Wayang Twit

Wayang Twit: #Semar

7,848 Views

ST4DC2Tak ada senjata mampu hadapi ancaman terbesar berupa Batari Durga (dimensi ruang) dan Batara Kala (dimensi waktu) kecuali Kentut.

Kentut adalah hal tabu, artinya jangan kamu takut melanggar hal tabu jikan ingin perubahan. NO MUNAFIK! Itulah kenapa senjata terampuh adalah kentut.

Arjuna termehek-mehek hadapi Batari Durga dan Batara Kala, karena Arjuna masih jaim. Ndak berani kentut. Takut dibilang jorok. Munak! Perlu kentut.
Semar gak kentut sembarangan, hanya ke Durga dan Kala. Karena senyum atau mesem Semar tuh campuran paling indah antara tawa dan tangis.
Semar tuh wayang yang paling aku kagumi, karena antara lain dia dewasa sekaligus kanak-kanak. Dewasa karena itu hati-hati penuh perhitungan, sekaligus kanak-kanak berkuncung karena itu berani, gak pusing resiko, ceplas ceplos. Tak pernah marah pada majikannya, Arjuna, kecuali ketika Arjuna atas godaan wanita akan memangkas kuncung lambang kekanak-kanakan. Bagi Semar, orang dewasa sudah mati kalau sudah kehilangan jiwa kanak-kanak yang gak takut lumpur, gak takut resiko. Sama Malaysia aja takut!

Semar: ” Perempuan bijak sanggup miara jiwa kanak-kanak lelaki, sampai setua apapun. Ibarat Yoko Ono miara jiwa kanak-kanak John Lennon.”

Semar satu-satunya yang  sembahyang tanpa jadwal. Seluruh waktu hidupnya adalah sembahyang, bekerja, tertawa, menangis, guyon, dan lain lain bagian sah sembahyangnya. Semar itu bukan laki atau perempuan atau banci. Ia tua sekaligus muda. Ia tertawa sekaligus nangis. Baginya penderitaan dan kebahagiaan sama saja.

Pesan Semar: “Barang siapa Tadah, Pradah, Ora Wegah, maka tak akan kaya, tapi tiap butuh, maka duit itu ada aja.”

Tadah artinya tak ada doa lain kecuali “terima kasih” atas apa yang sudah ada.

Pradah artinya ikhlas, kalau dealnya 10 perak, ya kerja all out dengan deal itu, deal 5 perak ya all out pula dengan deal itu.

Ora Wegah artinya tidak membeda-bedakan proyek dengan nominal besar atau kecil, asal sudah sanggup ya sanggup.

Satu dunia membagi perasaan itu Tragedi dan Komedi. Nusantara menggabungkannya dalam rasa Semar, tragedi dan komedi sama saja. Dengan rasa Semar, pas kamu ciuman, kamu akan happy, tapi pada saat sama kamu sedih, “Akankah ciuman itu terulang dengan kebahagiaan serupa?”

Sebaliknya, dengan rasa Semar, campuran tragedi-komedi, setiap dapat musibah kamu akan senyum, “Akan ada anugerah atau berkah apa habis ini.”

END