Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 137 Sumpah Roro Jonggrang pada BBM

5,141 Views

Episode137RORO Jonggrang sumpah-sumpah: Sing sopo wae ndak menaikkan harga BBM pada kokok ayam pertama enam bulan ke depan, dialah yang berhak menjadi suamiku.

Di tempat lain, waktunya sama, Dewi Wilutama pun berikrar: Sing sopo wae tidak menaikkan harga BBM menjelang terang tanah enam bulan ke depan, dialah yang berhak menjadi suamiku.

Bos kerajaan Magada, Prabu Jarasanda, termasuk yang puyeng mendengar buah simalakama itu. Dia bisanya cuma tolah-toleh: pilih Jonggrang yang mirip-mirip artis Nikita Mirzani atau Wilutama yang ada memper-memper-nya dengan bom seks Miyabi alias Maria Ozawa.

Oooo…Nek milih Roro Jonggrang, Prabu Jarasanda akan sering-sering pelesir ke Candi Prambanan sekitar Candi Cetho dan Candi Sukuh, candi-candi Hindu Syiwa. Jaransanda memang senang candi-candi Buddha seperti Borobudur, Pawon, dan Mendut, tapi bukan berarti ia ndak demen semilir angin di candi-candi di Prambanan dan sekitarnya itu.

Oooo tidak. Punakawan Togog dan Mbilung kasih saran. Menurut mereka Jarasanda lebih klop dengan Dewi Wilutama saja. ’’Dia itu bidadari tapi bukan sembarang bidadari,’’ hatur Togog suatu malam.

Punakawan yang masih terhitung kakaknya Semar dan Batara Guru itu menambahkan, ’Ketahuilah, Prabu Jarasanda, jumlah bidadari itu banyak. Total sampai seketi kurang sewiji…’’

’’Mosok. Karepmu yok opo?’’

’’Maksud seketi kurang sewiji itu 99.999. Banyak sekali. Itulah cacah bidadari di kahyangan. Tapi dari jumlah yang sehoha itu cuma ada tujuh bidadari pilihan.’’ ’’Dewi Wilutama termasuk?’’

’’Oalah bukan cuma termasuk, Prabu Jarasanda, hahaha….’’ Mbilung menimpali, ’’Dewi Wilutama malah pemimpin mereka..’’

’’Mosok?’’

’’Makanya, Sang Prabu,’’ ujar Togog, ’’Mending Sinuwun memilih Dewi Wilutama saja. Roro Jonggrang sudah jatahnya Bandung Bondowoso.’’

’’Mosok? Mbilung, usulmu yok opo?’’

’’Saya idem Togog. Biarlah Roro Jonggrang menjadi jatahnya orang-orang Bandung dan orang-orang Bondowoso.’’

***

Sebetulnya Prabu Jarasanda sangat terkiul-kiul membayangkan Dewi Wilutama seperti gambaran kedua abdi dalem-nya. Bayangkan, pemimpin para dewa, Batara Guru, pun sampai berwajah empat gara-gara ndlongop terpesona Dewi Wilutama.

Batara Guru terus menatap Dewi Wilutama ketika sang dewi berada di depannya. Malulah sang dewi. Ia pindah ke samping kanan, kiri, dan belakang. Terus saja Batara Guru menatapnya sampai akhirnya wajahnya menjelma empat.

Bandingkan, sehebat-hebatnya bahan bakar minyak alias BBM cuma bisa membuat partai-partai koalisi bermuka dua. Satu untuk menyenangkan rakyat, satu untuk menyenangkan penguasa. Wilutama lebih hebat lagi. Perempuan ini sampai membuat Batara Guru bermuka empat.

’’Ck ck ck ck…’’ Prabu Jarasanda berdecak-decak sendiri nduk kamar tidur.

Tapi sang raja masih penasaran buat meraih Roro Jonggrang. Roro berarti perawan. Jonggrang berarti langsing… Hmmm… Sudah lama sang raja berangan-angan didampingi perawan lencir. Dan bagi Prabu Jarasanda, ayahanda Roro Jonggrang yaitu Prabu Baka, sangat menantang buat ditaklukkan.

