Sindo

Budi Pekerti

4,065 Views

Dua hari lalu saya numpang mobil teman. Kebetulan ia searah tujuan saya. Teman ini ndak konsen nyetir. Saya ingat-ingat ada sekitar empat sampai lima kali ia terima telepon. Kelihatannya si penelepon sewot. Main putus telepon. Nelepon lagi. Marah-marah.

Akhirnya temen ini mungkin udah ndak kuat nahan, ngomongin kekesalannya. Jadi, duduk perkaranya, kawan ini diminta nganterin mobil bosnya ke seseorang. Orang itu, si penelepon, pinjam mobil buat liburan keluarga pas Hari Kenaikan Isa Al Masih sampai akhir pekan lalu.

Pasalnya, si peminjam ngorder mobilnya mendadak. Padahal, Rabu lalu, Jakarta macet seperti biasa pas menjelang libur panjang. Artinya perlu waktu yang sedikit nggak jelas buat perjalanan nganter mobil. Bisa molor sampai 2-3 jam. Nah di situlah si penelepon ngamuk-ngamuk.

“Dia itu apa nggak mikir orang lain, ya? Kok pikirannya cuma ke anak-anaknya yang mau liburan,” gerutu teman saya. “Ini kan sudah pinjam mobil gratis. Malah mobilnya dianter. Telat juga bukan karena kemauan saya sendiri, tapi karena macet…Saya itu sekarang makin banyak ketemu tipe orang begini lho. Gak mikir orang lain.”

Dalam hati saya bilang, wah saya punya kawan baru nih dalam hal penglihatan. Terutama sudah sepuluh tahun terakhir ini saya lihat kian banyak manusia di Indonesia yang pikirannya cuma pada keluarganyaaaaaaaaaaaaaaa…. terus. Ndak peduli pada orang lain.

Tentu keluarga memang penting. Guru agama saya dulu sering menandaskan, jihad, atau berjuang, tidak mesti harus maju ke medan tempur. Babak belur mencari nafkah demi keluarga tak kalah penting. Itu juga termasuk jihad fisabilillah, berjuang di jalan Allah. Mati mencari nafkah demi keluarga juga bisa disebut mati sahid. Jadi suhada.

Bulan lalu ketika ke Medan sepesawat dengan seorang eksekutif pabrik pupuk di Palembang, teman perjalanan ini juga bilang pentingnya keluarga. Malah sasaran zakat, kata teman baru yang kelihatannya pemerhati Al Quran ini, pertama adalah keluarga. Anak-anak, orangtua, mertua. Baru setelah itu ke orang lain.

Tapi dia wanti-wanti, pemberian buat keluarga dan kerabat itu ada batasnya. Kita sendiri yang menentukan batasnya. Tepatnya hati nurani. Kalau diturutin terus, pemberian atau perhatian ke keluarga tak akan pernah cukup. Batas pemberian itu penting, karena, katanya, kita juga punya kewajiban alias tanggung-jawab untuk memikirkan orang lain.

***

Kok menurut saya inilah inti persoalan kita sekarang. Harga-harga mahal seperti kerap dikeluhkan ibu-ibu kepada Oneng (Rieke Diah Pitaloka), pemilihan kepala daerah rata-rata ricuh dan sebagainya hanyalah soal permukaan. Intinya, sebagian besar warga Indonesia terlalu memikirkan keluarganya sendiri.

Ketika tiap-tiap kepala keluarga mulai beranjak berkenan memikirkan orang lain, saya kira, misalnya, pasti kurang lagi terdengar berita rutin tahunan bocornya soal-soal Ujian Nasional. Harga-harga pasti tidak selalu nempel ikut naik, seperti perangko, terhadap kenaikan gaji pegawai maupun upah minimum buruh. Ratna Sarumpaet juga tak akan marah-marah terus setiap ngomong di forum.

Ya, saya punya keyakinan itu. Yakin seyakin-yakinnya.

Bagaimana cara menumbuhkan kepedulian pada sesama, yang bukan cuma keluarganya? Saya usul melalui pendidikan budi pekerti. Sayangnya nama ini memang terdengar kuno, dan seolah-olah nyangkut dengan asosiasi Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan (zaman dulu “Civic”), maupun P4 pada masa Pak Harto.

Maka mendengar kata “budi pekerti” kita cenderung alergi, karena memang membuat ingatan kita lekas menuju ke hal-hal yang nggak mengenakkan, yakni pelajarannya penuh jargon, penuh semboyan, penuh propaganda dan sebagainya tetapi kosong.

Kalau ada nama lain yang bisa kita usulkan sebagai pengganti “budi pekerti”, saya kira menarik. Sementara ini saya pakai “budi pekerti” dulu. Tapi jangan salah. Saya bukan orang pertama yang mengusulkan ini. Sudah banyak. Baik tertutup maupun terbuka.

Dan rata-rata mereka adalah orang-orang yang mulai cemas memandang perilaku kita. Betapa kita semakin mementingkan diri sendiri dan keluarga. Rata-rata mereka orang yang was-was bahwa hancurnya bangsa ini tak lama lagi jika kepedulian pada orang lain tak dibangkitkan, jika sekolah-sekolah tak menggalakkan kembali pelajaran budi pekerti.

***

Kampanye Al Gore tentang penyelamatan lingkungan menurut saya bisa jadi inspirasi pendidikan budi pekerti. Lewat kampanye via media audio visual yang mengantar Al Gore dapat Nobel, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat itu menunjukkan betapa terkaitnya berbagai unsur di atas bumi ini.

Bahwa negara yang satu dengan yang lain, serta seluruh bagian di masing-masing negara, semua dan seluruhnya saling teranyam dan terjalin dalam menghasilkan pemanasan global. Sehingga kalau seluruh negara dan seluruh bagian itu tidak bahu-membahu meredam pemanasan global, Manhattan akan tenggelam, Calcutta silam, Amsterdam karam, Beijing ilang dan banyak lagi daratan yang raib….

Peta bumi juga mesti terus-menerus digambar ulang karena terjadi perubahan yang tak henti-henti. Yaitu, daratan makin menyempit.

Pelajaran budi pekerti tak usah pakai slogan-slogan dan semacamnya. Pelajaran budi pekerti cukup menggambarkan dan menyadarkan betapa sesungguhnya antar-manusia, saudara atau bukan, sebangsa atau bukan, saling terkait.

Tanpa kesadaran itu suatu masyarakat akan runtuh. Dan jika masyarakat runtuh, pada akhirnya keluarga-keluarga yang cuma asyik mikirin diri sendiri itu akan tenggelam juga seperti Amsterdam, seperti sebagian Indonesia pula. Dan dalam tempo yang tak lama.

Dimuat di harian Sindo No. 84, tanggal 03 Mei 2008)