Goooroooo… goooooorooooo…. apa isinya gooorooo goroooo.. derrrodog dog dog dog.. ing akoso guntur munyo gumaluduuuk anggegeteri…”
“Bumi bengkah, langit on off on off, rengat sungune lembu Andini kumitir petite Ngakak tutuking sang Hyang Hanoto Boga!!!! Derrododog.”
Isinya Goro-goro alias Chaotic yaitu kalau raja lari minta pertolongan rohaniawan, rohaniawan sebaliknya lari ke dalam keraton minta didanai. Tak ada kemandirian ratu dan pandita, tak ada jiwa otonom dari rohaniawan dan seniman terhadap para raja, itulah pertanda Goro-goro.
Banyak orang padepokan yang ketika masih di pesanggrahannya moncer, tapi ketika diangkat jadi ahli staf, ahli jadi kerbau dicocoki congornya.
Buron wono alias fauna pada lari di dalam Goro-goro..alias, cara Indonesia Timur.. Gorro-gorrone.. karena umaro (eksekutif) dan ulama baur..
Di dalam Goro-goro tak kurang-kurang rohaniawan, tapi kerjanya cuma ngajak pengikutnya nangis bareng-bareng, pameran tangis.. bukan bergerak..bergerak.. Para pengikut rohani di dalam Goro-goro hanya diajak pameran tangis.. bukan menggerakkan seluruh potensi dan energi bangsa…
Di dalam Goro-goro, para ratu alias eksekutif senang masyarakat cuma diajak tangis-tangisan, karena masyarakat yang demikian tidak membahayakan raja.
Itulah Goro-goro, persekongkolan antara rohaniawan dan jajaran raja.. raja senang negerinya dicap sebagai negara yang beragama.. padahal kerohanian yang diajarkan hanya untuk kesenangan pribadi-pribadi, “fly..fly..fly..” bukan untuk berpijak di bumi dan membangkitkan.. bukan!
Itulah Goro-goro.. Chaos.. bukan keluarnya Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Justru goro-goro rampung ketika kawula alit, Panakawan coming up!!
Rampungnya goro-goro alias chaos, ditandai munculnya panakawan yang mengiringi Arjuna, ksatria memasuki hutan alias belantara hayatnya.
Tantangan-tantangan antara raksasa pembaurekso belantara hidup dan Arjuna, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi teman ketika macet di JKT dll.
Jika kau wahai #tweepswati dan #jancukers termasuk yang eneg pada goro-goro tadi, dan membayangkan jadi Arjuna (sebagai males/females) inilah… Cakil.
Tanpa harus terlalu membanggakan leluhur, “dari mana, mau ke mana” alias filsafat eksistensialisme udah ada di Nusantara jauh hari. “dari mana, mau ke mana” alias “sangkan paraning dumadi” sudah ada jauh sebelum Sartre dan rombongannya teriak-teriak di Eropa.
Cakil: “Stop! Stop! Mandek. Dari mana asalmu Wong Bagus?”
Arjuna: kleyang kabur kanginan (ibarat bulu ayam dalam Forest Gum Tom Hanks)
Cakil: “Mau kemana, kemana tujuanmu wahai #jancukers, eh, Arjuna? Kata raksasa lincah ini sambil melakukan gerak patah-patah kayak breakdance.
Arjuna: “Cakil, aku tak punya arah tujuan. Aku cuma nuruti lampahing suku renteging budi anut satataning panembah (cuma ngikuti langkah kaki, atas dasar kehendak kalbu dengan lambaran rasa sembah pada Gusti..) That’s all…”
Cakil: “Balik!”
Arjuna: “no point to return. Yang balik hanya mayatku!”
Cakil: “Aku lebih kayak japa mantra!”
Arjuna: “Tak sudi berguru mantra padamu!”
Cakil: “Aku lebih sakti!”
Arjuna: “Tak ada yang kutakutkan dari kecekatan dan kegesitanmu. Aku penggal kepalamu nggelundung ke tanah..”
“Jika rambutmu yang gimbal nggelundung di tanah menjerat langkahku akan tetap kulangkahkan kakiku dengan dorongan budi dan cinta.” tambah Arjuna.
Cakil: “Hahahaha… Wong Bagus.. Wong Bagus.. aku lebih besar.”
Arjuna: “Sebesar apapun kamu, besarmu tak kan melebihi Gunung Mahameru.”
Cakil: “Xixixixii…. Aku lebih tinggi.”
Arjuna: “Seberapapun tinggimu tak perlu aku sampai naik Puncak Monas untuk dapat nempeleng endasssmuu..”
Setelah dialog eksistensialis itu, Cakil berperang dengan Arjuna.. Cakil dalam gerak yang sangat-sangat dinamis.. patah-patah seperti breakdance. Berbeda dengan Cakil yang serba cepat geraknya, Arjuna gerakannya mengalir… ngeli ning ora keli.. menghanyut tapi tak terhanyut.
Andai bangsa ini bukan bangsa yang minder, perang Cakil-Arjuna sekitar 10 menit bisa dipopulerkan lagi.. atraksi permainan keris Cakil.
Aah..setidaknya Perang Kembang (Cakil-Arjuna) sudah kutularkan melalui twit… met malam… End… Salam #tweepswati dan #jancukers.