AREA 2009 - 2010

Jakarta, Tanah Tandus Cintaku

2,596 Views

Kita serumah dengan orang yang bernama “Jakarta”. Katakanlah kita kawin. Tak cerai-cerai jua. Berkali-kali kita pengin meninggalkan orang yang sialan dan bawaannya bikin marah serta bikin pusing itu. Tapi kita tak kunjung pisah.

Mungkin kita abadi serumah dengan “Jakarta” karena sudah tak punya pilihan lain. Ibarat bertahannya pernikahan pada umumnya. Bisa karena mempertahankan kumpul ama anak-anak. Bisa karena sharing harta. Bisa pula karena gengsi.

Tapi lebih elok kan kalau tak kita tinggalkan orang paling nyebelin itu, ya si “Jakarta” itu, lantaran saban hari selalu kita temukan hal baru buat kita cintai. Harapan saya, mudah-mudahan perkawinan kita dengan si “Jakarta” langgeng karena alasan yang kedua itu.

Susah memang, menemukan hal-hal baru yang bisa kita cintai dari Mr. atau Mrs. “Jakarta.” Macet itu sendiri aja udah gak menarik. Biarpun tiap hari ganti warna mobil yang ada di kiri-kanan kemacetan kita. Biarpun tukang-tukang asongan misalnya tiap hari berganti kostum.

Banjir itu sendiri sudah tidak menarik. Biarpun tiap tahun warna airnya berubah-ubah dari pink ke sepia. Biarpun nanti desain perahu karet penyelamatannya berganti-ganti. Namanya banjir, ya membosankan.

Maka, seperti umumnya dalam perkawinan rumah tangga, jika suatu hari si “Jakarta” bertanya “apakah kamu masih mencintaiku?”, wah ini repot. Dibilang “masih” pasti disangka bo’ong. Dibilang “udah nggak lagi” malah lebih runyam.

Atau paling enak sebelum berurbanisasi kita bikin surat perjanjian waktu mempersunting Jakarta: Aku cinta padamu. Pernyataan ini berlaku sesuai dengan tanggal berakhirnya surat keterangan ini atau diterbitkannya surat keterangan yang baru…”

Iya kalau si “Jakarta” itu nanya gitu. Kalau nanyanya lain? Misalnya kita ini lakinya, dan si “Jakarta” tanya “Aku ini pacarmu? Selingkuhanmu? Atau isterimu?”

Kalau dibilang pacar ntar si “Jakarta” merajuk,”Emang aku seperti salad, selalu ijo, selalu fresh?” Kelihatan kita bo’ong banget. Orang ini paling ijo-nya kan cuma di lapangan golf dan sedikit Senayan. Sebagian besar lainnya “putih” bikin mata ngernyit.

Kalau kita bilang selingkuhan si Jakarta itu mungkin malah sewot, “Emang aku seperti steak, hot and spicy, agak gosong-gosong dikit pinggirnya nggak apa-apa…gitu…yang penting hot and spicy…tapi berarti aku kan tetap aja gosong di matamu…Nyakitin gak sih?”

Mau dibilang isteri?

Boleh-boleh aja. Tapi awas. Iya, kalau Jakarta lagi balance. Kalau ketambahan ndak jelasnya musim, belum lagi ndak jelasnya suhu politik, bisa aja Jakarta jauh lebih sensitif ketimbang perempuan yang lagi datang bulan.

“Hah! Aku ini isterimu?”, mungkin begitu kalau Jakarta lagi sensitif, ”Isteri itu kan seperti makanan kalengan, yang baru kamu buka kalau udah ndak ada yang lain?”

Tapi, belajar dari rumah-rumah tangga yang sukses, yang bertahan tidak terutama demi anak-anak, harta dan lain-lain, siapa tahu kita bisa terus menemukan hal-hal baru setiap hari pada setiap yang kita lihat, dengar dan rasakan di Ibukota.

Dan semoga perkawinan kita dengan “Jakarta” bukan seperti perkawinan Adam dan Hawa yang karena gak ada pilihan lain.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 55, 26 Mei 2009)