AREA 2009 - 2010

AREA 89 Apa Jakarta Masih Inspiratif?

3,482 Views

TejomusikSemua orang kayaknya Ge-Er deh. Termasuk saya. Sering saya nyangka, semua pasti sudah tahu tentang diri saya.Ternyata salah kan? Hingga pekan kemarin, pas duduk-duduk di Surabaya, ada mahasiswi ITS yang mengira saya berumah di Yogyakarta.

“Nggak. Saya tinggal di Jakarta,” jawab saya sambil agak kesel. Kesel karena Ge-Er masa’ sih yang pokok-pokok tentang diriku aja nggak tahu.

Tapi pertanyaan mahasiswi arsitektur itu selanjutnya agak menarik, “Memang Jakarta masih inspiratif?”

Sebenarnya sudah tidak sama sekali. Wong beberapa kali saya pengin pindah. Mungkin ke Bandung. Atau yang saya naksir tuh sekitar Gunung Salak, Sukabumi. Bikin puisi. Atau apa gitu. Ngelukis tiap hari di sana dengan hawa pegunungan. Kabut dan kebun sayur. Ke Jakarta… Yaaa..sekali-sekali saja pas jualan lukisan atau nego-nego apa gitu.     Apalagi dengan kemacetan Jakarta yang semakin gila-gilaan ini. Penyebab utama saya stress bukan yang lain-lain, tetapi tidak bergerak di jalanan. Wuah itu bisa sampai ke ubun-ubun spaneng-nya.

Temen-temen juga sama. Penyebab utama mereka stress bukan urusan keuangan, asmara, harga sembako dan lain-lain. Kemacetan jalan rayalah si biang kerok.

Dan untuk mengatasi itu biasanya mereka nongkrong bareng karibnya, nonton film, dengerin musik atau baca buku-buku kecil tentang humor.

Sebagian besar mereka hafal betul joke-joke dalam buku humor yang mereka baca. Sisanya lupa, tetapi masih ketawa kalau temennya menyitir humor itu. Sisanya lagi bisa menceritakan humor di dalam buku saku itu tetapi lupa kelanjutannya.

Tapi kongkow-kongkow itu biasanya tidak dimaksud untuk mendengarkan salah seorang melawak. Seringkali kejadian-kejadian yang menyebalkan di kantor, malah jadi bahan haha-hihi ketika di-share dalam obrolan.

Seorang teman yang bekerja di perusahaan auditor menceritakan kekesalan dan rasa malunya karena si bos menegurnya bukan karena teknis pekerjaan, tetapi karena bau badan. “Padahal sudah tiap 2 jam saya pakai deodoran,” katanya.

Apapun cara penghilangan stress, minimal kami masih beruntung belum menjadi pasien maupun penghuni rumah-rumah sakit jiwa yang tersebar di Jakarta sejak RSJ Soeharto-Heerdjan di Grogol, RSJ Persahabatan di Jakarta Timur, RSJ Duren Sawit termasuk di RS Cipto Mangunkusumo.

Masih beruntung kita belum termasuk di dalam 360 ribu jiwa penderita gangguan jiwa, karena menurut taksiran WHO 1-3 persen penduduk Jakarta menderita hal itu. Padahal jumlah warga Jakarta sekitar 12 juta jiwa.

Apakah saya harus menunggu sampai masuk ke dalam 360 ribu jiwa itu baru pindah meninggalkan Jakarta?

Hehe…pertanyaan itu baik juga dialihkan menjadi pertanyaan pribadi setiap pembaca.

Balik lagi ke mahasiswi arsitektur…Mungkin karena semacet-macetnya Jakarta kota ini masih mengandung kebudayaan juga seperti Solo, Yogya dan Bandung. Banyak konser-konser musik maupun teater di luar jalur industri. Kita segera mendapatkan tontonan alternatif di luar yang kerap muncul dan membosankan di televisi. Kita bisa pergi ke Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Salihara, Kota Tua dan lain-lain.

Solo mengandung banyak muatan budaya, namun terlalu sepi. Yogya lumayan ramai, tapi jauh dari Jakarta.

Kenapa tidak Bandung?

Akan saya pikirkan…