AREA 2007 - 2008

“Where Have All the ‘Orang-orang Padang’ Gone?”

1,291 Views

Saya punya temen. Insinyur elektro. Tapi ia Padang. Tahu kan maksud saya? Yup, ‘tul. Di awal-awal tumbuhnya mal di negeri ini, ketika semua harga jadi pas bandrol, dia punya komentar menarik. “Matilah tradisi tawar-menawar kita,” katanya.

Buat dia, ternyata, tawar-tawaran tak cuma tarik-ulur harga. Lebih mendasar ketimbang itu, tawar-menawar adalah komunikasi. Itulah inti penjajaan produk ketika suatu komoditas belum dipasangi harga pas. Dasar orang Padang, ya?

Tapi saya kemudian seperti dibawanya keluar Sumatera Barat. Bukankah tradisi nego harga juga tumbuh di berbagai penjuru Nusantara? Saya jadi teringat Sumenep pada tahun-tahun SM (bukan Sebelum Masehi tapi Sebelum Mal). Ah, tetapi Makassar juga. Denpasar. Semarang. Yogya. Sala. Bandung. Banda Aceh. Serang. Dan sebagainya.

Pola komunikasi tawar-menawar ini bisa jadi mekanisme penyaring kelas masyarakat. Di kalangan pedagang, mereka yang suka tak menjawab penawaran nekad dan murah, apalagi pakai merengut dan buang muka, sudah pasti ditinggalkan pembelinya. Di kalangan pembeli, ada tempat khusus dalam lingkungan keluarga bagi anggotanya yang lihai menawar.

Sebelum zaman pas bandrol itu, mekanisme tawar-menawar juga bisa dijadikan tolok ukur. Sejauh mana masyarakat, pembeli dan pedagang, masih menyepakati simbol-simbol budaya lokal. Hak-hak khusus semacam prerogatif bagi presiden juga berlaku bagi produk dan transaksi tertentu.

Pedagang pusara dan batu nisan sudah pasti mikir beribu kali buat menjajakan dagangannya. Karena dia tahu masyarakat tak boleh atau pamali menawar jenis produk ini. Masyarakat pedagang kaki lima dalam area wayangan sudah tahu, makanan harus gratis jika buat dalang yang tiba-tiba kelaparan di tengah pementasan.

Anak kiyai, anak pandita, anak tokoh-tokoh agama harus dapat perlakuan harga khusus (anak pejabat tak termasuk). Sering kali kaum pedagang pantang tidak gratis pada darah-daging orang khusus itu. Sama halnya, demi urusan pelarisan, mereka akan pantang pasang harga fixed pada pembeli pertama.

Untung sebagaimana umumnya proses kebudayaan. Semua berputar seperti cakra manggilingan. Orang kembali tertarik mengunjungi pasar-pasar yang pake tawar-ria.

Taman Puring di kawasan Kebayoran Baru kian marak. Orang-orang mulai melirik belanja di KRL Jakarta-Bogor. Harganya tergantung waktu dan tempat. Makin sore dan makin dekat Bogor, dagangan kian murah.

Di Pasar Pagi, asal pintar nawar, parfum kabarnya bisa sampai selisih 50 persen ketimbang di mal. Belum lagi di Pasar Uler. Komunikasi lengkap sudah di kawasan sempit ini. Karena selain ada komunikasi mulut, juga ada komunikasi badan saking desak-desakannya manusia. Ini belum lagi kalau kita sebut tempat-tempat serupa di New York, Seoul, Amsterdam dan lain-lain.

Mal emang masih ada. Dan terus kian gede-gedean. Tapi sekarang, sekali-sekali kalau terpaksa pergi ke mal, saya selalu terkenang kata-kata insinyur but Padang itu. Harga-harga final udah terpasang. Komunikasi dengan penjaja paling banter ya senyam-senyum.

Suasananya jadi dingin. Situasinya jadi seperti melihat kumpulan manusia kini. Seseorang berpidato. Khalayak tak memandang yang berpidato. Semua tunduk baca teks pidato yang sudah disebarkan oleh panitia. Pidatonya jadi harga pas. Tak lebih, tak kurang dari naskah yang telah diedarkan seperti bandrol. Ndak asyik.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA edisi No. 94, tanggal 28 Agustus 2007)