AREA 2011 - 2012

AREA 104 Di Atas Toilet Membaca Alam

3,258 Views

TejomusikDi Jawa ada kalimat kuno: watuk (batuk) ada obatnya tapi watak ndak ada obatnya. Meski kuno apa salahnya kita pakai. Senyum juga kuno kok, tapi sampai sekarang manusia masih banyak yang belum meninggalkan senyum.

Bagi saya, di antara watuk dan watak dalam pesan kuno itu adalah kebiasaan. Kebiasaan, yang kalau turun-temurun disebut tradisi, juga nyaris tak ada obat buat mengubahnya. Misalnya kebiasaan baca majalah atau koran di toilet, susah sekali diubah.

Sebagai mantan wartawan, kadang saya tersinggung juga pada kebiasaan banyak teman saya itu. Masa capek-capek memburu berita, menulisnya…susah-payah senior menyuntingnya…karyawan bagian bisnis capek mengedarkannya…eh cuma dibaca di toilet sebagai pengantar buang air besar.     Tapi saya berusaha untuk menghibur diri. Siapa bilang buang hajat itu kotor sehingga membaca majalah saat itu berarti tak menghargai si pembuat, pencetak maupun pengedar majalah? Bukankah buang hajat itu juga sesuatu yang suci, yang baik untuk kesehatan? Bukankah banyak pekerjaan mulia seperti rapat perencanaan berbagai kerja sosial dan lain-lain berantakan kalau pemimpin rapatnya sakit perut lantaran belum pup?

Sama dengan kebiasaan baca koran saat di WC, kebiasaan bertemu secara tatap muka juga susah diubah. Maka meski pengguna internet di Indonesia kini sudah mencapai 45 juta orang, meningkat pesat dari cuma 1 juta pengguna di tahun 1999, jalanan masih penuh sesak oleh mobil-mobil manusia yang hilir-mudik untuk bertatap muka. Jutaan manusia yang sudah bertemu di dunia maya itu masih memerlukan jasa otomotif untuk menyelenggarakan tatap muka konkret.

Tercatat misalnya kini hampir 12 juta kendaraan bermotor di Jakarta. Angka ini hampir sama dengan jumlah penduduknya. Hampir 4 juta dari jumlah itu kendaraan roda empat. Tampak bahwa orang-orang Jakarta masih perlu bertatap pandang secara langsung. Baik itu pertemuan informal antarteman, maupun formal antara bawahan dan atasan. Masih sedikit karyawan yang boleh sekali-sekali saja datang ke kantor, yang penugasan dan pelaksanaan tugasnya dilakukan via internet.

Padahal komunikasi melalui dunia maya mungkin akan mengurangi  kemacetan Jakarta tanpa ibukota ini harus pernah melarang-larang truk dan container melintasinya.

Saya tidak tahu sebabnya apa. Dulu bahkan hingga awal 90an, komunikasi melalui telepon dianggap kurang sopan jika dilakukan “orang rendah” kepada “orang tinggi”. Sekarang hambatan budaya tersebut nyaris tak ada. Wartawan muda bisa saja wawancara per telepon para senior.

 Nah, apa penyebab orang Jakarta masih mondar-mandir kayak setrikaan untuk menjumpai orang meski sudah ada pertemuan virtual di internet? Saya kira soal “dianggap tak sopan” kalau ndak ketemu langsung sudah bukan lagi jadi penyebab.

Jangan-jangan karena kebiasaan menggunakan mobil susah berubah. Teman saya yang tinggal di Sidoarjo dan mengajar di Unair Surabaya tetap menggunakan mobil tuh..Padahal sudah ada kereta komuter Sidoarjo-Surabaya (Stasiun Gubeng) yang dekat bisa jalan kaki ke Unair. Jalan antara Stasiun Gubeng dan Unair juga sudah diperindah dengan pohon-pohon.

Apakah dunia internet sama halnya dengan kereta komuter yang tak sanggup seketika menggantikan kebiasaan atau tradisi bertemu badan sehingga dunia otomotif tetap sangat dibutuhkan?

Mari kita tanya pada orang-orang yang mungkin sedang senyum-senyum di atas toilet. Siapa tahu mereka sedang membaca majalah tentang alam otomotif di Nusantara.