AREA 2009 - 2010

AREA 91 Cinta…Senyum…Harapan…

4,732 Views

TejomusikCinta sudah tentu tak bisa menghilangkan rasa takutmu.
Tapi, tiap kali ketakutan itu datang, cinta akan sanggup membuatmu melupakan ketakutan itu

Ada yang lalu menanggapi syair tersebut, orang mau sarapan perlu duit. Harapan tidak bisa dipakai untuk membayar sarapan. Ya, tapi harapan kan setidaknya bisa menjadi tenaga buat tersenyum? Dengan tersenyum, bukankah daya tahan kita jadi lebih lama?

Harapan menimbulkan senyum atau senyum membersitkan harapan? Ah, saya ndak ahli soal begituan. Tapi teman yang saya jumpai di Bandara Juanda, seorang motivator dan pengusaha liur lebah, bilang bahwa senyum juga dapat menerbitkan harapan     Apa pun, tahun depan kita tidak ingin kehilangan harapan. Tahun depan kita tidak ingin kehilangan senyum.

Ini saja sudah membuat saya tersenyum. Kabarnya dalam penjualan makanan tahun 2011, tren produk makanan berslogan ‘all-natural’ akan mulai ditinggalkan. Produsen makanan akan mengadopsi slogan baru, ‘artisan,’ yang berkesan ‘buatan tangan.’ Klaim tersebut lebih menarik calon pembeli yang peduli sentuhan manusia dalam berproduksi, dan yang ingin mendukung produsen kecil.

Dan bagaimana kita tidak akan tersenyum? Kabarnya tren kemasan plastik untuk mengepak produk, yang mulai ditinggalkan saat ini, makin akan tak populer lagi tahun depan. Para produsen akan memilih kemasan non-plastik sama sekali. ‘Cardboard tetra packaging’ dan ‘compostable pouch’ diproyeksikan akan menggantikan 40 persen kemasan produk dalam lima tahun mendatang. ”Banyak perusahaan akan meninggalkan botol plastik sama sekali,” kata pemrediksi tren, Faith Popcorn.

Kalau tadi soal senyum, sekarang soal harapan. Saya berharap tahun depan orang-orang mulai meninjau kembali pemahaman mereka terhadap cinta. Terutama pemahaman yang salah kaprah.

Dalam hal kemacetan saja, ambil salah satu contoh yaitu Jakarta, kehidupan semakin keras. Akan semakin menghimpit lagi kalau di dalam kekerasan hidup itu, kesengitan persaingan dan lain-lain kita tetap saja secara salah merasa bahwa cinta memerlukan pengorbanan.

Tahun 2011, ketika jalanan semakin macet, betapa makin tertekannya kita kalau masih merasakan pengorbanan atas nama cinta.

Karena dalam pemahaman saya, cinta tak kenal pengorbanan. Justru ketika kita mulai merasa berkorban untuk orang-orang yang kita cintai, pada saat itu juga sebenarnya cinta kita mulai meredup.

Jangan-jangan kita merasa berkorban karena setelah dihitung-hitung apa yang kita berikan tak setimpal dengan apa yang kita dapatkan.

Ah, mungkin itu pula sumber salah kaprah munculnya “cinta perlu pengorbanan”.  Bagi saya, untung dan rugi tak bisa dineracakan di dalam cinta. Karena cinta itu sendiri munculnya tanpa alasan.

Jika kita mulai dapat menjelaskan mengapa mencintai seseorang atau sesuatu, bagi saya itu bukanlah cinta tetapi kalkulasi. Saya tidak berharap tahun depan kita sulit tersenyum karena segala hal kita kalkulasikan.

Tahun depan, kita berharap tidak terlalu banyak hal sia-sia yang kita lakukan. Apakah hal paling sia-sia di muka bumi? Menurut Semar, memberi nasehat kepada orang yang sedang jatuh cinta.

Bagi orang yang sedang jatuh cinta, satu kritik kita ucapkan buat yang sedang dia cintai, maka mungkin dia punya 1.000 kali pujian. Sekali saja kita ejek tanah airnya dengan peristiwa wig dan Gayus, dengan peristiwa saling melapor bahkan di tubuh penegak hukum macam Mahkamah Konstitusi, orang yg sedang kasmaran masih punya puja-puji lainnya tentang tanah air ini.

Sekali kita cerca bahwa yang dicintainya sama sekali tak punya kelebihan, orang yang sedang jatuh cinta akan punya seabrek pembelaan. Mungkin dia akan bilang, kami tak saling mencintai karena tahu kelebihan masing-masing…sori sori sori Jack …Tapi, seperti Semar pada istrinya, Kanastren, mereka merasa beruntung dari jutaan orang lain. Mereka jatuh cinta bukan karena kelebihan masing-masing. Mereka jatuh cinta justru karena mengetahui kekurangan pasangannya.

Lalu apalagi yang kita takutkan pada 2011. Dewa asmara Kamajaya berkata kepada istrinya Kamaratih,”Cinta sudah tentu tak bisa menghilangkan rasa takutmu. Tapi setiap kali ketakutan itu datang, cinta akan sanggup membuatmu melupakan ketakutan itu.”