Orang kota individualis? Orang dusun lebih kompak? Ah…soal dusun dan zaman baheula kita gotong-royong itu cuma slogan. Di kampung saingan malah gila-gilaan. Di kota jarang orang tahu televisi kita merk apa. Orang dusun bisa saling tahu isi rumah pihak lain sampai soal bumbu dapur.
Sumbangan buat orang punya hajat bukan gratis. Ada itung-itungan dan catatannya. Impas kelak kalau yang nyumbang ganti punya hajat. Buku yang kini hampir rampung digarap temen saya, Dr. Sukardi Rinakit, juga bilang, kegotong-royongan kita dari dulu cuma slogan
Jadi ndak usah minder ama orang kampung. Kegotong-royongan kita orang kota, sedikit banyak, malah masih ada kok. Bukan cuma info pendengar radio via telepon tentang kawasan di Jakarta yang tergenang air. Tanpa ada peristiwa spesial macam banjir, banyak info gratis kita dengar di radio dari pendengar lain. Itu sejak soal kemacetan lalu-lintas, penanggulangan demam berdarah, flu burung, sampai tempat-tempat diskon.
Begitulah hati nurani kota, meski di permukaan kita tampak galak dan selfish. Misalnya dari cara nyetir mobil yang kayak developer, nggak bisa lihat lahan kosong. Saya belajar memahami ini dari Errol Jonathan, tokoh radio yang juga pemikir di radio Suara Surabaya. Ini salah satu pioner radio yang mengembangkan telepon interaktif dengan pendengar. Temen Surabaya ini bilang, di depan mata orang kota mungkin diem aja lihat orang lain kecopetan atau kebakaran. Tapi mereka angkat telepon ke radio.
Banjir belum lama ini juga masih kasih lihat sedikit-banyaknya sanubari kota. Memang tidak semencuat artis Adjie Massaid sebagai pahlawan banjir 2002, tapi masih banyak kaum berada nyumbang yang lagi butuh. Itu termasuk yang bukan selebriti. Saya jadi ingat tahun 1998, ketika mahasiswa pada nginep di gedung parlemen, banyak anggota masyarakat nyumbang makanan ke para penginap.
Kalau orang muda kota lebih banyak tampak nongkrong di kafe-kafe dan dugem, jangan lantas disebut ndak mikir masyarakat. Zaman pergolakan politik menjelang Pak Harto lengser, mereka juga lebih banyak kongkow-kongkow di kafe-kafe dan gedung-gedung pementasan kok. Tapi mereka masih peduli orang lain. Artinya punya sense politik juga. Cuma ndak cocok aja ama jalan hidup partai dan tokoh-tokohnya. Bosen dan cenderung nggak percaya. Mereka pengin hadir berguna buat banyak orang, tapi dengan cara mereka sendiri.
Ya. Beberapa saya kenal. Termasuk yang bikin sekolah gratis. Saya jadi inget Soe Hok Gie yang tak frontal melawan arus politik tahun 60-an itu. Tapi bikin kelompok studi, bikin kelompok pecinta alam, mutar film lalu mendiskusikan gagasan-gagasannya, sambil juga kritis terhadap ulah kebohongan politisi.
Apakah dalam rangka Oscar baru saja ini kehidupan mereka akan difilmkan seperti Mira Lesmana bikin Gie? Wah, film perlu duit gede. Minimal Rp 9 M. Padahal kebanyakan penonton bioskop bukan kalangan yang nongkrong di kafe-kafe, tapi orang-orang yang masih bermental dusun, terutama secara suka kleniknya. Mereka belum tentu suka tema ini.
(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA edisi No. 82, tanggal 7 Maret 2007)