AREA 2011 - 2012

AREA 101 Seniman bukan Museum

4,045 Views

TejomusikApotek berjalan adalah atribut buat orang yang hidupnya sudah tergantung pada aneka obat. Penyandang gelarnya seringkali mereka yang hidupnya kurang gerak. Seniman-seniman non-gerak, katakanlah begitu, termasuk yang sangat potensial diberi predikat itu.

Selain apotek berjalan, sekarang saya kenalkan  museum berjalan. Apakah itu? Menurut saya museum berjalan adalah seniman yang kerjanya cuma menampilkan masa lalu tanpa sama sekali daya cipta. Segala hal ditampilkan sesuai aslinya atas nama pakem dan pelestarian.

Padahal seluruh unsur berubah seiring zaman. Misalnya sekarang orang sudah tidak betah melek semalam suntuk demi menonton wayang kulit atau golek. Pertunjukan pun sebisa-bisa mesti malam Sabtu atau malam Minggu. Begitu, lantaran orang-orang sekarang kebanyakan bukan masyarakat sawah-ladang. Mereka masyarakat pegawai yang mesti masuk kerja pagi-pagi. Repot kalau harus menonton wayang kulit di antara malam Senin sampai malam Jumat.         Belum lagi selera, minat dan mungkin tingkat kecerdasan di setiap zaman berubah-ubah. Ini tanpa harus mengatakan bahwa zaman sekarang lebih baik ketimbang zaman sebelumnya. Yang jelas menampilkan lakon Ramayana saat sekarang mesti berbeda dibanding mementaskannya pada era yang sudah-sudah.

Saya misalnya, termasuk yang tak suka mempergelarkan Rahwana menculik Dewi Sinta seperti kebiasaan lama pementasan Ramayana. Bagi saya Sinta memang ingin dibawa kabur oleh Rahwana. Kenapa demikian? Karena Sinta jenuh dan bosan mempunyai suami yang lurus-lurus saja tanpa serong sama sekali. Sinta merasa stres karena sungguh tak menarik hidup tanpa rasa cemburu, tanpa persaingan dengan perempuan selingkuhan Rama. Padahal dunia ini, termasuk politik dan ekonominya, terutama digerakkan oleh persaingan perempuan. Tanpa persaingan perempuan tak ada mal, tak ada politisi yang umumnya disetir dari balik layar oleh kaum perempuan.

Apakah manusia tidak boleh menjadi seniman museum?

Ini memang zaman serbaboleh. Tapi khusus pertanyaan itu, jawabnya tidak boleh. Pertama karena tugas seniman adalah berkreasi dengan bahan-bahan yang ada. Baik bahan itu dari masa lalu maupun masa kini. Kedua, menampilkan masa lalu secara utuh itu sudah menjadi tugas museum. Janganlah museum yang kini sudah sepi pengunjung masih disaingi oleh museum-museum lain berupa para seniman yang sudah mandek berkreasi lalu sepenuhnya mengekspresikan masa lampau.

Ya, gedung-gedung museum tak usah disaingi dengan hadirnya seniman-seniman yang menjelma jadi museum. Lha wong tahun lalu sudah dicanangkan sebagai Tahun Kunjungan Museum saja tingkat kehadiran warga ke museum masih sangat rendah kok.

Makanya, mari kita dorong masyarakat ke museum untuk menyaksikan sesuatu yang asli. Caranya adalah dengan makin memperbanyak kesenian gubahan baru. Semakin seabrek kebaruan yang diusahakan oleh keringat seniman, akan semakin penasaran dan semakin banyak manusia yang ingin menonton keasliannya di museum.

Misalnya, andai tak ada lagi pementasan-pementasan wayang sekarang yang mengatakan bahwa Dewi Sinta adalah perempuan yang diburu Rahwana. Seumpama dikatakan bahwa Sinta justru adalah anak Rahwana, besar kemungkinannya masyarakat akan penasaran menyaksikan, sebenarnya hubungan Sinta dan Rahwana itu bagaimana sih?

Tentu kreasi baru yang tidak asal-asalan. Seniman bukan museum tak berarti bebas mengacak-acak masa lalu. Contoh bahwa kemungkinan Sinta justru anak Rahwana itu misalnya. Kreasi tersebut tidak ngawur. Saya bisa menunjukkan dasar-dasarnya. Mau tau dasarnya? Kunjungi Museum Wayang di kawasan Kota Tua Jakarta.