AREA 2007 - 2008

Psikolog itu Bernama Karaoke

2,512 Views

Tak banyak pengalaman saya berkaraoke. Tapi bagi orang yang bekerja di dunia kesenian, kegiatan masyarakat dari luar kesenian ini mengesankan. Ibarat rumah saya kesenian, saya selalu merasa dikunjungi tamu-tamu yang dulu-dulunya tak pernah mampir, setiap menyaksikan anggota masyarakat asyik berkesenian lewat karaoke.

Dan itu mengharukan. Mengharukan mendapati tamu-tamu yang sehari-hari bekerja di luar kesenian, tiba-tiba di dalam karaoke ia ekspresikan suara dan gaya tubuhnya. Katakanlah ekspresi yang sehari-hari tak tercetus dalam pekerjaan di dunia minyak, bursa saham, asuransi, MLM, sektor konstruksi, dan lain-lain.

Ibarat dunia kesenian itu nangka, mengharukan juga menyaksikan para tamu bahagia makan nangkanya. Biarkan mereka menyangka bahwa kesenian itu yang enak-enak saja. Ndak papa. Toh dunia kerja sehari-hari mereka sudah sangat melelahkan dan bikin jemu.

Biarkan soal getah nangka dan segala rasa pahitnya cuma ditelan oleh seniman sendiri ketika awal-awal membangun rumah keseniannya. Bahwa misalnya, menjadi penyanyi, penulis lagu dan pemusik itu prosesnya jatuh bangun dan getir. Mempertahankan kesenimanan, apalagi.

Menyaksikan tamu-tamu yang cuma kebagian lezatnya, yang dengan merdeka melantunkan tembang di depan kawan-kawan dan keluarganya, tanpa kritik dewan juri, tanpa penolakan halus maupun kasar pihak produser rekaman, bukankah itu mengharukan sekaligus indah…sangat sorgawi?

Tapi, soal karaoke, sebetulnya saya lebih tertarik menyaksikan ekpresi tubuh para pelantun lagu ketimbang suaranya. Saya mendapati banyak orang yang kira-kira baru keluar ekspresi jujurnya saat di karaoke yang bahkan tak mau ia tunjukkan di depan psikolog maupun psikiaternya.

Pernah suatu hari saya disuruh ngasih workshop akting di Palembang dan salah seorang panitianya, termasuk yang antar-jemput, bernama Pak Jimmy, lelaki paruh baya yang kabarnya menghabiskan masa mudanya di hutan dan hidup dari kayu. Orangnya pemalu. Sedikit minder-minder. Ternyata jauh bumi dari langit ketika Pak Jimmy berkaraoke.

Mendadak dia jadi ramah kepada ibu-ibu sesama panitia yang belum akrab dikenalnya. Saya inget betul adegannya. Kami, tiga mobil, diantar mampir ke rumahnya, rumah sekaligus warung kwetiau Jambi. Penerangan cuma dari neon yang pucat.

Pak Jimmy masih malu-malu. Lantas dia stel karaoke. Nyari-nyari CD di laci-laci tua. Ia pegang mik lantas menyanyi. Wah…

Matanya langsung menatap ibu-ibu satu persatu dalam alunan nyanyiannya. Dan seingat saya pandang matanya sangat romantis dalam samar-samar cahaya neon di Sumatera.

Waktu ke Solo naik kereta, saya berdiri di bordes karena pengin merokok. Tiba-tiba pramugara yang lewat minta saya berkaraoke di restorasi. Saya cuma nyanyi satu lagu. Lantas mulailah ruang dan waktu buat pramugara itu, yang kalau di gerbong santun serta penuh tata krama.

Di dalam karaoke, ia mendadak sudah bukan pramugara kayak gitu itu. Pundaknya meliuk-liuk. Matanya kadang mengernyit. Tengadah. Tunduk. Senyum-senyum dan kadang membuat air muka iba.

Ekspresi itu mahal, karena kurang bisa ditampung di dunia kerja sehari-hari yang penuh duit.

Temuan ipod dan SMS kerap dibilang sebagai fenomena milenium ini. Mungkin ketika sedang bikin pernyataan itu, sang tokoh lupa satu hal lagi: karaoke.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA edisi No. 87, tanggal 14 Mei 2007)