AREA 2009 - 2010

AREA 74 Rokok, Obat Tidur, Suplemen

3,779 Views

TejomusikAjakan mencuci tangan pakai sabun sudah tentu lahir dari kepentingan bisnis tertentu

Gaya hidup sehat? Apa itu seperti yang ditunjukkan iklan-iklan, ya? Mulai dari sandal jepit sampai makanan dan minuman, suplemen, bahkan alat-alat olahraga? Beberapa suami bilang, untuk hidup sehat sih nggak usah gonta-ganti susu. Susu tetap yang itu-itu saja. Yang penting suplemennya harus ganti-ganti. Beberapa istri yang selalu stres menghadapi suaminya juga bilang, agar sehat, sering-seringlah beli obat tidur. “Lho, saya tuh tidak biasa minum obat tidur,” kata salah satu istri. Temannya sesama perempuan bilang, “Justru obat tidur itu buat suamimu.” Pendeknya, macam-macam cara dan saran untuk hidup sehat.

Ada dokter yang sangat anti-rokok. Saking antinya, bahkan ketika nanya pasien apakah pasien itu merokok dan pasiennya mengiyakan, dokter itu langsung nyuruh pasiennya pergi. Orang medis ini bahkan tak mau basa-basi memeriksa. Tapi, ada juga dialog pasien-dokter yang seperti ini pas pasien terima resep dan akan pamit.     “Ehm, Dok, saya tuh perokok. Apakah dalam pengobatan ini masih boleh merokok?”

“Silakan…”

Pertimbangan dokter, ketimbang pasiennya tambah sakit gara-gara stres tidak merokok. Sekali lagi, pendeknya, macam-macam cara dan saran untuk hidup sehat.

Tapi, kalau kita tidak hati-hati, kehendak hidup sehat bisa dipakai oleh orang-orang tertentu untuk bisnis semata-mata. Ajakan mencuci tangan pakai sabun sudah tentu lahir dari kepentingan bisnis tertentu. Bisa dibayangkan bakal seperti apa bumi kalau setiap saat dicemari air sabun. Padahal, sebenarnya, seperti dikatakan teman-teman pencinta lingkungan dari lereng Gunung Arjuna, mestinya cucilah tangan pakai sirih. Waktu saya tinggal di sana, ya, cuci tangan pakai air sirih.

Teman saya ahli mikrobiologi di Bandung bilang, bakteri itu berbicara satu sama lain dan ada quorum-nya juga untuk mengakibatkan penyakit atau bukan bagi lingkungan. Mereka bermusyawarah seperti di parlemen. Nah, katanya, kemudian ditemukan bahwa sirih mengandung zat-zat yang bisa menghambat lobi-lobi antar-bakteri untuk membuat keputusan mengakibatkan penyakit. Tapi orang-orang sirih, apalagi belum ada organisasinya, pasti susah untuk beriklan di media massa. Uang dari mana mereka untuk setiap hari pasang iklan mencekoki pikiran kita agar mencuci tangan pakai sirih?

Ya, curiga boleh-boleh saja, termasuk curiga pada pabrik sabun. Tapi, kecurigaan yang tanpa batas juga nggak bagus. Di hotel, misalnya. Kan, sering ada peringatan agar handuk bekas kalau belum benar-benar kotor pakailah lagi. Jangan ditaruh di tempat cucian demi mengurangi pencemaran lingkungan. Kalau kita selalu berpikiran negatif, pasti langsung menuding pihak hotel malas dan pelit keluar uang untuk setiap hari mencuci handuk.

Oh ya, termasuk ancaman besar dalam hidup sehat adalah banyaknya penduduk. Di tempat-tempat lain yang jarang penduduknya, seperti di kota-kota di Australia, pembantu rumah tangga susah didapat. Bahkan, supir. Pekerjaan-pekerjaan fisik yang menuntut gerakan otot dan persendian mau tidak mau harus dikerjakan sendiri. Bahkan, oleh orang-orang kaya.

Teman-teman saya banyak yang supirnya saja tiga orang. Belum pembantu rumah tangganya. Akibatnya, teman-teman itu kurang gerak. Padahal, kata orang bijak, jika setiap hari kita berjalan kaki mondar-mandir ambil sepatu, ambil dan mengembalikan piring bekas makan, dan lain-lain, persendian kita akan bergerak minimal seribu kali sehari. Dan, itu menyehatkan.

Disadur sepenuhnya dari AREA Magazine