Ibu-ibu yang lupa atau belum tahu riwayat sulih suara film-film non-Inggris di televisi kita ke dalam bahasa Indonesia, saya ingatkan atau kasih tahu…Sebenarnya saya pengin ngasih tahu yang lain, umpamanya soal harga beras…Tapi kan itu nggak pasti…
Jadi yang soal ini sajalah, lebih pasti dan lebih ada kaitan ama Imlek: Telenovela Amerika Latin itu tidak pakai tulisan teks dialog, tapi alih bahasa, karena waktu itu kita alergi pada Cina.
Cuma kan nggak enak kalau kebetulan ibu atau suami ibu duduk di kekuasaan lantas bertitah, “Heh, awas ya, film Mandarin kalau ditelevisikan mesti pakai bahasa Indonesia. Serius, nih. Film asing lain boleh pakai bahasa aslinya. Peace…” Maka turunlah ketentuan diam-diam. Sebetulnya cuma dengan satu tujuan. Ini: menghindari bahasa nasional Cina. Lantas segenap film asing non negerinya Lady Di, mesti di-dubbing. Telenovela Latin Amerika kena dampaknya.
Pasti untungnya ada juga. Terbuka lapangan kerja baru. Ada mungkin sebagian sanak-famili ibu-ibu yang dulunya luntang-lantung lantas hidup sebagai dubber. Tapi kalau dibilang ada ruginya, ya memang ada juga. Penguasaan bahasa Mandarin kita lambat.
Padahal, misalnya bahasa Inggris, banyak orang yang tak melulu kursus formal tapi pandai bahasa Inggris. Mereka belajar melalui nonton film Inggris, dengar bahasanya dan nyocokin teksnya. Novelis Dewi Lestari salah satu contohnya. Nah, kalau sejak lama kita kenal bahasa Mandarin via televisi, mungkin sekarang sudah lebih banyak orang menguasai, atau minimal punya bekal cukup buat mencari tambahan formal untuk kebisaan ber-Mandarin ria. Banyak yang lancar bicara bahasa persatuan orang-orang Tionghoa.
Imlek tahun ini bagi saya tiba-tiba tak hanya menjadi penghargaan terhadap Gus Dur, yang mulai mengizinkan perayaan Imlek secara terbuka di masa kepresidenannya. Imlek bagi saya sekarang, tiba-tiba jadi semacam pacuan untuk bertanya, sudahkah ibu-ibu merangsang putera-puteri ibu untuk belajar bahasa Mandarin.
Saya lihat minat ke bahasa Mandarin sudah mulai tumbuh, tapi masih kurang. Kita cuma punya 20 sekolah menengah maupun kejuruan yang mengajar bahasa Mandarin, yang tersebar di 9 propinsi. Padahal Amerika Serikat yang sudah adidaya saja kini punya 600 sekolah yang mengajarkan Mandarin. Ini meningkat 3 kali lipat dari tahun 2003. Siswa-siswi itu tergabung ke dalam 30 jutaan orang di seluruh dunia yang kini menggebu-gebu pengin ngomong Mandarin.
Mungkin karena Amerika sadar, sekarang saja pertumbuhan ekonomi mereka cuma sepertiga pertumbuhan Cina. Tahun 2020 Cina akan siap menjadi negara superpower. Artinya modal mereka akan meluap ke banyak negara, termasuk Indonesia. Kantor-kantor mereka juga bakal terbuka di banyak negara. Dan itu berarti meningkatnya kebutuhan akan tenaga kerja lokal terutama yang bisa cas-cic-cus berbahasa Mandarin…Eh, ndak cas-cis-cus ya? Itu kalau bahasa Inggris kan? Maksud saya yang bisa hayyya hayyya hayyya ber-Cina ria.
Jadi, bayangkan, Barat seperti Amerika saja kini merasa perlu ke-Cina-cinaan. Sementara kita masih sibuk ke-Barat-baratan.Ya, ini tergantung ibu-ibu. Ibu kan pemimpin, setidaknya di rumah terhadap anak-anak. Konon yang membedakan pemimpin dan orang yang dipimpin itu bukan otak atau keberaniannya, tapi cuma pandangan ke depannya. Pemimpin sudah melihat, apa yang belum dilihat oleh mereka yang dipimpin.
Dan ini susah. Memang. Saya pun termasuk orang yang jatuh-bangun meyakinkan anak-anak saya sendiri, bahwa, untuk penghematan, belajar formal bahasa Mandarin kini jauh lebih penting ketimbang belajar bahasa Inggris. Bahasa Jepang, ntar-ntar deh. Wong produk Cina yang masuk Indonesia tahun lalu sudah US $ 5,5 miliar. Jepang tinggal US $ 5,48 milar (padahal 7 tahun lalu nilai produk Cina yang masuk Indonesia baru sepertiga Jepang).
Dan seharusnya bahasa Inggris sudah tidak perlu les lagi. Dengan bekal dari sekolah, si anak sudah bisa memperdalam sendiri perkara Inggris melalui sumber-sumber lain yang seabrek, termasuk dari banyaknya majalah asing Inggris terbitan Jakarta. Uang bisa dihemat. Ibu-ibu bisa lebih siap mengantisipasi harga beras yang…nggak tahu kok naik terus ya? Masih mending ingus bocah, naik-naik tapi ada turun-turunnya juga.
Tantangan telah saya ucapkan. Tapi jangankan anak saya atau anak sebagian ibu-ibu yang tidak berdarah Cina langsung (karena menurut antropolog James Dananjaya orang Melayu punya garis darah dengan Cina), Melissa Karim saja, presenter dan artis yang punya darah Cina, ndak bisa bahasa Mandarin.
“Gue pengin banget, tapi nggak bisa-bisa,” katanya di rumahnya. “Salah gue juga sih karena nggak berusaha banget. Sekarang kalau ada waktu kosong gue pengin banget les lagi bahasa Mandarin.”
Sedangkan Ringgo Agus Rahman, nominasi best actor FFI untuk film Jomblo, meski belum belajar Mandarin, sudah yakin bahasa ini akan bersaing dengan Inggris. Apalagi, katanya selain itu, “Ketimbang cewek yang wajahnya Indo, saya lebih suka yang oriental. Secara kulit saja, cewek-cewek oriental lebih menarik…”
(Dimuat di harian Sindo, Tanggal 23 Februari 2007)