Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 136 Ken Arok dan Empu Gandrung

4,025 Views

Episode136KUCING diberi nama Bagong sudah ada. Kucing diberi nama Gareng atau Petruk mungkin sudah ada mungkin belum. Yang pasti belum ada ialah kucing dinamai KPK.

Di Dusun Bluluktibo, dusunnya panakawan Gareng, KPK adalah kucing berwarna belang telon. Warna Demokrat, warna Golkar, dan warna PKS se tidaknya sudah terwakili di dalamnya. Kumisnya juga cukup lebat. Ekornya lumayan panjang. Siang malam terus bergoyang-goyang. Apa lagi kalau dia sedang mendengar lagu: Iwak peyeeeeek…Iwak peyeeeek…

Wah ekor KPK makin kobat-kabit mendengar lagu Bonek yang dipopulerkan oleh Trio Macan itu. Sehabis pinggul dan kepalanya berjoget ia kembali giat bekerja. KPK giat sekali menggondol ikan. Ndak cuma ikan kelas teri. Tak jarang KPK juga cekatan menggondol ikan kakap. Pemandangan ikan kakap diewer-ewer KPK adalah pemandangan yang biasa di Dusun Bluluktibo.

Sampeyan pasti menyangka si belang telon KPK itu bisanya cuma mengambil ikan-ikan dari meja makan?

Nooooooo…… Bahkan ikan-ikan yang sedang disimpan rapat-rapat di dalam kulkas oleh Bu Jaksa, Bu Hakim, dan Bu Polisi, semua bisa diambil alih oleh KPK. Mau kulkas dua pintu mau kulkas lima pintu, ndak masalah. KPK sudah tahu trik-triknya. Jangankan cuma di kulkas, lha wong ikan kakap yang sudah dipeti-eskan saja bisa diambil oleh KPK. Hebat kan?

Hebat…hebat…

Tapi kehebatan itu berlangsungnya di masa lampau. Sekarang si belang telon KPK lebih sering cuma nyamber ikan kelas teri. Mahasiswa yang sinis bilang, ’’Halah kucing itu sekarang nggak punya nyali ama yang kakap-kakap. Beraninya hanya ke ikan ecek-ecek…’’

Sedangkan mahasiswa yang selalu berpikiran positif bilang, ’’Bukan karena ndak berani. Berani sih berani. Tapi ikan kakap sekarang memang belum ada stoknya… Sumpah…’’

’’Huuuuuuuuuuu….’’ Reaksi sebagian masyarakat.

’’Iya… percaya… percaya… Salut,’’ reaksi sebagian masyarakat lainnya sambil mantuk-mantuk.

***

Siapa pemilik KPK?

Pemilik kucing belang telon berkumis lebat itu Empu Gandrung namanya. Dia seorang tokoh spiritual yang padepokannya bercokol di tapal batas Amarta dan Astina. Kucingnya mencari nafkah di Bluluktibo, wilayah Amarta yang dikuasai Pandawa. Empu Gandrung sendiri menerima murid yang kebanyakan berasal dari tlatah Astina, wilayah yang dikuasai Kurawa.

Prabu Duryudana sebagai penguasa Astina agak heran. Kok ada wayang bernama Empu Gandrung. Selama ini biasanya siapa pun dan betapa pun rupa pandita pendatang yang menggelar kawruh di laladan-nya masih mambu-mambu nama wayang. Pernah ada rohaniwan baru di dekat Sumur Jalatunda, namanya Bima Suci. Nama wayang kan? Terus dulu ada juga agamawan tua renta di Gunung Kutharunggu, namanya Begawan Kesawasidi. Masih nama wayang kan? Lha Empu Gandrung?

