AREA 2009 - 2010

AREA 65 Dilarang Mengemudi, eh, Hidup Kalau Ngantuk

2,868 Views

Saya heran kenapa kok dalam perjanjian atau sumpah dan sejenisnya biasa ditulis bahwa semua pernyataan di situ dibuat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari siapapun. Kenapa kok tidak pernah saya saksikan ada surat perjanjian dengan pengakuan bahwa semua pernyataan yang tertuang di situ dibuat dalam keadaan para pihak tidak mengantuk?

Karena, yang saya alami dalam pergaulan, makin banyak orang yang kini uring-uringan kalau badannya sudah mulai mengantuk. Serbasalah deh. Kita menawarkan bantuan juga salah. Dia jawabnya kalau gak marah, minimal sinis. Apalagi kalau kita  minta bantuan.

Kini orang lagi ribut soal perseteruan antara kepolisian, kejaksaan dan KPK. Setiap tokoh dari ketiga kelengkapan negara itu saling menangkis dan menuding. Kita turut menjadi saksi baku komentar tersebut. Mungkin kita terpana. Mungkin kita terbawa. Tapi adakah di antara kita yang tiba-tiba curiga, jangan-jangan seluruh perang pernyataan itu ndak perlu kita perhatikan karena, siapa tahu, mereka menyatakan itu dalam keadaan sadar dan sehat, namun…ngantuk.     Orang juga lagi ribut kini soal hilangnya pasal yang membatasi peredaran rokok dalam undang-undang kesehatan. Ada yang menuduh pihak eksekutif sengaja menghilangkan pasal tersebut karena dilobi oleh industri besar rokok. Pihak lain menuduh bahwa ini hasil kelakuan orang-orang legislatif. Sekali lagi kita terpana pada baku tuduh tersebut. Tapi, pertanyaannya, apakah komentar para tokoh tersebut dibuat dalam keadaan tidak mengantuk?

Sayang lho, kita sudah capek-capek memperhatikan seluruh debat dan diskusi tersebut, eh ternyata yang kita pelototi dan tongkrongi di televisi adalah komentar orang-orang yang mengantuk. Ibarat kata, pagi hari kita berantem dengan pacar atau pasangan rumah tangga atas pernyataannya tadi malam. Sang pacar bingung, karena pernyataannya tadi malam sesungguhnya dibuat dalam keadaan mengantuk.

Saya jadi teringat sebuah kebijakan lama sebelum semua orang sibuk menyongsong abad industri dalam kehidupan modern. Rata-rata manusia tuh perlu waktu tidur 25 tahun dalam hidupnya. Dari situ, kalau dipikir-pikir, pertanyaan “bagaimana tidurnya tadi malam, nyenyak?” lebih tidak merupakan basa-basi pergaulan ketimbang pertanyaan “Kapan datang? Naik apa?”.

Berarti kalau kita meninggal pada usia normal sekitar 60-70 tahun, sesungguhnya kita cuma punya waktu melek antara 35-45 tahun.

Kalau para tokoh yang kini ramai berbaku argumentasi di media massa itu ternyata cukup tidur, apakah kita sah dan punya dasar untuk menggubrisnya? Belum, kita mesti bertanya lebih lanjut, apakah para tokoh itu sudah cukup liburannya. Karena, konon, rata-rata manusia memerlukan waktu tujuh tahun untuk berlibur.

Apakah tokoh-tokoh itu pernah mengunjungi Monas, Museum Nasional atau masuk ke wisata Istana Negara pada Sabtu dan Minggu? Itu di Jakarta Pusat. Untuk Jakarta Selatan, apakah mereka pernah ke wisata kuliner di Blok M, Tebet, Lebak Bulus, Fatmawati dan Jagakarsa? Pernah geli dan ngeri sekaligus menarik lihat satwa primata di Pusat Primata Schmutzer di Ragunan? Ke kawasan Jakarta lainnya, museum Layang-layang Indonesia di Pondok Labu yang menyimpan tak kurang 500 jenis layang-layang dari berbagai daerah di Nusantara dan manca negara? Museum Serangga yang memamerkan ribuan koleksi serangga di Pondok Gede? Dan lain-lain.

Kita perlu pernyataan para tokoh. Tapi kita juga perlu waktu buat tidur dan jalan-jalan.