Sindo

Rumah, Sophia Latjuba, Anang

2,607 Views

Pikiran manusia sering saya andaikan rumah. Bangunan. Pasti ada blueprint atau cetak birunya. Atau katakanlah rancangan yang sesuai selera bakal penghuninya. Cuma, kalau rumah beneran itu bentuknya tersusun atas pondasi, tiang, atap dan sebagainya, bangunan pikiran disusun oleh prinsip-prinsip hidup yang diterima manusia sejak anak-anak.

Untuk gampangnya, prinsip-prinsip yang sangat mendasar itu saya bayangkan sebagai pondasi. Prinsip-prinsip yang kurang mendasar tapi pokok ibarat tiang. Prinsip-prinsip yang ‘kurang pokok’ dan relatif bisa berubah-ubah, kerap saya andaikan atap, daun pintu atau jendela. Bahkan seperti cat rumah yang bisa berubah setiap waktu sesuai keadaan.

Siapa pemberi prinsip-prinsip itu? Ya bisa kakek, nenek, bapak, tetangga, guru-guru di sekolah dan masyarakat itu sendiri. Tetapi, Ibu-ibu, bagi saya tokoh utama pemberian prinsip-prinsip itu tak ada lain kecuali para ibu.

Dan itulah, saya kira yang disebut sistem pendidikan.

Sekarang sistem pendidikan nasional sedang digugat oleh Sophia Latjuba. Terus terang saya nggak tahu persis apa aja yang diusulin artis itu ke DPR. Dugaan saya kok sekitar bagaimana agar dalam sistem pendidikan kita para siswa, termasuk anaknya, tidak stres.

Mungkin iya juga sih. Kalau saya, sama pentingnya dengan nggak tertekan, sistem pendidikan mesti sanggup kasih prinsip-prinsip hidup itu. Sekaligus mengajarkan langkah-langkah untuk menyusun prinsip-prinsip apa aja yang seyogyanya jadi pondasi, prinsip-prinsip apa aja yang sebaiknya jadi tiang, atap, kusen atau bahkan cuma dijadikan ornamen saja.

Kalau setiap saat ibu mengajar kepada anak dengan ajaran langsung atau sekadar kiasan, bahwa jodoh adalah orang yang kita nikahi, mereka akan bingung pada kasus gugatan cerai Bambang Trihatmodjo terhadap Halimah Agustin Kamil. Sama juga bingungnya ketika mereka dengar Titi DJ nikah lagi dengan Ovie. Mungkin mereka akan bertanya ada berapa jodoh dalam sekali hidup kita?

Lain cerita kalau yang ibu dengung-dengungkan setiap saat kepada anak, jodoh adalah orang terakhir yang kita nikahi. Lain cerita lagi kalau yang ibu ulang-ulang entah melalui dongeng atau tembang, jodoh adalah orang yang kita cintai pake cinta mati. Ini karena bisa saja kan orang yang kita nikahi itu belum tentu orang yang kita cintai. Bahkan orang yang terakhir kita nikahi sekalipun.

***

O ya, tadi saya nggak bilang ibu-ibu sebagai satu-satunya tokoh pendidikan lho. Seingat saya, saya cuma omong ibu-ibu itu tokoh utama. Dalam memasukkan prinsip-prinsip itu kepada benak kanak-kanak, ibu ditemenin oleh keluarga, sekolah dan masyarakat. Bisa saja seluruh unsur itu mendukung, bisa pula saling bertabrakan.

Ibu-ibu mungkin mbantuin anak, secara sadar atau tidak, untuk menyusun prinsip ‘jodoh adalah cinta mati kita’ sebagai pondasi, tiangnya ‘jodoh adalah orang yang terakhir kita nikahi’ dan cat temboknya ‘jodoh adalah … pokoknya orang yang kita nikahi deh’.

Apakah kelak ketika dewasa, yakni ketika sudah menginjak usia yang bangunan pikirannya sudah fixed, susunan bangunan pikirannya akan persis seperti yang ibu-ibu mau? Ya belum tentu. Karena, seperti saya bilang tadi, masih tergantung pada dukungan atau justru penolakan dari pengajar-pengajar lain seperti sekolah dan masyarakat. Proses pendewasaan kok saya kira tak lain adalah proses ketika manusia menyaring dan mengolah saling-dukung dan saling-bentrok prinsip-prinsip yang diajarkan itu di dalam metabolisme batin.

Dan ini menyangkut banyak hal. Soal jodoh cuma kebetulan saja saya angkat sebagai salah satu contoh di sini. Hal-hal lain bisa soal bisnis. Soal tata negara. Misalnya manakah yang lebih fundamental di antara suku, agama dan kepartaian untuk kemaslahatan bersama dalam kehidupan di nusantara.

Dari susunan prinsip-prinsip itu di dalam bangunan pikiran, seseorang akan bisa menilai apakah pembentukan provinsi-provinsi baru, apalagi kabupaten-kabupaten baru atas dasar kesukuan cukup bijaksana? Ya terserah. Tapi kalau atas dasar kesukuan, yakni kesukuan dijadikan pondasi, kok tiba-tiba era reformasi ini mengingatkan saya pada Belanda dulu yang memecah belah nusantara dengan politik devide et impera.

Tapi terserah pada sistem pendidikan nasional ding, artinya termasuk ibu-ibu yang bakal ngebantu para siswa menyusun bangunan pikirannya. Lagian soal tata negara itu kan soal yang rumit. Padahal tujuan saya cuma mo kasih tahu bahwa bangunan pikiran diperlukan untuk banyak hal dan tak cuma ikhwal jodoh.

Jadi mari kita balik saja ke soal jodoh.

***

Pada bangunan pikiran, soal mana yang mesti dijadikan pondasi dalam hal perjodohan tadi bisa menentukan pula posisi prinsip kerahasiaan suami-istri. Prinsip ini bisa ada di dekat-dekat pondasi. Bisa pula seapes-apesnya prinsip ini cuma sekedar cat tembok yang sewaktu-waktu berubah dan bisa ditawar.

Dengan itu kelak anak bisa berkomentar soal ‘penyitaan’ handphone Kris Dayanti oleh suaminya, Anang. Tapi sistem pendidikan bukan cuma untuk melahirkan komentator atau kritikus. Lebih penting dari semua itu bagaimana bangunan pikiran membuat orang mengambil keputusan tepat bagi hidupnya sendiri.

(Dimuat di harian Sindo, tanggal 01 Juni 2007)