Dewi Sinta bete,, suaminya Prabu Rama gak pernah serong. Luruuss terus. Padahal Sinta pengin tahu rasanya cemburu.
“Ada yang mau aku certain wayang gak yaah?? Soal Dewi Sinta.. Tapi versinya suka-suka aku.. malam takbiran soalnya… gak ada job ndalang…” (ditulis ketika jelang lebaran ^__^v)
“Waah…dari semua yang mau aku dongengi, laki-laki… blas! Gak ada perempuannya! Hehehe…nunggu dulu, kalau angkutan..ngetem.” (Prolog ceritanya…)
Dewi Sinta bete,, suaminya Prabu Rama gak pernah serong. Luruuss terus. Padahal Sinta pengin tahu rasanya cemburu.
Teman-teman Sinta bilang, “cemburu bisa bikin badan mendidih! Senggama bisa lebih bergelora.” Tapi Sinta mau cemburu sama siapa, wong Rama setia pooooll…
Kok untungnya suatu hari Rama ingin pergi ke hutan perburuan. Sinta diminta ikut. Sesampai di tempat ada kijang kencana berlompatan. Sinta sudah dengar soal Rahwana yang macho, suka main perempuan, dll. Tiba-tiba ia ingin bertemu Rahwana. Suaminya, Rama disuruh ngejar kijang.
Gak tahu yaa.. yaa…firasat perempuan. Sinta punya feeling, Rahwana sedang berada di sekitar hutan situ. Pas Rama memburu kijang, muncul pengemis. Begitu Sinta mengulurkan tangan, pengemis itu berubah menjadi raksasa Rahwana. Sinta suka Rahwana, tapi pas ketemu Rahwana, ia kaget. Sinta yang kaget teriak-teriak, apalagi ketika dibawa Rahwana terbang. Di angkasa, ketika jauh dari Rama, justru Sinta kangen sekali sama Rama.
Datanglah burung besar Jatayu akan menolong Sinta. Sinta berhasil direbut. Rahwana jatuh ke tanah. Jatayu dan Sinta menukik ke Rahwana. Tapi Aji Pancasonya membuat siapapun yang sekarat bahkan mati asal sentuh bumi dapat hidup kembali segar. Rahwana yang tadinya sekarat, kini segar. Ketika Burung Jatayu menukik hendak menuntaskan pembunuhan, Rahwana menghujam Jatayu dengan senjata pamungkas Candrasa. Jatayu mati!
Sinta kembali direbut Rahwana. Sebelum meninggal, Jatayu sempat bisik-bisik ke Sinta agar mencabut selembar bulunya. Bulu ini nanti menjadi keris.
Ringkasnya Sinta kini sudah berada di Alengka, tepatnya di Taman Argasoka. Bukan di penjara. Justru taman yang indahnya tak terkatakan. Ketika Rahwana muncul di taman, Sinta langsung mengarahkan keris ke perutnya sendiri, siap-siap bunuh diri. Keris jadi-jadian dari bulu Jatayu. Sambil sedih karena kangen suami, Rama, Sinta terkejut mendengar Rahwana: “Tak usah kamu bunuh diri jika aku sentuh kamu. Aku tak akan sentuh.” Kata Rahwana.
Rahwana: “Sinta, orang boleh omong miring soal Rahwana, tapi Rahwana tak akan menyentuh kulit perempuan yang tidak mencintaiku..”
“Haaahh??” Sinta kaget. Matanya membelalak. Pikirnya “inikah Rahwana?” sejak bertahun-tahun Rahwana datang tapi tidak pernah sentuh Sinta. Bertahun-tahun Rahwana setiap hari hanya datang untuk mengucapkan kata-kata indah dan bernyanyi. Sinta yang kangen suaminya, tambah sedih. Tapi diantara kesedihan karena kangen suami, Sinta harus mengakui dirinya mulai tertarik pada kesabaran dan ketekunan Rahwana.
Kini kerajan Alengka sudah dikepung Rama beserta jutaan pasukan Kera. Di Taman Argasoka, Sinta berdua dengan Rahwana.
Sinta: “Rahwana,, suamiku sudah mengepungmu. Tapi suamiku orang yang pemaaf. Sana kamu keluar minta maaf.”
Rahwana: “aku sudah dari dulu ingin minta maaf ke suamimu. Dan aku akan minta maaf. Aku tidak bersalah padamu. Karena kamu titisan Widowati.”
“Dewa dulu sudah menjanjikan Dewi Widowati ke aku. Widowati menitis ke Sinta. Jadi aku tidak salah padamu. Aku salah ke suamimu.” tambah Rahwana.
Sinta: “Ya sudah sana, kamu keluar dari Taman Argasoka, temui suamiku di luar benteng. Minta maaf. Atau aku antar kamu ke suamiku?”
Rahwana: “Sinta! Aku ini satria! Minta maafnya harus dengan cara satria. Aku harus perang dengan suamimu. Aku harus mati di tangan suamimu!”
Hati Sinta mulai tergentar pada Rahwana. Kata Sinta: “Tapi kamu tinggal sendirian, Rahwana. Seluruh prajurit dan rakyatmu mati.”
Sedangkan kini suamiku, Prabu Rama telah mengepungmu bersama jutaan tentara kera. Kamu tinggal seorang diri, Rahwana. Menyerahlah..”
Kini untuk pertama kali Sinta melihat Rahwana marah kepadanya: “Apa Sinta?! Aku menyerah?? Setelah rakyat dan tentaraku mati demi aku??”
“Setelah rakyat dan hulubalangku musnah oleh tentara Kera, kini aku boleh hidup dengan menyerahkan diri?” tukas Rahwana.
Rahwana beranjak mau pergi menemui jutaan laskar Hanuman. Sebelum Rahwana meninggalkan taman, untuk pertama kali Dewi Sinta memegang. Sinta memegang dan menahan sebentar Rahwana. “Bukan karena aku jatuh cinta padamu kulakukan ini, Rahwana. Aku cuma simpati.” kata Sinta.
“Aku sangat hormat, respek, dan simpati kepada sikapmu, Rahwana..” kata Sinta.
Sinta tak kuasa berkata-kata. Rahwana mendadak bablas keluar benteng. Sepergi Rahwana, pohon Nagasari di Taman Argasoka menjadi saksi sedu sedan Dewi Sinta…..
THE EEEEEND.