Kompas

“Bhagawad Columbus” Pendukung Mega dan SBY

3,988 Views

ST2BILA suara paling banyak senantiasa sudah pasti merupakan suara paling benar, riwayat tentang Christophorus Columbus tak perlu diajarkan lagi di sekolah. Dengan riwayat anak tukang tenun itu dan terutama di tengah rasa perayaan keunggulan suara bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kita perlu merasa diingatkan betapa suara mayoritas belum tentu lebih benar ketimbang suara minoritas.

Megawati Soekarnoputri lebih beruntung dibandingkan dengan Columbus. Perbandingan jumlah suara pendukungnya terhadap suara yang unggul cuma sekitar 40 persen dan 60 persen. Columbus malah cuma memiliki satu-dua pendukung, sudah termasuk Ratu Isabella dan Raja Ferdinan di Spanyol, untuk pelayaran pembuktian Bumi bulat di tengah keyakinan mayoritas bahwa Bumi datar.

Sekarang, akhirnya, baik pendukung partai besar maupun partai kecil, pendukung calon presiden yang menang maupun yang kalah mengakui suara amat minoritas dari sekitar abad ke-15-an itulah yang benar.

Bahkan jauh sebelum itu, Sri Kresna sudah wanti-wanti kepada Arjuna dalam pembukaan Bhagawad Gita yang jarang dipentaskan dalam pewayangan (biasanya dalang langsung masuk ke batang tubuh Bhagawad Gita tentang perbedaan hubungan pribadi dan hubungan profesional, saat Arjuna ragu- ragu akan berperang melawan kakak kandungnya, Karna, dalam Bharatayuda). Titisan Wisnu itu terkekeh: “Heh, Dinda Arjuna, pendapat mayoritas bahwa kamu berdosa melawan kakak kandung belum tentu merupakan kebenaran final.”

Jika pendukung Yudhoyono bertepuk dada sambil berkata bahwa semua itu klasik belaka dan tak aktual lagi hari ini, mungkin pendukung Mega bisa menunjukkan contoh lain. Para pendukung Mega maupun Koalisi Kebangsaan bisa memilih banyak contoh tentang masih hidupnya spirit pesan-pesan lama tadi. Salah satu contoh, di tengah paham demokrasi yang salah-salah membuat apa pun asal mayoritas bisa berlebihan disembah bagai berhala ini, mayoritas mengatakan air minum sehari-hari sebagai air putih. Hanya amat segelintir, di antaranya tokoh jamu Jaya Suprana, yang menyebutnya sebagai air bening. Dan kita tahu, yang lebih benar adalah sebutan air bening.

KISAH tentang Columbus dan Bhagawad Gita itu saya harap bisa melipur para pendukung Mega, terutama di awal-awal kepresidenan Yudhoyono. Di tengah belum usainya luapan kegembiraan pendukung calon presiden bersuara terbanyak, para pendukung calon presiden yang kalah suara bisa merasa tak mengandung potensi kebenaran. Perasaan remuk ini salah-salah terlampiaskan menjadi kemarahan yang bikin onar. Atau, sebaliknya, perasaan itu melahirkan sikap diam tetapi diamnya orang patah arang. Dua-duanya tidak asyik.

Mudah-mudahan hiburan tentang kisah Columbus, dan sebenarnya masih banyak lagi tentang kisah lain, bisa menggugah kembali rasa pede kaum yang kalah.

Dengan rasa pede yang terpulihkan, orang mudah diharapkan bekerja lebih indah termasuk ketika bekerja di parlemen. Karena suara mayoritas belum tentu suara yang paling benar, dalam konteks ini saya “mendukung ancaman” pihak- pihak pemrakarsa Koalisi Kebangsaan jika kubu Yudhoyono unggul di eksekutif. Yaitu, dari parlemen mereka berniat menjegal program-program termasuk anggaran ajuan
mayoritas yang diwakili Yudhoyono.

Program-program eksekutif, meski representasi mayoritas, bisa saja keliru. Secara awam barangkali bisa diandaikan, jika nanti mengikuti suara mayoritas Yudhoyono mencanangkan gerakan tangan kanan baik dan tangan kiri jelek, penjegalan oleh suara minoritas maupun parlemen perlu didukung. Demikian, karena tangan kanan belum tentu lebih baik ketimbang tangan kiri. Bisa jadi sama baik.
Mayoritas saja yang bilang tangan kanan baik, yang kebetulan didukung adat-istiadat, dan akhirnya apa? Akhirnya berakibat antara lain guru-guru musik jatuh-bangun mengaktifkan tangan kiri orang Indonesia dalam bermain musik.

Dengan lain kata, saya “mendukung” dan akan “menghimpun dukungan” buat “penjegalan” oleh pihak parlemen sepanjang itu bersemangat Columbus maupun Bhagawad Gita. Yakni, semangat pengakuan bahwa kebenaran orang banyak belum tentu betul-betul merupakan kebenaran yang sesungguhnya, tetapi belum bisa dipastikan juga sebagai suatu kesalahan.

Masyarakat yang kalah suara maupun anggota parlemen yang kalah suara tetapi sudah terhibur kisah Columbus dan Bhagawad Gita, tak akan menjegal eksekutif dengan semangat “pokoknya eksekutif sebagai lambang mayoritas pasti salah”.

Inti kisah Columbus dan Bhagawad Gita bahwa kebenaran orang banyak belum tentu merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Sebaliknya, saya harap juga tidak membuat pendukung Yudhoyono tak patah arang karena merasa belum tentu benar. Justru karena belum tentu benar (artinya juga belum pasti salah), mereka bisa bergairah buat membuktikan bahwa mayoritas punya potensi kebenaran juga. Misalnya mereka buktikan itu dalam akhir 100 hari kepemimpinan unggulannya.

Sudah banyak tolok yang diusulkan sebagai ukuran keberhasilan Yudhoyono di akhir 100 hari kepresidenannya. Mari kita sekarang memakai ukuran awam saja dan dari khazanah jalan raya yang sering disebut sebagai cermin keseluruhan persoalan bangsa. Yaitu apakah nanti di akhir 100 hari kepresidenannya Yudhoyono bisa membuktikan bahwa pepatah- pepatah yang dianut mayoritas memang sudah betul-betul merupakan kebenaran karena cocok dengan fakta di jalan raya.

Ada kalimat, “sedia payung sebelum hujan” atau “mencegah lebih baik daripada  mengobati”. Konsisten dengan pepatah mayoritas itu, di akhir 100 hari  kepresidenan Yudhoyono, jangan ada lagi polisi lalu lintas berjaga-jaga apalagi  sembunyi di balik rambu-rambu jalanan. Para petugas mesti bersiaga dan menampakkan diri jelas-jelas  ada titik sebelum rambu karena, itu tadi, “mencegah lebih baik ketimbang menindak”.

Jika nanti mayoritas tetap membiarkan perilaku oknum petugas jalan raya masih seperti sekarang, baru terbukti bahwa suara mayoritas (“mencegah lebih baik  daripada mengobati”) bukanlah suatu kebenaran.