Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 155 Bambang Sagara Ari-arimu …

11,147 Views

STcartoon1Nduk alam ndonya ini tak satu pun peristiwa terjadi lantaran sebab tunggal. Mesti ae ada gara-gara lain yang disadari tetapi wadi dikemukakan.

Wuiiiih…Sudah kayak ceramah saja ya…Heuheuheu…

Tapi ceramah ini ada dongengnya lho. Lihat saja apa Abimanyu mati karena kutuk pastu calon isteri yang sekaligus eyangnya, Dewi Utari? Atau putra kesayangan Arjuna itu gugur lantaran para Kurawa dendam ke bapaknya? Saking kesumatnya dendam itu sampai mereka di kancah Baratayuda membabi-buta? Mereka sibuk sekali nancapin ribuan anak-anak panah ke Ksatria Palangkawati itu hingga tubuhnya tatu arang kranjang laksana landak?

Dua-duanya betul, tetapi orang sering melupakan sebab-sebab lain umpamanya peran Kyai Glinggang. Ini gada andalan milik Raden Jayadrata. Setelah tubuh Abimanyu ndak mati-mati meski telah dleweran getih, Jayadrata menghantamkan gada pemberian Resi Sapwani itu ke kepalanya. Remuk. Abimanyu, suami Dewi Siti Sundari dan Dewi Utari, gugur sudah di Kuru Setra.

Betul Dewi Utari dulu pernah bersumpah ketika Abimanyu yang diem-diem sudah menihahi Siti Sundari ini datang melamar. Sumpahe,  nek sampek Abimanyu konangan wis nikah, wooo… kata si eyang yang awet muda bagai Titiek Puspa itu, semoga kelak dalam Baratayuda Abimanyu mati tatu arang kranjang.

Oke. Tapi tanpa dendam yang luar biasa kepada Pandawa khususnya Arjuna, tak mungkin bala Kurawa mau repot-repot menancapkan ribuan panah. Cukup satu anak panah Adipati Karna, Abimanyu tentu wis modyar. Dan tanpa pusaka yang berasal dari negeri Sindukalangan, Kiyai Glinggang, Abimanyu mungkin cuma kejet-kejet sekarat tak kunjung ajal.

Bener lho…

“Ah, itu kan cocotmu dewe, Kang,” ponokawan Bagong njeplak ke kakaknya, Gareng.

“Lha yo kuwi, Gong,” Gareng akhirnya meragukan pendapatnya sendiri dan mulai ketawa-ketiwi.

Petruk melu-melu. “Ya cocot orang kan bhinneka,” ujarnya. “Apalagi di tanah Nuswantoro ini ndak cuma soal awal Ramadhan lho yang bedo-bedo. Sekarang, itu, coba, kasus korupsi Simulator SIM di tubuh Polri, Polri dan KPK juga beda-beda kok dalam melihat ‘Hilal’ hayo…”

***

Ndak usah kaget kalau serial KPK versus Polri alias Cicak vs Buaya kini bersambung lagi. Biar di dunia tidak ada lagi monopoli. Biar tak sinetron Tersanjung dan Dendam Nyi Pelet saja yang monopoli sambung menyambung menjadi satu itulah Indone….

Okelah kini tak boleh lagi mobil para PNS di Jawa-Bali pakai bensin premium, tapi jangan tak boleh lagi kita menyambung-nyambung kisah basi. Kisah Jayadrata sendiri kan sesungguhnya sambungan dari episode dendam ke episoder dendam lainnya.

Ketika jauh hari sebelum Baratayuda Kurawa ingin melampiaskan dendamnya pada Pandawa, di tengah jalan mereka kepergok pemuda tampan mirip Bima. Pemuda tersebut, Jayadrata alias Arya Tirtanata, sebenarnya sedang berkelana mengindahkan pesan sang guru, penasihat kerajaan Sindukalangan, Resi Saptani, nama alias Resi Sempani ya Sapwani. Sang Resi menyuruhnya berguru pada Pandu Dewanata, ayah Pandawa.

Eh, cita-cita bermenggok. Jayadrata berbelok menjadi jago para Kurawa. Jayadrata yang mahir menunggang gajah hampir saja mengalahkan Pandawa sebelum pertempuran itu ada yang melerai. Prabu Duryudana pemimpin Kurawa menghadiahkan kerajaan taklukannya, Mbanakeling, kepada Arya Tirtanata.

Kisah Arya Tirtanata sebagai alat pelampiasan dendam Kurawa kepada Pandawa itu tak pernah selesai. Jangan lupa, setelah itu, setelah Pandawa kalah judi dengan Kurawa dan diharuskan bersembunyi di hutan tanpa ketahuan selama 12 tahun, sesungguhnya mereka ketahuan oleh Jayadrata.

Ketika itu Jayadrata menyamar teratai di telaga yang biasa dikunjungi Dewi Drupadi, istri para Pandawa. Hampir saja malihan teratai yang kampul-kampul di telaga itu mati oleh Bima andai tak diampuni oleh kakak Bima, Yudistira. Jayadrata pun tahu diri. Sebagai balas jasa, ia tak melaporkan keberadaan Pandawa.

***

Sebenarnya Jayadrata orang sabar. Dia tidak marah pas Prabu Duryudana mengimbau rakyat agar tidak berobat ke luar negeri, walau ibu negara sendiri, Banuwati, berobatnya ke Amerika. “Karena Amerika bukan luar negeri, tapi tanah air kedua,” begitu Jayadrata menghibur diri sendiri.

Jayadrata juga tidak marah ketika istrinya, Dursilawati yang adik Prabu Duryudana, dimaki-maki oleh penjual duku. Pasalnya, waktu itu Dursilawati lupa pergi ke pasar masih pakai baju PNS. Duku seharga Rp 15 ribu ditawarnya Rp 1.500.

Kontan pedagangnya berdiri sambil nuding-nuding, “Situ kan PNS, kan bisa korupsi, kok masih nawar-nawar duku, nawarnya ndak kira-kira…”

Mendengar laporan istrinya, Jayadrata cuma senyum-senyum. Prinsip hidup Jayadrata, janganlah kita mengaku sudah tahan menderita sebelum mendengar bagaimana para perempuan menawar harga …

“Tapi kan tidak semua PNS itu korupsi?” Bagong tidak terima mendengar cerita Gareng. “Ya, namanya pedagang itu lagi emosional, Gong,” Gareng mempuk-puk Bagong.

Lakon soal Jayadrata berlanjut. Walau sabar, Jayadrata tidak bisa mengalah pada Arjuna yang ngamuk setelah Abimanyu, anaknya, gugur. Harusnya dia mengalah. Karena seperti kata para leluhur ngalah kuwi duwur wekasane. Mengalah adalah laku utama.

Para Kurawa sudah menungkung Jayadrata dengan kurungan baja agar tak tersentuh oleh Arjuna. Eh, masih juga Jayadrata bernafsu membuat lubang untuk pergi melawan Arjuna. Pikirnya toh mengalah tidak lagi duwur wekasane. Buktine ganda putri bulutangkis Indonesia mengalah. Agung kan? Tapi huh lihatlah mereka malah didiskualifikasi oleh panitia Olimpiade. Maka ketika tampak kepala Jayadrata muncul dari lubang kurungan baja, Arjuna mengarahkan panah pamungkasnya Pasupati.

Bambang Sagara, nama lain Jayadrata, tokoh yang berasal dari ari-ari (plasenta) Bima sendiri, gugur bersama dendam-dendam kita kepada para sedulur.