Yang saya tunggu pas lebaran biasanya tape ketan bikinan Ibu saya. Warnanya hijau daun pandan. Pas hari Lebaran, pas habis sholat Ied, enak banget deh tape yang airnya sudah keluar itu.
Kalau Rudy Choiruddin bilang, kaldu adalah inti dari seluruh makanan di Indonesia, saya yang bukan chef ini akan bilang tape ketan lah inti dari seluruh masakan di Nusantara. Kadang saya campur tape ketan itu dengan sirup, kadang dengan kacang. Malah kakak-kakak saya heran, waktu melihat tape ketan itu saya tuangkan ke dalam rawon dan soto.
Mungkin karena makanan ini punya falsafah yang menarik. Setidaknya menurut tafsiran saya sendiri. Warnanya yang hijau daun pandan, bukan seperti hijaunya PKB dan PPP, saya rasa, sebagai “Islam yang tidak terlalu Islam”. Artinya, sesuatu yang katakanlah kita impor dari Arab itu masih kita adaptasikan dan kita baurkan dengan tradisi Nusantara. Ini sejalan juga dengan wayang, yang saya geluti. Falsafahnya, sudah Islami seperti diajarkan Sunan Kalijaga, tapi bentuknya masih Hindu.
Kebetulan saya juga bukan peminum. Tapi konon tubuh kita juga perlu alkohol untuk memperlancar peredaran darah. Kyai-kyai di kota saya, yang dikenal di kota santri, Situbondo, Jawa Timur, tidak melarang saya memakan tape ketan.
Maka dengan makan tape ketan itu nafsu-nafsu gelap yang masih manusiawi di dalam diri saya masih tersalur. Saya masih bisa ngerasain alkohol dalam takaran tertentu buat kepentingan kesehatan. Pada saat yang sama tidak melanggar pakem-pakem para Kyai yang sangat dihormati di kampung kami.
Tentang tape ketan ini, falsafah yang sebenarnya apa, saya tidak tahu. Tapi hampir seluruh makanan daerah biasanya punya falsafah. Ketupat misalnya, yang kemudian dikenal dalam tradisi Brunei, Singapura dan Malaysia, punya falsafah “mengakui” kesalahan. Kata “ketupat” atau “kupat” adalah singkatan “ngaku lepat” yang dalam bahasa Jawa berarti mengakui kesalahan.
Makanya dalam beberapa pantun Ludruk sering ada ungkapan begini:
Mangan kupat nganggo santen
Menawi lepat nyuwun pangapunten.
(makan ketupat pakai santan, bila ada kesalahan mohon dimaafkan).
Malah pada jaman pemerintahan Paku Buwono IV, ketupat dianggap sebagai penolak bala atau jimat. Biasanya ketupat yang sudah matang itu kita gantung di kusen pintu depan rumah. Dengan pisang lebih afdol lagi. Keduanya tergantung sampai berhari-hari. Kadang berbulan-bulan sampai kering.
Bentuk ketupat yang segiempat juga mengasosiasikan “kiblat papat lima pancet” (artinya satu pusat empat penjuru). Maknanya, ke penjuru mana pun kita menyembah tetap saja yang kita sembah adalah satu.
Ada juga yang bilang, keempat sudut ketupat itu melambangkan nafsu amarah, nafsu supiah, nafsu lawamah, dan nafsu mutmainah yang harus kita gladi pengendaliannya di dalam bulan puasa. Jadi terserah sampeyan semua dalam lebaran ini. Mau kirim ketupat, atau ketan hijau atau parsel.