Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 110 Detektif Conan Menjelma Ramawijaya

6,207 Views

Episode110Nama aslinya Notonegoro. Ini mirip gelar baru dari orang-orang Jambi buat Pak SBY. Tapi dalang itu lebih kondang dijuluki Ki Conan Sang Detektif. Panggilannya Ki Sang. Lakon yang digandrunginya soal munyuk-munyuk dalam Ramayana. Termasuk dalam pentas menyongsong Hari Kesaktian Pancasila malam itu.

Seluruh Pak lurah, Pak Camat, Pak Bupati sampai Pak Gubernur yang sedang dihukum pidana korupsi tumplek menyaksikan pergelarannya. Lembaga pemasyarakatan telah tak ubahnya pasar malam. Segenap pedagang kaki lima makanan, kerajinan dan kaus-kaus suvenir diperkenankan masuk. Ini sekaligus perayaan suka cita. Fajar besok seluruh napi kasus korupsi bukan saja dapat remisi. Mereka bahkan akan menghirup udara bebas tuntas…tas tas tas …

“Selain bebas, setiap insan itu cerdas,” kata titisan Wisnu, Prabu Ramawijaya, ke raja munyuk Prabu Sugriwa. Dalang Ki Sang melanjutkan wejangannya melalui lisan Kresna, “Sebenarnya setiap insan tidak perlu diajari untuk mengetahui apa yang harus mereka ketahui. Itu seperti rasa sayang dan rasa percaya. Bayi tidak perlu diajari untuk mempercayai orang lain. Bayi tidak perlu diajari untuk menyayangi orang lain Hmmm…”

Gandane kang sekar gadung
Myang kembang menur….
Semerbak wangi kembang gadung dan menur …
Tan samar pamoring suksmo
Sinuksmo winahyo ing asepi …

Byar terang! Tak samar lagi saat itu pamor sukma sejati dalam penjara sepi berwujud belantara …

***

Di rimba sunyi, Sugriwa, paman Hanuman, tampak ngeh terhadap kata-kata Rama. Hanuman terlihat berpikir keras dan esrek terus tapi putra Dewi Anjani itu seakan mahfum pada penuturan Rama. Tak demikian dengan ribuan bedes-bedes lain dalam perjalanan ke negeri Alengka itu.

“Hubungane opo yo keterangan Prabu Rama dengan tujuan hidup kita-kita akan nyerbu Rahwana untuk membebaskan Dewi Sinta,” setiap monyet mulai resah saling berkasak-kusuk.

Selain nggak mudeng terhadap Sang Titisan Wisnu, para bala tentara kera juga sedang lapar-laparnya. Hutan di Gunung Maliawan dan Suwela tempat mereka mampir-mampir sebelum ke negeri Alengka kini floranya nyaris meranggas. Tak ada makanan. Bahkan pohon Maosadi yang terkenal bisa memasok buah dan obat herbal kini sudah lenyap. Kabarnya telah digondol investor asing.

Untuk mengais-ngais makanan, para monyet sampai turun mencari badogan ke tanggul Setubondo, titian di tengah laut menuju negeri Alengka.

“Itu monyet-monyet di Setubondo apa di Situbondo, kabupaten di Jawa Timur, Truk?” tanya ponokawan Bagong. “Terserah kamu, Gong,” Petruk sambil menerawang monyet-monyet yang mengorek-ngorek sisa makanan wisatawan di Situbondo, eh, Setubondo.

“Hidup ini tergantung anggapan,” Petruk meneruskan. “Contoh, kalau kamu anggap Badan Anggaran DPR persis anak kecil, diperiksa KPK terus ngambek… Ya jadilah Banggar itu kayak anak TK di netramu… Lain lagi kalau kamu anggap Banggar itu sejenis lontong balap ..”

Bagong menyeruput liurnya sendiri.

***

Seluruh napi kasus korupsi tampak terkesima dengan wejangan termasuk banyolan dalam wayangan semalam suntuk Ki Sang.

Mereka terbelalak menjelang puncak malam pukul 00:00 memasuki hari kesaktian dasar negara. Tiba-tiba Ki Sang juga sakti. Ia berbalik badan menghadap menonton, memunggungi layar. Matanya jadi biru dan kerisnya menjadi pedang raksasa.

“Kok dalang Ki Sang malih rupa jadi tukang jagal, Ya?” tanya seorang pedagang kaki lima kaus bola. Ia dari kawasan antara Sedati-Pabean, Surabaya. Wajahnya mirip Alfred Riedl. Itu lho mantan pelatih Timnas asal Austria yang kini melatih Laos ke SEA Games 2011.

Gareng yang membeli kaus berpunggung “Bambang Pamungkas” terkekeh-kekeh. Ia tepuk pundak si pedagang kostum bola. “Pak Riedl, dalang itu nggak menjelma jadi tukang jagal. Dia jadi Detektif Conan. Orang Cimmeria ini memang ahli perang. Tapi bukan tukang jagal. Pahit getir hidup lalu menggemblengnya jadi ahli pikir dan penasihat, di samping masih punya kemampuan tempur.”

Benar. Dengarlah pidato “Detektif Conan” di puncak malam itu.

“Poro rawuh ingkang minulyo, para terpidana kasus korupsi. Jangan takut dengan pedang saya. Saya tidak akan menjadi algojo pembunuh kalian, meski hukuman mati masih dikenal di negeri ini. Saya tidak ingin membatalkan remisi hukuman kalian. Saya pun tidak ingin membatalkan pembebasan hukuman kalian.”

Hening. Pedagang soto dan rawon menghentikan tuangan kuah ke mangkuk. Semua tersedot sabda “Detektif Conan”.

“Saya hanya bisa berjanji, kalau kalian menolak remisi hukuman, menolak pembebasan hukuman, saya akan tiap malam mendalang di lembaga pemasyarakatan ini. Gratis pun tak lakoni…Sekarang tinggal pilih, mau bebas lalu berbuat korupsi lagi atau tetap bertahan di lembaga pemasyarakatan tapi tiap malam nonton wayang saya? Di penjara, kalian juga akan lebih mudah merenungkan makna kata-kata Prabu Rama tadi…”

***

Pada zaman Guwarsa, Guwarsi dan Retno Anjani bertapa seusai rebutan Cupu Manik Astagina, hutan masih penuh makanan. Begitu juga setelah beberapa hari mereka berubah menjadi monyet dengan nama Resi Subali, Prabu Sugriwa dan Dewi Anjani. Mata pencaharian masih gampang karena alam belum terkuras habis.

Kini air, emas, intan bahkan buah-buahan di hutan semakin langka. Para napi kasus korupsi takut hidup bebas. “Uang susah dicari. Saya pasti harus korupsi lagi di luar penjara. Saya bukan monyet yang bisa hidup dari makanan sisa,” kata seorang napi yang curhat ke Bagong.

Ada juga napi yang tetap ngotot ingin bebas meski harta hasil korupsinya dahulu ludes sudah. Mereka yakin bisa korupsi lebih canggih, lebih nggak mungkin terendus. Lupalah mereka bahwa KPK sudah menyewa ksatria asing berdarah Eropa-Amerika, Detektif Conan.