Sindo

Lagi Soal Wafat atas Suka-suka Sendiri

3,164 Views

Kata majemuk atau kata bentukan “bunuh diri” termasuk kata-kata yang pernah bikin saya bingung. Seingat saya waktu sekolah dasar “bunuh diri” sama membingungkannya dengan “cemburu”. Mereka cukup lama saya gerayangi sendiri kira-kira apa artinya. Maklum periode itu era ketika belum musimlah model diskusi-diskusian atau bincang-bincang dalam keluarga.

Jadi, saat itu, di sebuah kecamatan, 8 km dari kota Situbondo, Jawa Timur, penduduk geger. Kata mereka, ada polisi bunuh diri. Namanya Pak…(huruf depannya saja, ya) “H”. Bapak saya segera berangkat ke tempat peristiwa. Katanya kejadiannya di kantor polisi.

Saya mikir-mikir, apakah Pak “H” waktu itu dalam keadaan sendirian, lalu dibunuh oleh tahanan di kantor polisi? Karena dia memang dikenal mentang-mentang. Ketika melangkah, tangannya sedikit merentang. Kepalanya cenderung mendongak bahkan ketika berjalan. Ujung kumisnya dipelintir seperti spiral.

Lho? Tapi kenapa kok bisa-bisanya Pak “H” sampai sendirian? Bukankah di kantor Polsek itu suka nongkrong Mat Nur (panggilannya Mat Enong, guru bela diri yang sering bercelana cutbrai zaman Koes Plus tapi lebar celananya bisa nyaris 1 meter).

Atau bunuh diri itu begini: Pak “H” atas kemauan diri sendiri, bukan perintah atasan, membunuh salah satu tahanan (jadi tahanan itu sendirian dibunuh)? Kayaknya ini lebih mungkin. Karena, ya itu tadi, Pak “H” memang terkesan galak.

Sekitar semingguan setelah peristiwa, baru saya tahu arti sebenarnya dari “bunuh diri”. Warga kecamatan berkasak-kusuk, Pak “H” menembak langit-langit mulutnya sendiri. Oh kalau begitu, kesimpulan saya, berarti bunuh diri adalah membunuh diri sendiri.

***

Sejak itu, berpuluh tahun mendatang, saya tahu dan paham arti bunuh diri, sebagaimana saya tahu dan paham apa itu cemburu. Tapi baru 2 tahunan lalu saya dikasih tahu temen-temen yang mendalami kasus bunuh diri bahwa bunuh diri biasanya mengejutkan orang karena gejalanya bertolak belakang.

Ternyata orang yang gagah dan ditakuti seperti Pak “H” bisa saja tiba-tiba bunuh diri. Itu dulu banget bikin saya kaget. Dua tahunan lalu, saya kaget lagi ketika temen-temen ahli bilang, biasanya orang yang mau bunuh diri itu menjadi ramah luar biasa.

Wah, ibu-ibu, berarti hati-hati kalau punya anak mendadak jadi ramah. Ya, saya ngerti, mana ada ibu-ibu yang girang anaknya ngumpet melulu dan melipat wajah kalau ketemu saudara maupun tamu. Semua pengin anaknya bergaul dan ramah. Tapi, ternyata, menurut temen-temen yang banyak bikin studi soal bunuh diri, tiba-tiba ramah juga berbahaya.

Berarti, saran saya, setelah lama mendambakan punya anak ramah, kalau tiba-tiba anak jadi ramah abis dan tidak mahal bicara, jangan cuma bangga. Baik juga disisakan sedikit buat waspada.

***

Ibu-ibu, saya tulis lagi soal bunuh diri ini, meski dua pekan lalu saya telah coba menulisnya, karena saya juga kaget. Ternyata bunuh diri tak cuma dilakukan oleh para bapak atau ibu rumah tangga.

Pekan lalu saya bertemu seorang peneliti bunuh diri dan seorang lagi perempuan ayu yang juga sastrawan yang tertarik pada kasus bunuh diri. Mereka bilang, ternyata, remaja termasuk kalangan yang potensial melakukan bunuh diri.

Banyak remaja bunuh diri karena gagal Ujian Nasional. Gunungkidul, Yogya, bukan lagi satu-satunya kawasan di Nusantara dengan angka bunuh diri tinggi. Kawasan Jakarta dan sekitarnya seperti Bogor dan Bekasi, menyumbang angka yang tinggi pula buat bunuh diri.

Ini yang, lagi-lagi, bikin saya kaget. Di negara-negara industri yang sistemnya sudah canggih, ujian pendidikan formal pasti sangat penting sehingga tidak lulus dari ujian seperti itu layak bunuh diri. Tidak lulus dari pendidikan formal, dari pendidikan formal bisnis sampai ke kesenian, pasti susah hidup.

Di Indonesia belum tentu susah hidup, kalau orang nggak lulus pendidikan formal. Sistem karier di sini bisa banyak jalan pintasnya. Untuk main film, nggak harus main teater dulu, lebih-lebih harus lulus sekolah akting dulu. Produser bisa kontak sendiri artis semau-maunya. Bisa saja jadi artis yang nggak lulus sekolah akting. Produsen tak harus melalui agen yang menerapkan seleksi ketat artis-artisnya. Artis, lulus atau nggak, bisa untung-untungan nyari produser sendiri.

Di dunia musik, untuk duduk di deretan depan alat gesek dalam orkestra, seseorang tidak harus sekolah violin dulu. Lantas magang bertahun-tahun di sebuah kelompok orkes, duduk paling belakang…beberapa periode dites lagi, kalau lulus duduknya maju lagi..beberapa periode lagi, dites lagi, kalau lulus maju lagi duduknya…sampai akhirnya duduk di deretan depan.

Beberapa profesi di luar kesenian, lebih-lebih melalui jalur kariernya yang lebih formal dan ketat.

Kalau bukan karena persaingan yang amat ketat dan formal, lantas kenapa ujian nasional bisa bikin orang bunuh diri? Wah, kalau gitu kemungkinan besar penyebabnya adalah “rumah” mereka sudah retak. Bukan ibu lho faktor peretaknya. Bisa jadi sumber keretakannya bapak. Eh dua-duanya juga bisa ding.

(Dimuat di harian Sindo, tanggal 6 Juli 2007)