Sindo

Imlek dan Suro

4,226 Views

Dua-tiga harian lalu saya kirim SMS “Selamat Tahun Baru” ke Hans Guritno. Ini kawan yang kerap dimintai tolong produser-produser film untuk konsultasi pemasaran atas hitungan ilmiah maupun spiritual.

Di luar dugaan, orang Tionghoa yang fasih berbahasa Jawa Timur-an ini me-reply: Iki selamat tahun baru Jowo opo Cino…?

Wah, iya ya. Ini bulan Suro. Pekan-pekan ini kan juga pekan-pekan tahun baru Jawa. Hans bisa saja merasa sedang diucapin selamat tahun baru Jawa-nya.

Apalagi sebagai orang Tionghoa, Hans bukan saja fasih berbahasa Jawa. Ia juga ngerti hitung-hitungan kalender Jawa dan klenik-kleniknya. Tionghoa yang tinggal di kawasan Utan Kayu Jakarta itu berhak bingung. Apa tahun baru Imlek-nya, apa tahun baru Jawa-nya yang sedang saya selamatin?

Ketika saya bales, Ya udah, selamet tahun baru apa aja Kang…dia balik membalas, “Matur nuwun…Matur nuwun…”.

Dari kejadian itu tadinya saya juga akan kirim SMS tahun baru ke Roza Mintareja. Ini tokoh yang gencar mempopulerkan kembali kalender Sunda alias Kala Sunda.

Siapa tahu Roza akan ngebales, ini selamat tahun baru Sunda apa tahun baru Imlek? Soalnya denger-denger hitungan kalender Cina mirip hitungan kalender Sunda. Yaitu atas dasar gabungan antara perputaran rembulan dan matahari.

Tak mustahil bila tahun barunya selalu sama. Tak seperti tahun Jawa, tahun atas dasar cuma hitungan rembulan, yang kebetulan saja saat ini berdekatan dengan tahun baru Imlek.

SMS nggak jadi saya kirim. Entah karena apa. Tapi mungkin, pertama, karena saya yakin masih akan ketemu langsung Roza nanti 23-24 Februari di Yogya saat pembahasan Kala Sunda di UGM.

Kedua, saya buru-buru. Udah kadung janji, ditunggu makan siang teman-teman dari Jepang.

***

Sepanjang jalan menuju restoran Jepang hotel bintang lima di kawasan Thamrin itu, jujur saja saya deg-degan. Bakal kayak apa nanti menu Jepang yang harus saya makan.

Ternyata benar. Mas Hariyadi Usman dari Yayasan Kebudayaan Indonesia Jepang (NIHINDO) melirik saya kurang berselera dan agak maksain lahap.

“Masakan Jepang memang tidak seperti masakan Cina,” kata Mas Hariyadi,” Bergizi. Tapi nggak banyak bumbu kayak Cina.”

Siang itu kami sedang mengukuhkan lagi persamaan-persamaan antara orang Jepang dan orang Nusantara. Terus kembali terngiang di benak saya bahwa Jepang adalah Saudara Tua kita di Asia. Berarti ada banyak persamaan.

Kembali kukuh dalam pemahaman saya bahwa ada banyak persamaan orang Jepang dan Indonesia dalam hal menghadapi hidup. Yakni, tak ada kesedihan yang terlalu. Tak ada kesenangan yang terlalu. Senang dan sedih campur aduk mirip gado-gado, termasuk dalam menghadapi kemungkinan resesi dunia.

Tapi di hati saya bertanya kok dalam hal makanan, khususnya dalam hal perbumbuan, kenapa kita lebih dekat ke Cina ya? Padahal belum pernah digaung-gaungkan bahwa Cina adalah Saudara Tua kita juga di Asia?

Saya lantas ingat bagaimana sebenarnya tradisi tumpeng di Jawa juga kena pengaruh dari Cina. Belum lagi warna-warni selendang merah dan kuning pada wayang orang Jawa. Sitar, mirip kecapi, pada gamelan Jawa. Dan lain-lain. Termasuk pengaruh Cina pada motif batik “Pagi Sore” di Pekalongan.

***

Kembali ke soal Imlek. Dari kejadian makan siang dan balasan SMS Mas Hans Guritno itu saya jadi kepikiran ini. Peringatan tahun baru Imlek maupun tahun baru 1 Suro alias Muharram itu bukan saja sah dilakukan oleh penganutnya masing-masing.

Misalnya, kayak komentar artis Arie Dagienkz untuk tulisan ini. Kenapa orang-orang Cina kita curigai kalau merayakan Imlek. Apa bedanya dengan orang Jawa yang merayakan Sekaten. Atau kalau suku-suku lain merayakan upacara adatnya.

Tul Arie. Saya setuju. Cina, Arab, India dan lain-lain, kalau sudah jadi warga negara di sini ya sah merayakan apapun menyangkut kesukuannya. Toh bangsa ini emang dibentuk oleh ramuan suku-suku.

Tapi, maksud saya, saking sudah meleburnya berbagai kebudayaan antarwarga di Indonesia, baik dari segi falsafah hidup maupun dari masakan, sebenarnya perayaan adat istiadat suku tertentu tak bisa dilepaskan dari keterlibatan suku yang lain. Setidaknya keterlibatan emosional.

Belajar dari Mas Hans Guritno, sebetulnya selamatan tahun baru Imlek adalah selamatan buat saya juga. Karena kalau saya mendalang, tanpa sadar saya telah memakai banyak unsur dari Cina entah warna wayang entah gamelannya. Tumpeng yang merupakan sesaji dalang juga terpengaruh oleh Cina.

Ketika teman-teman Arab di Solo merayakan tahun baru 1 Muharram, saya juga merasa sedang mereka rayakan diam-diam. Karena 1 Muharram alias 1 Suro ternyata punya hubungan.

Orang Jawa mengartikan Suro adalah “sesuatu yang mesti kita junjung”. Ternyata waktu peringatan 1 Suro, saya jumpa cendekiawan muslim Mas Masdar Farid Mas’udi, dia bilang itu mirip dalam bahasa Arab. “Asyura artinya puncak,” katanya.

(Dimuat di harian Sindo No. 72, tanggal 7 Februari 2008)