AREA 2009 - 2010

AREA 60 Selamat Datang Ngabuburit

3,910 Views

Tahun 80an tuh ngabuburit masih asing di kuping saya. Pertama dengar ya pas tinggal di Bandung. Burit dari bahasa Sunda. Artinya sekitar awal malam. Kata bentukan ngabu dekat dengan nuansa awalan me dalam bahasa Indonesia.

Tapi sekarang kosa kata Sunda itu sepertinya sudah menjadi milik Bahasa Indonesia. Jauh lebih populer ketimbang nyenyore atau mencari petang dalam bahasa Jawa. Jauh lebih populer dibanding nyare malem alias mencari malam dalam bahasa Madura. Mungkin karena kalau urusan di luar politik dan kepejabatan, proses adopsi kata dalam bahasa Indonesia jauh lebih demokratis. Daerah manapun, sepanjang katanya asyik ya silakan aja masukin kosa katanya. Kalau di ranah politik dan tata praja, mungkin karena pucuk-pucuknya kebanyakan orang Jawa, yang masuk adalah kata-kata seperti legowo, tut wuri handayani, sepi ing pamrih dan lain-lain…

Maka sebagai orang Jawa-Madura, saya senang sekali bahasa Indonesia tak melulu menerima asupan kata-kata dari suku yang mentang-mentang jumlah orangnya banyak itu. Ngabuburit adalah salah satu contoh yang saya suka diterima sebagai kosa kata Indonesia.

Di luar ngabuburit masih banyak kosa kata Sunda yang diterima dalam bahasa Indonesia. Misalnya rese’ atau membingungkan atau orang yang membuat kita berlaku serbasalah. Mangga atau sok dari Sunda alias silakan kadang-kadang juga saya dengar dalam percakapan bahasa Indonesia.
Ada sedikit perbedaan tapi. Kata mangga, sok, rese’, ketika masuk dalam bahasa Indonesia pengertiannya nyaris tak bergeser dari bahasa aslinya. Nah ngabuburit agak bergeser. Dari pengertian aktivitas melakukan permainan tradisional sambil menunggu waktu berbuka, kini cuma berarti jalan-jalan, mejeng, cuci mata dan seputar itu sambil menunggu adzan maghrib.

Di daerah perkotaan, ngabuburit biasanya diisi dengan jalan-jalan sore, nongkrong di pusat perbelanjaan, atau keliling kota dengan kendaraan. Sementara di kota-kota yang lebih kecil, selain pusat perbelanjaan tempat ngabuburit biasanya adalah alun-alun kota.

Hal yang sama juga terjadi pada nyenyore dan nyare malem. Kedua idiom ini dalam bahasa aslinya hampir sama dengan ngabuburit, tapi ketika sekarang dipakai oleh orang Jawa dan Madura dalam bahasa Indonesia jadinya ya kayak nasib ngabuburit sekarang.

Jauh dari perilaku permainan tradisional, ngabuburit seperti nyenyore dan nyare malem sekarang berarti ya itu tadi, pacaran, malah sebagian menggunakannya untuk beraktivitas di warnet-warnet.

Mana yang lebih baik, dulu apa sekarang? Wah itu di luar wewenang saya buat menjawab. Saya cuma bilang beda aja.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 60, 12 Agustus 2009)