Sindo

Takut Tua, Tapi tak Takut Pesawat dan Kapal

3,126 Views

Saya sedih tidak dilahirkan sebagai perempuan. Andai perempuan, mungkin sudah luaslah pergaulan yang bisa ngasih saya kerjaan sejak usia belasan. Ikut kegiatan OSIS di sekolah pasti langsung dipasrahin cari sponsor untuk pensi (pentas seni) atau olah raga.

Dengan sosok perempuan, saya lebih gampang menerobos satpam untuk nodong bos-bos perusahaan. Proposal sekolah jauh lebih cepat dijabanin oleh bos-bos itu tanpa merasa ditodong. Pencarian dana lancar dan cepat. Lantas di sekolah, saya dielu-elukan para cowok di lapangan basket dan pensi. Malah mungkin pakai secara diantar-jemput segala.

Lulus sekolah, ya kuliah sambil nyanyi-nyanyi entah di kafe mana. Lebih ada kemungkinan ditawari rekaman oleh pengunjung, atau sekadar tip. Kenapa? Lho, capek deeh…kan tadi udah saya bilang, seandainya saya perempuan. Maka saya tidak usah menantikan umur 35 tahun untuk baru kelakon bisa main film dan bikin album musik serta masuk dunia teater secara profesional.

Tapi, ah enggak ding.. Saya bangga juga dilahirkan sebagai cowok. Sekalian nggak pusing secara mau pipis di mana gitu. Di pinggir jalan pun oke kalau lalu lintas macan tutul alias macet total. Dan dengan badan cowok, saya tidak terlalu masalah dengan perut dan pinggang yang membuncit, turun dan melebar pasca-persalinan. Saya tidak perlu takut jerawatan.Tak perlu cemas dengan keriput di sekitar bibir dan mata.

Ya, takut tua dan jelek sih ada juga meski saya bukan tipe cowok metroseksual. Tapi ndak takut-takut amat. Sekarang ini saya malah lebih takut naik pesawat, kereta api dan kapal laut ketimbang menjadi sepuh.

Sama halnya. Kali ini ketimbang takut menjadi uzur, saya lebih takut impor gandum yang sudah 6 juta ton per tahun akan terus meningkat kalau ibu-ibu tidak ikut bikin kampanye kembali ke makanan yang diolah dari beras, sejak kue-kue sampai mie.

Kalau ibu-ibu ndak ikut aktif kampanye kecil-kecilan sejak di rumah, akan terus melorot pamor beras sebagai kepribadian Asia khususnya Indonesia. Ini lantaran beras mewarnai bahkan sampai ke kehidupan ritual sejak prosesi nikah (lempar beras kuning) sampai persembahan kepada alam. Tanpa kampanye ibu-ibu, petani hilang bangganya. Impor beras kian naik. Petani hancur. Daya beli mereka merosot. Dan kita semua bakal remuk. Ini yang lebih bikin saya keder.

***

Tapi kok ya, kecelakaan transportasi sekarang makin nggak ampun-ampun ya? Pesawat terbelah. Kapal tenggelam. Padahal, secara saya ini laki-laki, itu yang bikin saya takut. Jadi, kayaknya, lebih baik saya jadi perempuan aja deh.

Soal ongkos agar tidak tampak jelek dan tua gampang. Duit bisa dicari. Paling sebulan “cuma habis” kisaran Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000. Seorang ibu rumah tangga usia 48 tahun yang tinggal di bilangan Pluit mengatakan, ”Buat saya perawatan kecantikan yang paling utama adalah merawat tubuh. Saya biasa seminggu 3 kali senam, sebulan sekali luluran dan 2 minggu sekali facial. Biayanya tidak terlalu mahal. Untuk senam satu bulan Rp 350.000, untuk facial mestinya mahal, tapi karena ada kenalan jadinya cuma Rp 100.000. Kalau untuk lulur tergantung bahannya, tapi rata-rata sekitar Rp 200.000. Biasanya umur 40 ke atas paling rawan buat ibu-ibu, kulit mulai kendur dan berkeriput juga mulai timbul noda. Wah…di Muara Karang klinik-klinik kayak gini laku sekali…”.

Produk kecantikan memang penting bagi perempuan. Perempuan cantik berusia 24 tahun yang bekerja di ITC Cempaka Mas ini mengatakan, ”Kalau buat saya, produk kecantikan jadi nomor satu dalam daftar belanja saya, selain makan tentunya. Saya lebih suka belanja baju, atau lipstik, atau apalah yang bisa membuat saya tampil lebih oke daripada beli buku, nonton film dll. Karena jujur, saya gak pede kalau jelek. Dalam sebulan, saya bisa menghabiskan dana Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000 untuk belanja produk kecantikan.”

Lain lagi pendapat Mirasih Tyas Endah, presenter dan pemain sinetron, yang sejak kecil sudah diajak ke salon oleh ibunya, ”Sebenarnya gue gak punya budget khusus buat ke salon. Cuma yang pasti gue blow di salon seminggu dua kali, dua minggu sekali creambath, seminggu sekali luluran. Kira-kira per bulan gue abis Rp 300.000 – Rp 500.000. Gue rencana ntar-ntar kalau udah punya anak, gak mau ngajak anak ke salon karena budgetnya gede”
Ya. Paling “cuma” segitu kira-kira ongkosnya kalau saya jadi perempuan.

***

Tapi mungkin tidak semua perempuan perlu biaya mahal. Tergantung lingkungan dan pekerjaannya. Menurut Shahnaz Haque, kalau lingkungannya suka ngomongin kecantikan atau jenis pekerjaannya menuntut kecantikan, ya perempuan jadi sasaran empuk salon dan produk-produk kecantikan.

“Saya punya previlege card buat luluran, tapi jarang banget dipake,“ katanya, sambil menjelaskan pekerjaannya sebagai penyiar radio tak terlalu menuntut penampilan kecuali suara.

Hal lain, bagi Shahnaz, “Saya sendiri mengawini orang yang tidak metroseksual (Gilang Ramadhan). Suami saya butuh perempuan yang bisa diajak ngobrol bukan yang (cuma) bisa untuk ditiduri. Sekali lagi, jenis perempuan akan memilih jenis laki-laki yang sama. Kalau perempuan yang tidak terlalu peduli akan kecantikan, pasti ia tidak akan memilih laki-laki yang juga mementingkan kecantikan. Sebaliknya juga begitu..”

Saya sendiri bukannya anti salon. Karena tenaga kerja yang diserap sektor ini luar biasa. Saya cuma ingat Dewi Arimbi, yang semula berwujud raksasa dan ingin kawin dengan Bima. Saking tulus dan kuat cintanya pada Bima, seketika Arimbi jadi jelita, kawin dan punya anak Gatutkaca.

Saya takut ibu-ibu lupa bahwa “cinta” adalah “salon” yang lebih baik dari salon manapun juga, termasuk salonnya Paris Hilton. Jangan sampai kelenyapan cinta. Itu inti salon.

(Dimuat di harian Sindo, Tanggal 2 Maret 2007)