AREA 2011 - 2012

AREA 103 Cinta Tanpa Alasan …

3,473 Views

TejomusikPekan lalu saya “didamprat” Bang Yos di kawasan Kedoya lantaran nanya kenapa mantan gubernur Provinsi Jakarta itu sewot terus atas kemelut Jakarta yg nggak sudah-sudah? Bukankah Pak Fauzi Bowo gubernur kini itu kadernya? “Dia bukan kader saya,” tandasnya.

Hehehe…Ya sudah. Sori Bang Yos.

Sepekan sebelum itu sebenarnya saya ketemu Foke (Pak Fauzi Bowo) di kawasan Sudirman. Tapi kami cuma “halo-haloan” aja sebab banyak orang yang ingin ngobrol dengan dia. Mungkin mereka juga omong-omong soal kemelut Jakarta.     Harusnya saya nanya, kenapa sih Jakarta yang kini berulangtahun semakin macet saja. Kepadatan tak cuma tampak di jalanan, namun juga di dalam angkutan massal seperti kereta listrik dan busway.

Ah sudahlah. Semar, tokoh wayang yang saya kagumi, selalu bilang “stop complaining..”

Maka baik juga kita hentikan setidaknya kurangi segala keluh-kesah tentang bekas Batavia ini. Apalagi semua tahu, kota yang belakangan penduduknya bertambah rata-rata 250 ribu jiwa pertahun ini memang tak cuma dirancang menjadi Ibukota negara. Segala aktivitas termasuk ekonomi tumpah-ruah di situ. Jakarta ndak hanya jadi sarana aktivitas birokrasi seperti Washington dan Canberra.

Saking padatnya lalu-lintas, pelecehan seksual di dalam busway dan KRL misalnya, memang kerap terjadi. Tapi, sejatinya, tak sebanyak yang terjadi di Tokyo.

Pelecehan seksual yang sempat saya catat dalam ingatan bisa dihitung dengan jari. Bandingkan dengan Tokyo yang dalam setahun bisa mencapai seratusan lebih kasus chikan maupun sekuhara, istilah pelecehan seksual di sana.

Di antara yang saya ingat itu misalnya terjadi dalam KRD Tanah Abang – Rangkasbitung dan Busway Pulogadung – Harmoni. Bayangkan, tanpa kamera CCTV di dalam angkutan maupun halte-halte macam di Singapura, cuma sedikit kasus pelecehan seksual pada transportasi di Jakarta. Betapa hebatnya moral kita.

Gareng, anak Semar yang selalu usil, mungkin sedikit berbeda pendapat. Pelecehan seksual tetap banyak, tapi cuma sedikit yang dilaporkan maupun diberitakan. Justru karena tanpa CCTV itulah para korban enggan melapor. Tak cukup alat bukti untuk menjerat pelaku dengan pasal 282 KUHP tentang pelecehan seksual maupun pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Lho, kan ada saksi?

Hehe…Gimana mau ada saksi wong dalam angkutan umum calon-calon saksi itu umumnya sibuk dengan diri sendiri. Sebuah penelitian pernah menyebut empat kesibukan warga kota di dalam angkutan umum. Yaitu, sibuk main HP, sibuk baca buku, sibuk merenungi nasib, dan sibuk tertidur pulas.

Begitulah…Tulisan ini saya kerjakan di puncak Gunung Bromo, Jawa Timur. Tak bagai Jakarta yang macet kawasan masyarakat Tengger ini. Kriminalitas nyaris tak ada. Polisi cuma 14 personil untuk 20 ribu warga.

Walau begitu, dengan segala kriminalitas dan semrawutnya Jakarta, saya tetap lebih memilih Jakarta ketimbang harus menetap di Bromo.