Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 140 Geng Motor dari Wrisaparwa

4,529 Views

Ini bukan sekali dua kali para raksasa ngamuk. Sekarang mereka tidak naik singobarong seperti kerap dilakukan oleh Indrajit, anak Rahwana. Dalam melakukan aksinya kali ini para raksasa tidak menunggangi binatang buas. Mereka bernaikan sepeda montor. Nek menurut istilah nduk daerah kulon: Motor.

“Wah…wah..wah… Geng Motor?” tanya ponokawan Bagong.

“Bukan, Gong. Ndak saben orang naik sepeda montor terus disebut Geng Motor to?” Gareng ndak bosen-bosen ngasih pencerahan ke adiknya itu.

Betul juga si Gareng. Lha di Banyuwangi ada guru fisika yang dari dulu naik sepeda montor. Ndak ganti-ganti, lagi. Sepeda montornya ya itu-itu saja sejak almarhum Pak Domo masih jadi Pangkopkamtib. Apa beliau anggota Geng Motor?
“Lha setiap Jumat Malem di Bambu Runcing Surabaya ada rombongan sepeda montor kuno bikinan Jerman, Sundapp, hayo…Apa mereka Geng Motor. Nggak kan?” Petruk membantu Gareng menggurui Bagong.

Betul juga si Petruk. Lha Wakapolri Komjen Nanan Soekarna itu ketua Ikatan Motor Indonesia, apa bisa disebut Ketua Geng Motor? Ya ndak to? Walaupun banyak masyarakat ngritik bahwa perilaku sebagian anggota pengendara motor besar di jalan raya kerap kali arogan dan koyok yak-yako.

Yang jelas-jelas ugal-ugalan ya para raksasa pengendara sepeda montor itu. Di bawah pimpinan Ditya Kala Sukra dari kerajaan Wrisaparwa, mereka membuat para dewata di kahyangan kalang kabut. Apalagi Ditya Kala Sukra berilmu gaib Sanjiwini. Bala tentaranya yang mati remuk semotor-motornya bisa dihidupkannya kembali. Sepeda montornya yang hancur pun bisa pulih bagai sedia kala tanpa perlu bantuan ketok magic dari Blitar maupun Ponorogo.

Brrrrr..Brrrr…….BRRRRRRR….

Asap knalpot berkemelut seperti kukusing dupo kumelun. Para raksasa mengencang-ngencangkan gas sepeda montornya sambil mengacung-ngacungkan tongkat, kelewang, pedang, kapak dan lain-lain. Situasi makin nggegirisi. Para dewa yang dipimpin Wrihaspati tunggang langgang. Mereka bertekuk lutut.
***

Otot dan fisik boleh sudah babak belur. Tapi kelihatannya otak para dewa belum mau kalah. Sebagian dewa kini sedang membujuk Kacha, putra pemimpin Wrihaspati, untuk berguru kepada Ditya Kala Sukra. Harapan, setelah kelak Kacha sukses meraih ilmu gaib Sanjiwini, para dewa akan kembali merebut kekuasaan dari tangan Sukra.

Anehnya, Sukra langsung mau menerima Kacha dari pihak bekas musuh sebagai muridnya.

“Kok Kacha langsung diterima melanjutkan studinya ke Sukra?” Bagong kembali bertanya kepada Gareng.

“Maksud kamu melanjutkan studi itu apa, Gong? Kamu mau tanya kenapa kok Kacha nggak ikut lebih dulu Ujian Nasional di kahyangan. Kalau sudah lulus UN baru ndaftar ke perguruan tinggi Sukra?”

Petruk nimbrung, “Lagian UN di kahyangan sudah nggak ada, Gong…”

“Apa karena banyak kebocoran, Truk?”

“Hush! Bukan karena itu. Lha bagaimana di kahyangan mau ada UN wong kahyangan sudah tidak ada, modyar oleh pasukan raksasa kerajaan Wrisaparwa…”

Sebenarnya pada zaman dahulu ada ketentuan tak tertulis bahwa guru tak boleh menolak murid. Itulah kenapa kok, misalnya, Resi Subali mau menerima Rahwana sebagai muridnya sampai kelak Raja Alengka itu berhasil memperoleh Aji Pancasonya dari Subali.

Sedikit sekali mahaguru pada masa itu yang pilih-pilih murid. Di antaranya adalah Rama Parasu. Sang Resi ini tak mau menerima murid dari kalangan ksatria. Maka Adipati Karno yang ingin berguru kepada Rama Bargawa, nama lain Nama Parasu, sampai perlu-perlu menyamar sebagai rakyat jelata.

Kacha datang menghadap Ditya Kala Sukra tanpa samaran sama sekali malah. “Aku anak Wrihaspati, cucu Resi Angiras. Aku seorang Brahmacharin yang ingin berguru kepadamu,” kata Kacha usai menyembah.

Mungkin juga lantaran Kacha adalah pemuda beraura baik dan berparas rupawan, hari itu juga Sukra menerima Kacha sebagai siswa. Ternyata, raksasa Ditya Kala Sukra yang wajahnya sangat mengerikan selain seorang guru yang baik juga seorang ayah dari gadis cantik bernama Dewayani.

Dan Dewayani ternyata bukan saja gadis yang matanya lindri anjahit dan berbulu mata tumengeng tawang. Ia pun seorang perawan ting ting yang kontan kasmaran kepada Kacha.
***
Brahmacharin adalah siswa keagamaan. Ia tidak boleh menikah dengan siapapun yang sedang dalam pengawasan guru, apalagi putrinya sendiri seperti Dewayani. Kacha selalu menolak secara halus ajakan Dewayani untuk bercengkerama.

Dibakar oleh kecemburuan yang luar biasa, apalagi sejak awal mencurigai Kacha sebagai mata-mata musuh, para raksasa kerajaan Wrisaparwa selalu berusaha menyirnakan Kacha.

Suatu hari ketika Kacha sedang angon sapi-sapi gurunya, mereka membunuh Kacha dan membiarkan jasadnya disantap anjing-anjing. Dewayani menangis. Sukra tak tega ke anak gadisnya. Kacha dihidupkannya kembali dengan ilmu Sanjiwini.

Pembunuhan dan penghidupan kembali itu terus berulang sampai akhirnya para raksasa tak kurang akal. Mereka bakar si Kacha. Abunya mereka campur ke minuman untuk sang guru. Ketika Sukra ingin mengidupkan kembali Kacha atas tangisan Dewayani, terdengar suara Kacha dari dalam tubuhnya sendiri.

Buah simalakama: Agar Kacha dapat hidup lagi dan dapat keluar dari raga Sukra, Sukra harus mati. Sukra tahu betul tentang konsekuensi itu.

Bagaimana cara mengatasi buah simalakama itu?

“Gampang. Suruh saja Sukra mengajarkan ilmu Sanjiwini kepada Kacha di dalam tubuhnya sendiri. Kacha keluar. Sukra mati. Kacha lalu menghidupkan kembali Sukra,” tulis seorang siswi dalam jawaban esai non-Ujian Nasional. Namanya Siti Fadilah, mirip nama mantan menteri kesehatan yang kini sedang mendapat ujian di tengah hakim jujur sekaliber Pak Bismar Siregar sudah tak ada.

“Berarti Geng Motor hidup lagi?” tanya Bagong pas di exit tol Gunungsari.