Pernah Gareng, Petruk dan Bagong, jujur apa adanya ketika masih bocah. Mereka blak-blakan tanpo tedeng aling-aling. Ada telepon krang kring halo-halo tengah malam pun, pokoknya pas Semar ada ya mereka bilang ada. Padahal Semar lagi capek atau lagi kerokan. Akibatnya malam-malam itu Semar men-tut wuri Raden Arjuna entah ke pacarnya yang sebelah mana. Habis itu Semar ambruk. Semingguan ia masuk Unit Gawat Darurat.
Anak-anak kapok.
“Eh, tole, leto, jujur itu penting. Tapi yang lebih penting adalah wicaksono,” begitu para ponokaan mengenang pesan-pesan sudarma alias bapaknya.
Artinya demi kebijaksanaan, bohong sedikit-sedikit malah dianjurkan. Begitulah ketika ponokawan itu akhirnya dewasa dan masuk partai. Mereka terus-menerus berbohong setiap hari kepada masyarakat. Termasuk soal Nazaruddin, Neneng, Nunun dan sebagainya. Akhirnya mereka ndak tahan.
“Mungkin karena hari lahirmu itu pasaran Pon, Gareng,” terawang Togog, pakde mereka. “Orang yang punya weton Pon memiliki sifat kayu. Lentur, tetapi keras. Selama ini kamu ikut-ikutan luwes ngapusi masyarakat soal Century, Lapindo dan lain-lain…Tapi akhirnya kamu keras juga. Bagus. Orang Pon itu salah-salah kalau ndak jadi kayu rapuh ya jadi kayu bakar…Kamu harus memilih.”
Hmmm…Hidup akhirnya memang soal memilih. Sama halnya kalau dari Surabaya mau ke Pacet, kita harus memilih mau lewat Sukodono apa Kalitengah. Ndak bisa mau semuanya.
Gareng pun sudah memilih. Tak ingin menjadi kayu rapuh maupun kayu bakar, akhirnya Gareng keluar dari partai politik. Petruk dan Bagong juga memilih mengikuti langkah kakaknya itu. Nganggur selama hampir sewindu akhirnya mereka punya ide jalan hidup yaitu memilih menjadi pembikin kartu lebaran.
***
Ide bikin kartu Lebaran bermula dari protes seseorang di Kembang Sore. Bukan Kembang Sore dukuhnya Petruk. Tapi Kembang Sore, Kalangbret wilayah Tulungagung, yang dipercaya sebagai makam Pangeran Lembu Peteng. Perempuan itu protes karena kok isi SMS/BBM Lebaran hampir sama semua. Kadang isi ucapan Lebaran yang kita kutip dalam SMS, balik lagi dari SMS orang lain dengan kutipan yang sama. Karena kawasannya ada hubungan dengan Lembu Peteng yang gaib, protes perempuan itu diperhatikan.
“Yok opo kalau kita hidupkan lagi budaya kartu Lebaran?” usul Petruk dari Kembang Sore. “Keluarga tukang pos akan kembali sumringah. Apalagi Presiden SBY dan Nazaruddin sudah surat-suratan. Tidak email-emailan atau SMS/BBM-an. Ini menunjukkan bahwa kedua tokoh itu peduli pada kembali bangkitnya jasa tukang pos..”
“Setuju!” Bagong menimpal. “Martabak aja ada spesialnya. Ucapan Lebaran malah umum semua, ndak spesial ditujukan ke siapa. Bikin bosen. Menjengkelkan.”
Petruk nambahi, “Lagu Mr Postman dari Beatles akan kembali ramai di radio-radio…”
Gareng senang, “Iya.Iya. Bener. Kalau kartu Lebaran kan pakai nama si alamat, ya? Penerimanya akan senang namanya disebut. Apalagi ada tanda tangan kita. Ada sentuhan pribadi…SMS broadcast ndak semulia itu.”
Hmmm.., hidup memang soal memilih.
