Sindo

Les, Les, Les, Les…Les

3,444 Views

Banyak orang bilang ini abad informasi. Zaman reformasi. Keterbukaan. Semua nggak salah. Cuman, ada yang terlupa. Sebenarnya kini juga eranya les. Les dan les. Semua serba les. Serba kursus.

Anak perempuan saya misalnya, sudah bisa nyetir. Saya sendiri yang ajarin…yaah nyari-nyari lahan kosong. Biasanya di jalanan kompleks perumahan yang sedang dibangun. Kan lengang tuh.

Tapi ya tetap saja pada akhirnya, setelah bisa nyetir, dia masih harus ikut kursus mengemudi. Sederhana saja. Ibunya minta dia ikut kursus “biar lebih pede” alias percaya diri.

Ya udah.

Saya tidak tahu pasti apakah termasuk sendirian dalam hal kurang setuju jika semuanya serba kursus. Saya cuman main kira. Kayaknya kebanyakan bapak-bapak juga gak terlalu setuju tuh segalanya main kursus. Apalagi untuk perkara-perkara yang mestinya udah bisa digapai tanpa les.

Tapi saya juga bisa mengerti kalau ibu-ibu lebih pro pada les. Secara umum, ibu-ibu toh lebih kerap ngobrol ma anak. Lebih tahu aspirasi dan lingkungan anak. Ibaratnya, kalau teman-teman anak semuanya pakai celana dengan pinggang diplorotin, masa anak kita nggak?

Soal les dan kursus kok kayak-kayaknya gitu juga ya Bu? Bapak-bapak seperti saya sering terlambat tahu mode apa yang sedang trendy di lingkungan anak-anak. Misalnya saya baru tahu belakangan bahwa anak-anak sekarang kalau makan pisang nggak pisang goreng atau nagasari lagi tapi banana split dan d’crepes isi pisang.

Berikutnya, anak-anak sekarang untuk maju ujian akhir atau ulangan biasa tidak cukup belajar berkelompok saja sampai kalau perlu nginep di rumah kawan…tetapi les. Les dan les.

***

Ya, para filosof bilang kini era informasi. Para politisi bilang kini zaman keterbukaan. Saya sebagai bapak rumah tangga bilang, sip sip sip…sekarang zaman les.

Meski zaman les, saya dapat terima les dengan tiga alasan. Pertama, menghindari perdebatan-perdebatan yang bisa mengacau suasana “pulang”. Karena, rumah itu seyogyanya dipulangi oleh anggota keluarga supaya mereka semua lepas dari stress di tempat kerja maupun sekolahan.

Setelah berhubungan fungsional dengan berbagai pihak dalam arti hubungan buat mencetak duit, rumah dipulangi untuk mendapat suasana bahwa hubungan antarmanusia, di sini keluarga, tidak harus dalam rangka menghasilkan duit. Suasananya jadi adem ayem.

Nah, perdebatan-perdebatan sekitar perlu tidaknya les, kadang-kadang membuat situasi adem-ayem itu sirna. Rumah kemudian jadi tak ubahnya dengan kantor atau studio. Apalagi kalau dalam perdebatan les itu bukan saja tersangkut konsep-konsep pendidikan yang lebih filosofis dan mendasar, tetapi juga nyinggung masalah itung-itungan duit les. Waduh! Udah kian nggak beda lagi rumah dengan tempat kerja.

Kedua, saya bisa terima les sepanjang materi yang dikursuskan itu memang di luar kemampuan orangtuanya untuk ngasih. Contohnya les tari Bali.

Saya mau anak saya les tari Bali. Bahkan hepi. Karena saya ndak bisa nari Bali. Sekalian saya bisa ikut nonton anak-anak menari. Asyik juga jadi semacam oase, setelah beberapa hari kerja di Jakarta dan nggak denger musik Bali, tiba-tiba tiap hari Minggu ada terdengar musik Bali di rumah. Tapi kalau mereka kursus mengemudi saya tidak bisa ikutan di mobilnya.

Ketiga, saya bisa terima les, kalau di dalamnya juga terkandung maksud sosial buat memperluas lapangan kerja. Maksud saya, ya sudah tentu namanya ibu-ibu pengin dengan les anaknya jadi pinter dan pede.

Tapi seyogyanya entah 1 persen dan syukur kalau lebih, terkandung maksud bagi-bagi rezeki kepada orang yang emang profesinya ngasih les. Dia bukan guru. Karena guru sudah punya pekerjaan yaitu guru. Apalagi kalau guru sendiri yang ngasih les, sering muncul konflik interes.

Lapangan kerja sekarang kian susah. Kiranya “sambil menyelam minum air”, sambil minterin anak sambil pula main ciperat-ciperat rezeki, adalah langkah yang bijaksana dan semoga tercatat oleh alam.

(Dimuat di harian Sindo, tanggal 25 Mei 2007)