AREA 2007 - 2008

Twiggy dan Durga di Mall

3,725 Views

Gerakan balik ke akar budaya sendiri sebetulnya ndak usah kampanye-kampanyean. Buku Global Paradox John Naisbitt masih kerasa ada di kenyataan. Globalisasi bakalan otomatis dilawan deh oleh pernyataan lokal. Lagu-lagu bule digerilya oleh ’Bang SMS’ (SMS) dari Padang dan musik campur sari dari Sala.

Dalam pernyataan baju-berbaju, kita masih bisa sebut perancang yang hirau tradisi. Sebut di antaranya Samuel Wattimena, Eduard Hutabarat dan Iwan Tirta. Dalam pernyataan makan-memakan, tumbuh banyak restoran dengan menu dan interior tradisional.

Ah, ada lagi. Belakangan seorang anak muda di Malang bikin restoran dengan menu dan interior Jawa. Sudah itu pelayannya masih pakai bahasa Jawa tinggi (kromo inggil). Lagi, sudah itu di dalam restorannya juga ada museum kecil-kecilan.

Alasan pemuda penuh vitalitas ini, ”Sekarang suasana museum terlalu serius. Sepi. Kurang menarik minat pengunjung.”

Jakarta kalah ama Malang? Bisa aja saya yang belum tahu secara ada museum kayak gitu di Ibukota. Yang pasti dua bulanan lalu saya kedatangan mahasiswi arsitektur Trisakti buat diajak ngobrol soal pembangunan museum wayang (pakai honor kue donat).

Dia bukan orang Jawa lho. Dia keturunan Tionghoa. Tertarik ama wayang setelah lihat komik Jepang (manga). Lantas gadis mungil ini yakin, di Indonesia wayang mestinya bisa populer kayak manga.

Saya sendiri malah nggak kepikir museum wayang. Dua tahunan lalu cuma pernah rembukan kecil di departemen pariwisata ama perancang Eduard Hutabarat dan budayawan Taufik Rahzen. Kasak-kusuk bikin museum tenun, dan peraga tenunnya, yang menyatu dengan mall.

Tapi siapapun yang punya ide soal museum wayang dan museum apapun, mau yang punya ide etnisnya selingkup dengan idenya maupun tidak, yang penting ide kembali ke akar selalu ada. Pakai kampanye atau nggak.

Ya, kalau pakai kampanye, mungkin gerakannya lebih cepat dan lebih mungkin jadi nyata. Museum akan lebih konkret dibikin menarik. Pengunjung banyak bakal lebih terhimpun.

Nanti tak semua laki-laki cari perempuan yang kerempeng model Twiggy atau Barby yang simbol kecantikan. Karena museum Mpu Tantular di Surabaya menunjukkan, akar budaya kita tak cuma punya satu ukuran jelita.

Artinya, kalau Anda emang cinta cewek yang tampak lemah, kenapa malu. Itu ada tipenya: patung Prajnaparamita. Cinta yang agresif dan berotot, ndak usah jaim, ada Durga Mahisasuramardhini. Cinta ama yang ndak suka dandan, rambut acak-acakan, ada juga tipenya. Saya lupa namanya. Sori. Makanya datang ke museum. Bahkan cinta ama yang tidak cantik, gemuk, ndak usah sungkan. Ada tipenya kok: Parwati.

Jadi nantinya para perempuan juga tidak harus stress secara memperkurus diri gitu. Capek deh… Dengan back to the roots, perempuan bisa tampil apa adanya. Karena setiap tipe ada yang menggandrungi. Tak harus bagai Twiggy, model Inggris yang tahun 1965 sewenang-wenang menggebrakkan cuma satu ukuran ayu: Kerempeng.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA edisi No. 83, tanggal 21 Maret 2007)