Wayang Twit

Wayang Twit: #Yudistira

7,696 Views

STcartoon1Yudistira dikenal berdarah putih. Sulung  Pandawa ini termasuk 1 dari 3 tokoh berdarah putih, diantaranya Kera Resi Subali. Maksud berdarah putih adalah tokoh yang tingkat keikhlasannya tiada tara. Apapun yang diminta, akan dikasih oleh Yudistira. Yang paling dikhawatirkan rakyat Amarta adalah kalau ada tamu negara, lantas meminta sesuatu ke raja mereka, Yudistira, karena pasti dikasih.

Wilujeng Wengi,, Sugeng Ndalu,, Good Midnite,, banyak yang tanya sifat-sifat Yudistira, Sulung Pandawa.. Mudah-mudahan kau temukan di sini, walaupun sekilas.

Yudistira dikenal berdarah putih. Sulung  Pandawa ini termasuk 1 dari 3 tokoh berdarah putih, diantaranya Kera Resi Subali. Maksud berdarah putih adalah tokoh yang tingkat keikhlasannya tiada tara. Apapun yang diminta, akan dikasih oleh Yudistira. Yang paling dikhawatirkan rakyat Amarta adalah kalau ada tamu negara, lantas meminta sesuatu ke raja mereka, Yudistira, karena pasti dikasih. Jamus Kalimasada, pusaka andalam Pandawa bahkan pernah dikasih Yudistira ke tamu negara yang menghendakinya. Untung Semar tanggap. Semar tanggap, bahwa tamu yang baru datang adalah Batari Durga (Ratu Dewatanya setan) yang menyamar sebagai raja dan meminjam Jamus Kalimasada Yudistira. Pokoknya kalau di dekat Yudistira, jangan minta apapun. Jangankan Cuma arloji Rolexnya, Jaguarnya, bahkan istrinya diminta akan dikasih.
Suatu hari Yudistira dan Para Pandawa sedang berkelana ke hutan bersama adik-adik Pandawanya, tiba-tiba datang Burung Emprit, sejenis burung gereja terengah, minta perlindungan. Tapi nggak tahu ding, kalau rumahnya Yudistira kayak rumah Aburizal Bakrie, apakah raja Amarta itu akan ngasih juga..? Wallahu’alam…
Burung Emprit: “Oh, Raja Amerta, lindungilah hamba. Hamba diburu oleh Burung Elang.”

Yudistira menyanggupi. Lalu Elang tiba-tiba nukik dari langit.

Elang: “Kasih padaku hei manusia!! Burung Emprit yang sudah aku buru dari fajar tadi.”

Yudistira: “Aku sudah janji melindunginya. Aku tak boleh ralat.”

Burung Elang mulai mencibir Yudistira: “Katanya Raja Amerta terkenal adil.. mana keadilanmu Yudis?? Takdirku adalah mangsa Emprit. Tapi kau halangi aku.”

Yudistira terpukul oleh kata-kata Elang. Jika betul takdir Elang itu memakan Emprit, sungguh tak bijaksana Yudistira menjadi perintang takdir…

Mengubah nasib dan kodrat mungkin masih bisa dimaafkan, pikir Yudistira, tapi betapakah dosanya mengubah takdir? Yudistira berpikir, menyarang hujan aja ada konsekuensinya, menghalangi kodrat hujan aja ada akibatnya ke karma diri dan keluarga… Apalagi menghalang-halangi terjadinya takdir. Begitu pikir Yudistira… harap maklum, saat itu hutan sudah gundul, iklim sudah berganti… langit murung.

Dalam lingkungan yang nyaris gersang, praktis Emprit itu menjadi satu-satunya mangsa Elang. Ular-ular sudah tidak ada.
Yudistira: “Hmm.. Emprit, bukannya aku mau meralat kesanggupan melindungimu, tapi maukah engkau dimangsa Elang?” Emprit nangis.

Burung Emprit: “Oh, Raja, bukannya hamba tak mau menyerahkan diri ke Elang. Tapi hamba masih punya tanggungan 5 anak di sarang. Hamba ini terbang mencari pakan buat anak-anak hamba. Kalau hamba mati, siapa yang bisa membesarkan anak-anak hamba?“

Yudistira:“Baiklah, Elang, aku tak bisa memberikan Emprit padamu. Sekarang apa permintaanmu akan aku kabulkan.“ Pandawa mulai ketir- ketir)

Elang: “Baiklah, karena kamu bijaksana, aku tak minta istana Amerta, aku tak minta istrimu, aku minta dagingmu seberat daging Emprit.”

Secepat kilat Yudistira memotong kelingklingnya satu, ditimbang ternyata Emprit masih lebih berat. Seluruh jarinya dipotongnya.. eh, masih kalah berat.

Panakawan Bagong yang dikasih tugas memotong badan Yudistira mengaku tak ngeri apa-apa. Katanya, “Dari pada nonton tawuran di Tarakan dan Poso.”

Di timbangan itu satu ujung ada Burung Emprit, satu ujung sudah ada tumpukan potongan jari Yudistira, potongan lengan, betis dan paha Yudistira. Tapi masih saja Burung Emprit lebih berat. Kini yang tersisa adalah badan dan kepala Yudistira saja. Kaki dan tangannya sudah terpotong-potong di timbangan.

Bagong Cuma plonga plongo,,, disuruh motong oleh Yudistira ya motong.. mesti Pandawa lainnya miris melihat itu. Bagong: “Hehehe.. yaa beginilah mutilasi“

Kemudian Yudistira bilang ke Bagong, dan yang ini bikin Ibu Pandawa, Kunti pingsan: “Sekarang potonglah leherku, lalu badan dan kepalaku taruh di timbangan.”

Keajaiban terjadi. Menjelang Bagong ayunkan pedang ke leher Yudistira, seketika Burung Emprit jadi Dewa Indra, Elang jadi Dewa Darma, Yudistira balik utuh.

Sejak itu Yudistira diberi gelar oleh dewata sebagai Prabu Ajatasatru, artinya raja yang tingkat keikhlasannya ada di papan atas..

END… nite..

Ditulis ulang oleh: @chiezworld