Saya nggak begitu mengerti Valentine’s Day. Saya cuma pernah mengalami Valentine beberapa tahun lalu, di kawasan Kemang. Pas mau pulang dari studio musik, ketika ke tempat parkir tahu-tahu mobil saya sudah penuh balon warna-warni. O gini to Valentine.
Saya juga baru tahu belakangan lagu My Funny Valentine, lagu tahun 1930-an karangan Lorenz Hart serta Richard Rodgers dan masih abadi sampai kini. Yaitu ketika saya harus menyanyi lagu itu dengan penyanyi jazz Syaharani di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Jadi soal Valentine setidaknya saya kenal dua hal. Pertama, pada 14 Februari itu orang kasih-kasih kado. Kedua, ada lagu romantis tentang hari kasih sayang itu. Lalu, yang ketiga, dan ini cukup menarik, ternyata ungkapan kasih sayang itu tak hanya ditujukan pada sesama manusia.
Setelah periode kenal balon dan lagu My Funny Valentine, saya tahu di beberapa toko, bahwa pemberian hadiah kepada binatang kesayangan prosentasenya lumayan. Katakanlah 20 persen orang membeli kado kalau tidak buat kucingnya, ya anjingnya…burung-burungnya…pokoknya binatang kesayangan.
Pikir saya, yang kasih kado Valentine ke kucing atau anjing bisa saja orang gila, tapi lebih mungkin lagi dia adalah orang yang punya kepribadian khusus. Saya yakin kebanyakan orang ndak mikir sampai ke situ soal siapa yang mau dikasih kado Valentine. Maka saya minta ke ibu-ibu, agar mempertimbangkan perilaku orang-orang khusus itu buat kita tiru. Meniru yang baik kan ndak papa?
Saya malah juga merindukan kabar tentang hal baru menyangkut Valentine. Misalnya, ibu-ibu pada Valentine tahun depan memelopori gerakan kasih sayang kepada alam. Kepada sungai. Kepada sawah, ladang, parit-parit di sekitar rumah. Bentuknya terserah. Kalau di kawasan Cirebon dan Pantai Selatan Jawa kan ada Sedekah Bumi. Ini upacara dengan pentas kesenian, yang diakhiri dengan pemberian sesaji ke alam. Sesaji itu biasanya berupa makanan, mirip makanan yang biasanya dilarung ke laut untuk menghormati laut.
Itu simbolisnya ya Bu. Lho manusia itu kan selain homo sapiens (hewan yang berpikir), homo faber (hewan yang bekerja), dan homo ludens (hewan yang bermain), kan juga hewan yang penuh simbol. Simbolnya nggak harus kayak sedekah bumi. Bilang bikin aja peragaan busana di bantaran Kali Ciliwung. Itu salah satu contoh modifikasi simbol-simbol tradisional kita. Yang nggak simbolnya juga ada, tentu. Jadi selain pentas seni dan peragaan busana, ada gerakan bersih-bersih kali Ciliwung. Itulah yang saya maksud Valentine’s Day buat Ciliwung.
***
Tentu nggak ngasih Valentine’s Day ke binatang dan alam, tapi kepada sesama manusia seperti umumnya, juga nggak papa. Masih bagus punya kasih sayang pada sesama manusia ketimbang sudah ke flora dan fauna nggak punya kasih sayang, eh ke manusia juga nggak ada sayang-sayangnya. Cuma, apakah pernyataan kasih sayang itu ada rumus-rumus umumnya?
Ternyata susah bikin pedoman bersama apakah di hari Valentine itu kita mesti kasih kado, atau mesti kencan dan kencannya juga bagaimana? Di Amerika misanya, orang ngajak kencan via telepon. Di Inggris pakai SMS. Orang Inggris biasanya mabuk bahkan saat kencan pertama. Orang Amrik menghindari mabuk pas kencan pertama.
Lain ladang lain belalang. Lain tempat lain caranya. Susah dibikin patokan global. Atau mau pakai ciuman di depan umum mulai gaya french kiss sampai heavy french kiss? Ya, silakan saja tapi lihat-lihat tempat. Saya kira Anda akan jadi tontonan kalau melakukan itu di Tegal atau Boyolali. Lebih-lebih kalau di Aceh.
Ungkapan Valentine ini persis ungkapan romantisme, orang mengharapkan ada patokan umum. Padahal itu ndak bisa. Mari, ibu-ibu, dengerin kisah beberapa orang ini. Kelihatan bahwa ungkapan romantisme, termasuk ungkapan Valentine muncul dengan cara yang berbeda-beda.
Ada Antonius, mahasiswa ITB. Waktu ceweknya ulang tahun, cowok ini cuek agar ceweknya marah. Besok paginya dia bikin kejutan. Seluruh papan pengumuman di kampus ditempeli foto si cewek dan tulisan “Kamu kira aku lupa hari ultah-mu ya?”
“Romantis itu bisa jadi gombal kalau cuma ikut-ikutan,” kata Stella, mahasiswi. “Romantis itu ya kalau dia bisa ngertiin maunya gue apa.” Maria, perempuan yang kerja di komunikasi, “Romantis itu mesti ada unsur surprise dan nggak ikut-ikutan orang. Gue pernah dibawain pecel ayam di kantor, sampai tuh cowok telat masuk kerja gara-gara beli pecel dulu…Bukan coklat atau apa. Coklat udah biasa…”
***
Kalau saat Valentine atau saat ingin mengungkapkan kasih sayang kapan pun, kita merasa harus melakukan sesuatu dan harus pada saat tertentu, itu sudah nggak romantis. “Romantis itu terjadi pada kondisi yang nggak seharusnya,” kata drummer Aksan Syuman. Dan katanya, bukan sesuatu yang direncanakan. Dia pernah bikin lagu dan menyanyikannya di depan cewek yang menginspirasikan lagu itu. “Tanggapan dia biasa saja,” katanya. Tapi pas mereka naik mobil box berdua, mereka justru hepi banget.
Unsur kejutan itu pula yang ditekankan presenter Sarah Sechan. “Cowok romantis menurut gue yah yang kayak suami gue…hehe, nggak terlalu banyak ngumbar kata cinta, nggak juga manjain dengan kasih kado tapi suka bikin kejutan. Waktu gue habis pergi jauh, tahu-tahu di rumah sudah ada bunga sebagai ucapan welcome home. Kadang dia juga suka kasih barang yang dia bikin sendiri atau yang gue lagi butuhin…intinya unpredictable lah…”
(Dimuat di harian Sindo, Tanggal 16 Februari 2007)