Apalagi, selidik punya selidik, ternyata Empu Gandrung itu berasal dari Dusun Lulumbang sekitar Gunung Kawi. Ia pun teman seperjuangan Bango Samparan, ayah angkat Ken Arok. ’’Nah, pasti Empu Gandrung itu adalah Empu Gandring dalam kitab Pararaton, kan?’’ kata ponokawan Cangik kepada anak perempuannya, Limbuk.

Anehnya, Gandrung bukan seorang empu pembuat keris sebagaimana Gandring. Pernah ada yang pesan keris seandal keris Pulanggeni milik Arjuna, keris yang bisa mencari sasarannya sendiri. Empu Gandrung langsung bilang tak sanggup.

Ada lagi yang pengin banget punya keris se-ngedap-edapi keris Kalanadhah milik Prabu Tremboko, pusaka yang dewa saja tak sanggup menghadapinya. Empu Gandrung seketika bilang, ’’noooo…’’

’’Saya ini dukun asmara,’’ begitu kata Empu Gandrung setelah capek tiap hari bilang tidak kepada ribuan orang yang datang. Tapi bagaimana orang akan percaya bahwa pandita baru di tapal batas Astina-Amarta itu bukanlah Empu Gandring wong yang datang ke tempat itu ujung-ujungnya adalah Ken Arok juga?

***

Pada zaman dahulu ada perempuan bernama Ken Endok. Atas tuduhan perselingkuhan, Gajah Para bercerai dengan Ken Endok, istrinya. Malu mempunyai bayi dari hubungan gelap, Ken Endok membuang bayi itu di kuburan. Si bayi ditemukan oleh seseorang sampai akhirnya menjadi anak angkat Bango Samparan. Ayah angkat inilah yang menyuruh Ken Arok memesan keris kepada Empu Gandring kalau Ken Arok ingin membunuh Tunggul Ametung.

Kembali ke kehidupan saat ini. Kembali ke padepokan di tapal batas Amerta-Astina.

’’Saya bukan pembuat keris… Saya dukun asmara,’’ ujar Empu Gandrung kepada lelaki bernama Ken Arok.

Lelaki gondrong yang dipanggil Ken Arok membatin, kalau memang ia tak bisa mendapatkan keris dari Empu Gandrung, tak apalah jika memperoleh minyak pengasihan. Dengan minyak pengasihan itu ia akan memelet seluruh perempuan di Tanah Air untuk mendukungnya melakukan pemberantasan korupsi besar-besaran. ’’Tanpa dukungan perempuan, mustahil pemberantasan korupsi berhasil,’’ tekad hati Ken Arok.

Seperti dalam dongeng Pararaton, Ken Arok gadungan ini sudah tak sabar balik lagi ke padepokan pada masa lima bulan. Empu Gandrung masih tekun meramu minyak pengasihan. ’’Jangan sekarang, Arok. Ini belum sempurna… Tunggulah tujuh bulan lagi,’’ pinta Empu Gandrung.

Minyak direbut oleh Ken Arok. Empu Gandrung mempertahankan. Ia minta tolong kucing belang telon-nya yang bernama KPK untuk membantu mencakarkan Ken Arok, tapi kucing diam saja. Empu Gandrung kesal. Akhirnya dia dan Ken Arok tewas dalam perebutan itu dan tumpahlah minyak pengasihan mengenai KPK.

’’KPK yang sebenarnya akan dikebiri wewenangnya oleh DPR, tapi KPK dalam lakon ini dikebiri oleh tumpahan minyak pengasihan,’’ jelas ponokawan Cangik kepada Limbuk.

Hulu balang kaum Kurawa senang mendengar berita itu. ’’Pemberantasan korupsi akan kembali mengendur… Asyiiiik,’’ teriak mereka.

Lalu terdengar suara arwah Empu Gandrung dari langit: Hai KPK, aku mati karena kau tak sanggup menolongku, maka aku kutuk kau… Sampai tujuh turunan kau akan penuh belas kasihan terhadap ikan-ikan… Tak tega memangsa ikan… Ciaaaooooo….