Pancasila tuh dasarnya sila 1-3, tujuannya sila 5, caranya sila 4. Seluruh pertemuan yang agendanya bukan untuk keadilan sosial, gerebek!!!
“Aku gak tau yah, @Nadya_Bolang, Garuda itu burung mitos apa gak. Tapi demokrasi kan juga mitos? Yang banyak itu yang benar.
Demokrasi dan Pancasila sama-sama mitos, saya lebih milih Pancasila, kebenaran diproses via musyawarah mufakat, tujuannya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.
Bulan lalu rame berita orang digedam, dicopet, padahal njancuki dunia pendidikan juga udah lama menggendam kita percaya Demokrasi Pancasila. Yang memimpin musyawarah mufakat adalah tokoh-tokoh yang jiwa kebangsaannya teruji. Gak punya jiwa kebangsaan, jangan mimpin musyawarah!!
Siapa berjiwa kebangsaan, orang yang pertama-tama cinta kemanusiaan, lalu melokalisir cintanya ke bangsa sendiri dengan alasan keanekaragaman. Ruang, waktu, materi, energi, keanekaragaman.
Kenapa keanekaragaman? karena science buktikan Sumber Daya tuh! Ya Keanekaragaman. Tidak mungkin seluruh dunia jadi Islam semua, atau Kristen semua, atau Batak semua, atau Jawa semua..euy! Maka orang yang berjiwa kebangsaan atas dasar sila kedua, kemanusiaan, cinta Indonesia bukan karena Indo paling hebat. No Pancasila. Orang kebangsaan atas dasar kemanusiaan, cinta Indonesia karena keanekaragaman di muka bumi ini jarus dilestarikan. That’s all..
Apakah orang kebangsaan atas dasar kemanusiaan seperti itu sudah boleh memimpin musyawarah mufakat? Belum. Harus berkeTuhanan. Dia berkemanusiaan, tapi tidak humanis, tidak meletakkan manusia di atas segalanya, cinta tertingginya tetap kepada Tuhan. Dia tidak mengartikan khalifah sebagai pemimpin, tapi “yang berbeda”, lalu bersatu dalam flora dan fauna sebagai sesama makhluk. Tokoh seperti itu boleh kaya, boleh punya istri / suami cantik / tampan, tapi kalau panggilan Tuhan memintanya ya dihibahkan ke masyarakat.
Ketuhanan YME artinya kau boleh punya apa aja tapi tak boleh melekat kepada semua itu kecuali Tuhan. Lihatlah Ibrahim “nyembelih” anak. Ibrahim punya anak seperti SBY punya Ibas, tapi Ibrahim tak melekat ke anak. Lekatnya cuma pada Tuhan. Prabu Yudistira juga gitu.
Tweepswati dan Jancukers, tokoh seperti itulah (kebangsaan, kemanusiaan, ketuhanan) yang dididik khusus, yang berhak pimpin musyawarah.
Pancasila tuh dasarnya sila 1-3, tujuannya sila 5, caranya sila 4. Seluruh pertemuan yang agendanya bukan untuk keadilan sosial, gerebek!!!
Seluruh sidang di DPR atau kabinet, yang agendanya bukan untuk keadilan sosial harus dijancuk-jancuki, borgol, kasih Densus 88.
END
Ditulis ulang oleh: @chiezworld