bisa dipercaya, mantan menteri, pekan lalu, waktu Adam Malik terpilih sebagai Wakil Presiden menggantikan HB IX, malamnya itu Pak Harto ma Bu Tien rembukan gimana menata Istana Presiden di Merdeka Utara, supaya sekaligus bisa rangkap menjadi kantor Wakil Presiden Adam Malik. Lho Wapres kan mustinya berkantor di Merdeka Selatan? Kenapa? Karena tersiar kabar bahwa HB IX sudah kerasan di Istana Wapres Merdeka Selatan. Ndak mau pindah (meski kemudian terbukti bahwa ini cuma isu, bahwa sebetulnya HB IX bukan tak mau pindah).

Dan orang-orang yang disegani maupun sedikit ditakuti, bukan cuma HB IX. Pejuang kan banyak. Pak Harto ndak brani. Bayangkan, berarti, HB IX dan orang-orang setingkat itu akan dengan gampang minta duit ke Pak Harto kalau mau bikin teater. Atau minta duit dari kolega lain, yang juga sama-sama menderita dulu di medan tempur, di dapur umum, di barak-barak dan persembunyian milisi.

Bukannya saya nggak bisa telepon sana telepon sini. Saya akan telepon beberapa temen, memang, tapi, bayangan saya, kalau kami dulu sama-sama digembleng dalam suasana baku tembak…mungkin hasil dari telpon-telepon itu akan lain.

Dan aku nggak usah capek-capek ngejelasin bahwa Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem Jakarta 17 November di Gedung Kesenian Jakarta itu akan bercerita tentang Semar, pengabdi kebenaran, tapi dikemas secara teater modern, komedis, dengan musik gabungan antara jazz dan gamelan. Pemain-pemainnya juga gak harus pakai kostum wayang. Tapi ada tari tradisinya juga. Aku penginnya itu ada tarian perang antara Cakil (raksasa) dan Arjuna (yang diperankan perempuan dan kalau bisa dari Surakarta serta masih muda banget, hampir-hampir remaja gitu lah)

Tanpa penjelasan itu, teman-teman seperjuangan itu, seandainya saya pernah perang, pasti langsung ngebantu. Kalau ada pertanyaan, paling dia malah cuma nanya hal-hal lain di luar teater. Misalnya kabarku gimana. Anakku berapa. Aku udah sekolah sampai mana. Paling gitu…O ya, nama saya Sujiwo Tejo. Lengkapnya, Prof Dr Ir Sujiwo Tejo MPH, PhD, Msc.