AREA 2011 - 2012

AREA 102 Semangkuk Rawon untuk Revalina

3,251 Views

TejomusikPekan lalu saya ke Madura sepesawat dengan bintang film yang sedang naik daun Revalina S. Temat. Dari Bandara Juanda menuju Pamekasan kami semobil. Reva saya ajak mampir dulu di Rawon Setan di Surabaya. Yang ingin saya ceritakan reaksi orang-orang di warung rawon Jalan Embong Malang tersebut.

Bukannya tak ada sambutan buat Reva. Satu dua di antara mereka meminta foto bareng. Tapi tanggapan orang-orang itu tidak segegap-gempita zaman jaya-jayanya perfilman Indonesia tahun 80-an. Bisa saja ini karena aktris-aktris Jakarta sudah banyak yang berkunjung ke kedai seberang hotel JW Mariotts itu. Foto-foto mereka yang dipajang.

Tapi siapa tahu ada sebab-sebab lain. Bukankah konon di dunia ini tak ada satu peristiwa pun yang terjadi hanya oleh satu sebab?     Saya masih ingat kok bagaimana reaksi publik terhadap bintang film di tahun-tahun ketika Festival Film Indonesia masih punya gigi, sebelum ditutup 1991. Sangat luar biasa sambutan masyarakat kalau mereka memergoki Rano Karno, Lidya Kandouw, Roy Marten, Junaedi Salad, Citra Dewi, Nani Widjaja, Yati Octavia, Yenni Rachman dan lain-lain.

Waktu syuting film Mestakung yang disutradarai John de Rantau berlangsung baik di Sumenep maupun Pamekasan, khalayak memang ramai menonton Reva, termasuk menonton aktor Lukman Sardi dan Ferry Salim. Lebih-lebih dekat alun-alun Sumenep. Jalanan sampai ditutup. Tapi menurut pekerja seni setempat yang akrab dipanggil Bangdut, sebabnya karena sudah hampir 35 tahun tak pernah ada syuting film layar lebar di Pulau Karapan Sapi itu.

Belum tahu kalau di Malang nanti. Usai membantu Mestakung, saya punya tanggungan film lain di Malang.

Tulisan ini saya kerjakan menjelang berangkat ke Kota Apel itu, untuk membantu sutradara Hanung Bramantyo mengerjakan film barunya tentang sepakbola, Tendangan dari Langit. Dugaan saya tidak semeriah tanggapan warga Madura.

Saya masih ingat bagaimana dulu siaran langsung TVRI final Festival Film Indonesia ditunggu-tunggu. Ada karpet merah. Kedatangan artis dan siapa yang merancang busananya menjadi perhatian seluruh pemirsa di Tanah Air.

Keadaannya jauh berbeda dengan kini. Artis tak lagi satu-satunya sumber kepedulian bersama. Begitu banyak para pencuri perhatian sejak Manchester United, Barca, kelakuan orang-orang partai, SMS, BBM, facebook, twitter,YM…Kita bisa saja duduk sebelahan dengan aktris terkenal, tetapi kita lebih memilih sibuk main iPad atau apa gitu.

Ketika melihat bioskop Megaria di Jakarta, satu-satunya gedung bioskop tua yang di zaman Belanda dulu bernama Bioscoop Metropool, saya kadang punya bayangan tertentu. Saya bayangkan, dulu di dalamnya betapa total perhatian pengunjung pada suatu film yang mungkin menjadi satu-satunya hiburan kala itu. Bahkan jika yang mereka saksikan adalah “film bisu” seperti film-film Charlie Caplin, Max Linder, Zigomar dan lain-lain.

Itu kalau saya sedang lewat sudut antara Jalan Pegangsaan dan Jalan Diponegoro di Menteng Jakarta, tempat Megaria. Harusnya bayangan serupa muncul pula jika saya lewat Jalan Pintu Air, karena di situ dulu ada gedung bioskop Capitol yang awalnya bernama De Callone. Tapi bioskop tua selain Megaria sudah tak ada, termasuk Rex di Kramat Bunder, Rialto di Senen, Thalia di Hayam Wuruk, Al Hambra di Sawah Besar dan lain-lain.

Sangat beruntung menjadi artis masa kini. Perhatian masyarakat tak terlalu terfokus padanya sehingga hidup tak begitu stres.