Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 156 Satrio Boyong Pambukaning Aib

18,846 Views

STcartoon1Rambutnya gondrong. Persis Gus Maksum alias KH Maksum Djauhari dari Kediri zaman almarhum masih sugeng. Bukan cuma sama dengan rambut panjangnya yang lurus. Slederangannya termasuk kumis tipisnya plus gayanya kalau bicara wah jan persis tenan dengan cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Abdul Karim itu.

Sang pemuda bertanya tentang sastra kuno berbentuk kakawin. Dalam kakawin Arjunawiwaha siapakah yang dimaksud “Dia” yang ambek sang paramarta pandita yaitu orang yang sungguh-sungguh bijak? Dalam kakawin Bharatayuda siapakah yang dimaksud Sang Sura?

Ponokawan Gareng ndak njawab langsung pemuda mirip Gus Maksum itu. Gareng cuma bilang, Arjuna Wiwaha dan Bharatayuda karya sastra berbentuk kakawin paling kuno di Jawa Timur. Dan menurut sastrawan di masa itu, Mpu Panuluh, seluruh karya sastra pada masa dia berkisah tentang sang raja. Bukan tentang rakyat.

“Kowe ngomong waton njeplak? ” celoteh Bagong, adik Gareng.

“Buktinya ada kok Gong,” Petruk menengahi. “Mpu Panuluh terang-terangan dawuh dalam kitabnya, Hariwangsa, bahwa karya-karya sastra nduk masa itu dipersembahkan kepada raja …”

“Hmmm…kalau menghitung era penciptaannya,” kesimpulan si pemuda, “mungkin Dia dalam Arjunawiwaha itu Prabu Airlangga. Sang Sura dalam Bharatayuda itu Prabu Jayabaya?”

Gareng manggut-manggut. Hening. Ia lantas mengajak semuanya beranjak dari pintu Pasujudan di Makam Sunan Gunung Jati. Pintu Pasujudan alias Sela Matangkep adalah pintu ketiga pada petilasan di kaki Gunung Sembung itu, setelah pintu Gapura dan pintu Krapyak.

Dari pintu ketiga mereka bergerak menuju pintu keempat Ratnakomala, selanjutnya pintu Jinem, pintu Rararoga, pintu Kaca, pintu Bacem sampai terakhir pintu kesembilan Teratai. Biasanya para pengunjung hanya diperbolehkan sampai Sela Matangkep, nama yang juga dipakai untuk gerbang kahyangan Batara Guru.

Kok boleh sampai gerbang kesembilan? Ya, mungkin karena yang menjadi pemandu mereka adalah Gareng alias Cakrawangsa. Cakrawangsa yang berarti pengikat tali persaudaraan adalah orang biasa tetapi sesungguhnya tak benar-benar orang biasa.

***

Menjelang pintu Teratai petilasan di kawasan Cirebon itu sang pemuda kembali bertanya, mengapa jumlah gerbang makam Sunan Gunung Jati ada sembilan.

“Ya ndak tahu,” jawab Gareng. “Tapi angka itu sama dengan jumlah ponokawan di Cirebon. Sembilan orang, tidak empat orang seperti di Jawa Tengah dan Jawa Timur.”

“Apakah dalam ramalan Jayabaya juga ada sembilan tahap agar Nusantara kembali mempunyai raja sekualitas Prabu Airlangga?” tanya si pemuda.

“Ramalan Raja Kediri Jayabaya tentang pemimpin saya juga tak tahu banyak, Kisanak,” jelas Gareng. “Tapi kalau penerusnya, tokoh dengan spirit sama dengan Jayabaya, yaitu Ronggowarsito, saya sedikit tahu.”

Sastrawan dari abad ke-18 itu, demikian Gareng, meramalkan adanya tujuh jenis satrio piningit yang akan memimpin Nusantara. Sekarang pemimpinnya jenis keenam, yaitu Satrio Boyong Pambukaning Gapuro.

“Artinya satrio inilah yang akan membuka jalan bagi munculnya pemimpin baru, satrio piningit ketujuh, yaitu Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu,” Bagong nyeletuk.

Tapi pemuda mirip Gus Maksum itu berkernyit. Di pintu Teratai makam Sunan Gunung Jati itu seakan dia tersentak oleh sesuatu sehingga tak mempercayai keterangan Bagong. Baginya, tiba-tiba, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro tidak bermakna pemimpin yang membuka gerbang bagi kedatangan pemimpin baru.

“Bagiku maksud Satrio Boyong Pambukaning Gapuro itu justru satrio yang membuka gapura untuk terungkapnya aib seluruh bangsa. Coba sekarang pikir, aib apa saja yang tidak mulai terkuak pada bangsa ini,” pikir sang pemuda.

***

Di makam Sunan Gunung Jati yang berada satu cungkup dengan makam beberapa tokoh lain seperti Fatahillah, Syarifah Muda’im, Nyi Gedeng Sembung dan lain-lain itu si pemuda mirip Gus Maksum jadi teringat Sisupala, Raja Cedi.

Dialah Satrio Boyong Pambukaing Gapuro yaitu yang membuka gapura aib semua orang sampai akhirnya aib sendiripun terkuak. Dalam lakon Sesaji Rajasuya Sisupala membuka aib bahwa Pandawa adalah anak-anak tidak sah Pandudewanata. Mereka semua lahir dari kekasih gelap Kunti, istri Pandu. Dari Dewa Darma lahirlah Yudistira. Dari Dewa Bayu lahirlah Bima. Dari Dewa Indra lahirlah Arjuna.

Sisupala pula yang membongkar aib Bisma, pepunden kaum Pandawa dan Kurawa. Menurutnya Bisma alias Dewabrata tak layak dihormati oleh karena lahir dari perempuan yang dikutuk pastu oleh dewata, yaitu Dewi Gangga. Dan seluruh bayi yang keluar dari rahim Gangga bukanlah anak Prabu Santanu, suaminya. Semuanya adalah arwah-arwah kutukan dewa yang mencari pembebasan melalui jalan keluar gua garba Gangga.

“Kalau Kresna?” tanya ribuan khalayak yang hadir pada upacara Sesaji Raja Suya itu.

“Apalagi Kresna,” lanjut Sisupala. “Ia sebenarnya tidak berdarah biru. Ia adalah anak Basudewa dan Basudewa tak lain sesungguhnya adalah budak Prabu Ugrasena!!!!”

Sudah tentu itu belum seluruh aib. Aib-aib yang terlalu teknis seperti korupsi dan lain-lain masih banyak yang diungkapkan oleh Sisupala tapi mungkin kurang pas untuk bacaan di hari Minggu.

***

Akhirnya aib Sisupala terkuak sendiri di khalayak ramai. Ternyata ibunya, Dewi Sruta, permaisuri Prabu Darmagosa, Raja Cedi, kerjaannya ngintip orang mandi. Pas seorang resi mandi dia merasa ada yang mengintip. Spontan muncul kutukan resi itu, Resi Hudaya, “Siapapun yang mengintip aku, kelak akan punya anak yang tak sempurna!”

Lahirlah Sisupala yang bermata banyak. Bayi ini akhirnya bermata normal sepasang ketika pada selamatan selapan atau 35 hari dipangku oleh Kresna.

Gerimis dan malam kemudian turun di makam Sunan Gunung Jati. Cakrawangsa melihat sorban pemuda mirip Gus Maksum itu pun basah …