AREA 2007 - 2008

Usang “and” Anyar

4,616 Views

Setiap hal baru, meski bukan tahun, selalu menimbulkan sensasi. Kita pernah dengar ungkapan “Sapu baru menyapu bersih”.

Maka kalau ada bos baru kepolisian, banyak yang berharap agar perjudian dan perdagangan minuman keras dioperasi.

Harapan selalu timbul pada hal baru. Begitu juga pada Presiden Barack Obama, maupun presiden baru yang terpilih di tempat lain pada penghujung 2009 nanti.

Kehadiran guru baru pun membuat kita mulai siap-siap dengan perilaku baru. Entah siap-siap lebih rajin. Entah siap-siap nggak nyontek lagi kalau ujian.

Temen saya malah ada yang unik tentang kebaruan itu. Bukan bau kemenyan yang membuatnya bergairah. Bukan pula aroma kembang setaman.

Katanya, di alam raya ini cuma ada dua bau eksotis. Yaitu, bau perempuan yang baru dandan. Dan bau interior mobil baru.

Hal serupa juga berlaku buat sesuatu yang tak baru tapi dibaru-barukan. Contohnya ketentuan tentang larangan merokok di tempat-tempat umum di kawasan Jakarta.

Pertama peraturan itu diundangkan, kita sering melihat sosialisasinya melalui berbagai media massa. Kita pun menyaksikan banyaknya warga, terutama pegawai negeri, yang diciduk petugas tata tertib karena merokok di perkantoran.

Waktu berlalu. Sutiyoso sebagai gubernur di era larangan merokok di tempat umum itu pun berakhir masa jabatannya. Tampil berkutnya Fauzi Bowo.

Warga mulai lupa larangan merokok. Baru sebulan lalu peraturan ini digebrakkan lagi oleh pemerintahan Fauzi Bowo. Banyak sopir-sopir angkutan kota di Grogol yang kena razia saat merokok di kendaraan umumnya

Tahun baru rasanya lebih mirip peraturan merokok itu ketimbang bos polisi baru, guru baru, maupun mobil baru. Tiga hal terakhir ini memang betul-betul baru. Tahun baru sebenarnya barang lama, tapi digebrak-gebrakkan sebagai hal anyar.

Intinya sama. Membaru-barukan hal lama. Mau pergantian tahun itu diberi nama Old and New, Le Saint-Sylvestre…dan lain-lain. Mau Tahun Baru itu terjadi di bintangnya kota tahun baru di Australia yakni Sydney dan Melbourne.

Kalau saya pikir-pikir, massa matahari yang terbakar sebagai energi dan menjadi cahaya, makin lama kan makin berkurang ya? Coba, itu sudah berapa juta atau milyar tahun?

Tapi orang-orang di bumi tetap merayakannya sebagai kebaruan Tahun Matahari. Mengapa orang-orang di bumi nyaris tak ada yang merasa bahwa setiap mereka merayakan tahun baru, sejatinya mereka sedang “meniup lilin” seraya mengucapkan tahun baru kepada seseorang yang bertambah tua yang bernama Pak Surya.

Pada saat perayaan penyambutan tahun baru, umumnya yang timbul adalah harapan baru….harapan baru…harapan baru…tanpa perasaan sedikit iba betapa telah makin tuanya Pak Surya bersama kita.

Demi harapan baru pada Tahun Matahari, Julius Caesar sampai memperpanjang kalender sebelumnya selama 445 hari sehingga Roma yang biasanya bertahun baru akhir Maret bisa ikutan 1 Januari pula.

Kalau mau optimistis sih gini…Justru perayaan tahun baru adalah pelajaran bagi kita semua agar selalu punya harapan baru terhadap sesuatu yang sebenarnya telah makin usang…misalnya suami atau isteri, anak, pekerjaan, tanah air dan sebagainya.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 44, tanggal 17 Desember 2008)