|
Drama-Wayang Semar Mesem 17 November (1) |
|
Ditulis Oleh Sujiwo Tejo
|
|
Selasa, 23 Oktober 2007 |
|
Abis nerbitin album musik keempat “Presiden Yaiyo”, dalam posisi sekarang, tanggal 22 Oktober 2007, saya, Prof. Dr Sujiwo Tejo alias Presiden Yaiyo belum punya duit sepeserpun buat…o Ya gelar saya tadi masih ada lagi, MPH, MSC, M. Eng…buat pementasan Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem 17 November di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Tapi saya sudah bertekad bahwa pementasan di Jalan Pasar Baru Jakarta itu jadi. Sore buat mahasiswa dan kalangan yang agak kurang mengandung duit. Malam buat yang sangat mengandung duit. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ada Bintang di sebelah kanan Sujiwo Tejo.... |
|
Ditulis Oleh Gideon Momongan
|
|
Selasa, 04 September 2007 |
|
Ada Bintang di sebelah kanan Sujiwo Tejo....
Ya memang seperti "tangan kanan"nya begitulah kira-kira. Semacam orang kepercayaan begitukah? Tak lebih tak kurang. Kalau Tejo lantas menjadi sosok "Presiden" YAIYO, sebut saja yang di sebelah kanannya sebagai "Menhankam/Pangab "(sekaligus mungkin Menlu ad interim, boleh ya?) |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Gideon Momongan
|
|
Sabtu, 01 September 2007 |
|
Ini cerita sebuah cover, alias sampul muka. Teramat penting memang posisinya, sangat dihargai dan diutamakan. Paling tidak mewakili isi dalam sebuah album rekaman, juga buku atau barang apapun. Cover bias juga pembungkus memang… Kali ini memang soal cover ebuah album rekaman. Dan bukan sebuah album rekamn biasa, maksudnya “musik yang biasa-biasa” saja. Ini album rekaman seorang seniman Sujiwo Tejo. Multi instrumentalis. Pelbagai aktifitas seni sudah dilakoninya. Seperti apa baiknya cover album rekaman seorang seniman “sekelas” Sujiwo Tejo? Itu dasar pemikirannya. Maka tiga orang asyik melempar ide, dengan argumentasi masing-masing. Semua sebenarnya ujung-ujungnya kepengen dapat memancing orang untuk membeli album rekaman ini. Lantas, kita akan “grab” pasar yang mana sih? |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Yang Berguna untuk Umat Manusia |
|
Ditulis Oleh Sujiwo Tejo
|
|
Minggu, 05 Mei 2002 |
|
Diunggah oleh ARAGOS Cerpen Dimuat di Suara Pembaruan 05/05/2002 Saya selalu merasa tak habis berhutang budi kepada pencetus demokrasi. Tanpa demokrasi, tidak akan ada pemilu. Tanpa pemilu, tidak mungkin aku berpeluang lagi dengan perempuan yang dulu itu pacarku. Rambutnya panjang bergelang kaki Senyumnya panjang bermata putri Bau lehernya Warna suaranya.
Tadinya aku berpikir demokrasi cuma berguna buat Ono, tetanggaku di Sragen. Sudah setahun lebih lelaki ceking asal Jombang itu pusing, karena tikus-tikus tak pernah bisa dibasmi dari rumahnya. Baru setelah di lorong depan rumahnya melintas warna-warni pawai kampanye aneka partai, lengkap dengan gemuruh beduk, tambur dan simbal serta pekik-pekik massanya, lenyap seketika tikus di rumah Ono. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 10 - 13 dari 13 |