Prabu Baka dikenal suka ’’membunuh’’ manusia. Jarasanda tak ingin mendapat saingan di muka bumi. Biarlah urusan memangsa manusia dan menindas rakyat adalah urusannya sendiri. Jangan ada lagi raja-raja lain yang bertingkah laku lebih ganas. Menyamai saja jangan.

’’Lebih ganas mana Prabu Baka dibanding mahasiswa yang merusak kantor polisi, merusak pagar, membakar mobil-mobil penguasa…?’’ Terdengar suara di relung kepala Jarasanda.

Jarasanda menjawabnya sendiri, ’’Lebih ganas Prabu Baka. Prabu Baka tidak merusak kantor polisi, tidak merusak pagar, tidak membakar mobil-mobil, tetapi dia merusak negara melalui korupsi…’’

’’Lebih sadis mana Prabu Baka dan kau sendiri?’’ Terdengar lagi suara itu di relung kepala Jarasanda.

Lagi-lagi Jarasanda menjawabnya, ’’Lebih sadis Prabu Baka. Aku membunuh manusia langsung mati, aku telan. Habis perkara. Prabu Baka membunuh manusia melalui korupsi. Rakyatnya tetap hidup. Tak mati-mati. Tapi hidup di dalam kemiskinan karena hak-hak dasarnya dikorupsi oleh Prabu Baka…. Mereka mati sak jroning urip!’’

’’Waduh… Waduh… Sinuwun… Roro Jonggrang itu sudah haknya orang-orang Bandung dan orang-orang Bondowoso…’’ Mbilung pontang-panting.

’’Mbilung, Roro Jonggrang itu hakku! Orang Bondowoso suruh bikin tape saja. Sebagaimana orang Bandung suruh bikin peuyeum saja. Dua-duanya sama, sama-sama soal tape. Jangan ngurusi Roro Jonggrang…’’

***

Tak ada yang mampu menghentikan niat Prabu Jarasanda yang telah bulat tekadnya buat menggondol Roro Jonggrang dengan cara menaklukkan Prabu Baka.

Seisi Kerajaan Magada panik, kecuali Togog. Kakak Semar dan Batara Guru ini akhirnya tahu punya feeling bahwa Prabu Jarasanda tak akan mendapatkan Roro Jonggrang, sebagaimana ia juga tak bakal mendapatkan Dewi Wilutama.

’’Apa lantaran Roro Jonggrang itu sudah jadi hak orang Bandung dan orang Bondowoso, sementara Dewi Wilutama sudah haknya Pandita Durna?’’ tanya Bilung.

’’Bukan!’’ Togog menjelaskan, ’’Tapi karena Prabu Jarasanda meski tidak bermuka dua, badannya mendua. Ingat, Prabu Jarasanda itu dikandung oleh dua ibu, Dewi Kahita dan Dewi Kawita. Keduanya istri Prabu Wrehatrata yang tak kunjung hamil.’’

Suatu hari di hutan sang prabu diberi mangga oleh Brahmana Resi Sidhakosika. Sesampai di rumah, mangga oleh sang raja dibagi dua diberikan kepada kedua istrinya. Langsung hamillah mereka masing-masing. Ketika lahir, bayi dari tiap ibu juga cuma lahir separo.

Kedua ibu itu malu. Badan bayi yang masing-masing separo ini dibuang sampai ditemukan raksasa perempuan bernama Jara. Ketika Jara mempersatukan kedua potongan bayi itu, aneh bin ajaib, sang bayi jadi hidup.

Lihatlah, Bilung, kulit Prabu Jarasanda itu slewah (berlainan). Separo kanan agak kemerahan, separo kiri agak hitam kebiruan.’’

’’Maksudmu apa, Gog?’’

’’Maksudku, yang separo mendukung kenaikan BBM, yang separo mendukung BBM tak naik. Padahal hidup harus memilih. Jadi mustahil beliau mendapatkan Roro Jonggrang maupun Wilutama.’’