Mereka lantas memilih untuk tidak mencetak kartu Lebaran secara massal. Mereka mengisi satu per satu kartu Lebaran dengan tulisan tangan. Isi kalimatnya pun berbeda-beda. Dari produksi kartu Lebaran ponokawan, tidak mungkin ada dua orang bahkan lebih yang menerima kata-kata serupa. Konsumen senang. Seakan dapat “tuah” dari Lembu Peteng, pembeli kartu Lebaran ponokawan tak cuma dari Kembang Sore, Tulungagung.
***
Prabu Duryudana sang Raja Astina sedang berpesiar di Tana Toraja. Sejak tujuh tahun lalu ia punya tradisi mematikan HP saat Lebaran. Ia takut marahnya kambuh karena membaca ucapan SMS/BBM Lebaran yang umum dan sama bagi semua orang. Mana tak ada nama si alamat lagi. “Memangnya aku ini apa? Sembarangan disama-samakan dengan semua orang!!!?” hardiknya sambil membanting HP.
Kalau sudah marah, Duryudana suka aneh-aneh. Ia lantas pergi tanpa rencana ke berbagai kota. Pengawal dan iring-iringan pun panik. Akibatnya seluruh kota menjadi macet. Ia meninjau panen sawah-sawah di negaranya. Rakyat menggerutu. “Sudah bikin macet, datangnya juga pas panen saja…Mbok kalau emang cinta petani datanglah pas cocok tanam gitu lho…Merasakan susahnya proses…” begitu antara lain gerundelan warga.
Tak ingin terus-terusan dirasani warga, Prabu Duryudana menghindari marah antara lain dengan mematikan HP pas Lebaran. Kini di Tana Toraja ia senang menerima banyak kartu Lebaran termasuk dari Pandawa. Tak heran karena Pandawa terhitung adik Duryudana dalam silsilah darah Bharata. Yuniorlah yang harus mengirim kartu ke seniornya.
****
Yang lebih membuat Prabu Duryudana bahagia, ternyata cuplikan-cuplikan kalimat dari ribuan kartu Lebaran itu membentuk ajaran yang utuh. Semuanya berkat jasa paniti sastra Kartamarma yang dengan tekun menyusun urut-urutan kartu. Salah satu bagian ajaran itu berbunyi demikian:
Suluk Saloka Jiwa karangan Ronggowarsito bercerita tentang Dewa Wisnu. Kali ini ia tidak menitis sebagai Prabu Kresna dalam Mahabarata. Kali ini ia menyamar sebagai Syekh Suman. Ia mengembara sampai ke Turki. Di negeri kaum makrifat itu Syekh Suman belajar tasawuf kepada dwija alias guru Umar Syekh Najid. Sepulang ke Nusantara Syekh Suman menjalarkan agama yang penuh kedamaian dan maaf-memaafkan, yang memayu hayuning bawono seperti misi Wisnu dalam pedalangan.
Agama menjadi terkesan galak dan beringas ketika manusia sudah melupakan Sedulur Papat Lima Pancer. Artinya empat saudara dalam satu jati diri. Yaitu kakang kawah (ketuban), adi ari-ari (pasenta), ponang getih (darah) dan puser (pusat). Ketuban berkehendak atas nama-Nya. Plasenta memayungi kehendak itu. Darah melaksanakan kehendak itu. Sebagai kendali pelaksanaan kehendak adalah pusat.
“Apakah ini ajaran baru?” tanya Prabu Duryudana ke Kartamarma. Keningnya mengernyit, tanda belum paham sepenuhnya pada ajaran dalam kumpulan kartu Lebaran. Tapi di hatinya sudah terbersit ingin minta maaf pada musuh-musuhnya termasuk Pandawa.
“Duh, Gusti Prabu. Menurut saya ini bukan barang baru. Sudah lama saya mendengarnya dari Sunan Kalijaga ketika meng-Islam-kan tanah Jawa. Harap Paduka maklum, Ronggowarsita yang mengarang Suluk Saloka Jiwa itu pernah beguru pada Pangeran Wijil dari Kadilangu, keturunan kanjeng sunan.”
***
Ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong di dusun Petruk Kembang Sore sedang berharap-harap cemas. Adakah nafkah untuk keluarga dari pekerjaan lain usai Lebaran tahun ini? Mereka tidak tahu bahwa karya kartu Lebaran mereka punya arti sangat penting dan kini sedang dibahas di Tana Toraja.