Koran Jakarta

Dongeng Cinta Kontemporer I Sujiwo Tejo

4,896 Views

dc1st2aSastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu

Rahwana adalah satu-satunya tokoh wayang yang tidak boleh mati. Rahwana akan selalu ada dunia.
Tema pewayangan yang terlalu rumit coba “dibumikan” oleh Sujiwo Tejo dengan kisah sederhana. Namun, pesan yang ingin disampaikan sepertinya jauh panggang dari api.

Bagaimana mungkin dari seorang Wisrawa begawan cerdik cendekia, bijaksana berpengetahuan luas, dan Dewi Sukesi yang haus ilmu kesejatian hidup justru melahirkan sang maha angkara, Rahwana. Padahal, dengan ilmu yang dimiliknya, Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu, Wisrawa sebenarnya sudah mencapai kesejatian hidup.

Ilmu itulah yang kemudian oleh Sujiwo Tejo, diberi makna dan dijelaskan melalui kejadian-kejadian sepele dalam keseharian. Pentas dalam format musik drama di Gedung Kesenian Jakarta, pekan silam (28-29/5), di panggung Tejo menghadirkan piano, saksofon, gitar, sampai seruling. Ada setting panggung dengan meja dan kursi, bunga dalam vas, serta iringan musik dari Vicky Sianipar.

Berkopiah hitam dan rambut klimis, Tejo yang juga mantan wartawan ini muncul dari balik layar. Dia bersarung, berbaju koko putih, dan selop hitam. “Aku memulai cerita ini dari kisah tetanggaku,” begitu Tedjo memulai pertunjukannya. Tetangganya itu, tutur Tejo, mendadak gila, perabot-perabot dihancurkan dan rumah diobrak-abrik. Tak cukup hanya itu, dia kemudian juga mempermalukan dirinya sendiri hingga akhirnya harus dikirim ke rumah sakit jiwa di Kartosuro, Jawa Tengah. Mas Gagah, begitu si gila dipanggil oleh tetangga-tetangganya, memang benar-benar gagah. Badannya tinggi besar, santun, dan tentu saja berbudi.

Sambil menceritakan tetangganya, sesekali Tejo yang dijuluki “dalang edan” lantaran kerap melanggar pakem pewayangan ini, berdendang dengan gitar dan saksofonnya. Juga bergerak dari ujung ke ujung panggung menirukan tingkah si tetangga itu. Artikulasinya prima, bahasa tubuhnya juga maksimal, dan dengan jalinan cerita yang sederhana dia berhasil menggiring penonton untuk bersama-sama tertawa, merasa sentimentil, atau sekadar misuh-misuh.

Si tetangga itu, kata Tejo, menjadi gila karena dia sangat membenci orang gila. Entah dari mana hubungannya. Tetangganya itu juga sangat membenci polisi. Maka, ketika anaknya lahir dan kemudian memilih kuliah di sekolah seni, dia bersorak. “Alhamdulillah..anakku tak jadi polisi,” Tejo menirukan tetangganya. “Bukankah tak semua polisi buruk?” tanyanya. “Iya, memang tak semuanya buruk. Seperti kecoak, tak semua kecoak itu menjijikan? Tapi, bukankah kecoak tetaplah …”

Di tengah kuliahnya, Yuan –anak perempuan si gila itu- tiba-tiba dilamar polisi. Ibunya, yang tak ingin anaknya menjadi seniman langsung sepakat. Untunglah polisi yang melamar ini adalah polisi yang jujur. Saking jujurnya, ia bahkan tak memiliki uang sehingga tak dapat berobat saat sakit. Yuan yang lantas mencari uang. Dia menjadi sinden, kemudian terkenal hingga akhirnya menjadi cem-ceman salah satu walikota di Jawa Timur.

Membenci orang gila lalu menjadi gila. Membenci polisi lalu punya menantu polisi, jadi cem-ceman walikota pula. “Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu,” Tejo berteriak lantang. Ya, Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu adalah ilmu tentang kesejatian hidup. Tapi, hanya begitukah dia mengajarkan pada penonton makna hakiki ilmu tersebut? Melalui cerita tetangga-tetangga itu?

“Aku menggunakan persoalan sehari-hari yang ada dalam masyarakat, persoalan sepele-sepele itu untuk menjelaskan Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu,” ungkap Tejo saat ditemui usai pertunjukan. Awalnya, tutur Tejo, dia memang hendak bercerita tentang ilmu kesejatian itu dengan pertunjukan yang lebih serius. “Banyak yang mengingatkan Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu bagi penonton berbahaya dan terlalu rumit. Bila tidak siap menerimanya akan gila, karena kamu adalah Tuhan dan Tuhan adalah kamu” terang Tejo saat ditanya mengapa judul Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu dipertunjukan berubah menjadi Dongeng Cinta.

Cuma Tempelan
Walau berubah di saat terakhir, bukan berarti Tejo tak menggarap serius lakon ini. Bahkan, sebelum mementaskan lakon ini, dia menyempatkan puasa mutih selama 40 hari, karena lakon Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu adalah lakon wingit (angker) dan dia hendak memain-mainkan lakon itu. “ Bahaya kalau nggak siap. Karena baik dan buruk menjadi sama saja, rumput akan menjadi binatang, binatang menjadi manusia, dan manusia menjadi binatang,” ujarnya sedikit bercerita tentang ilmu itu.

Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu adalah kisah awal babad Ramayana. Bertutur tentang ilmu untuk mencapai kesempurnaan hidup yang bisa mengungkap rahasia alam semesta beserta perkembangannya. Ilmu ini sebelumnya hanya dimonopoli oleh para dewa untuk mempertahankan dominasi terhadap manusia. Hingga suatu ketika saat begawan Wisrawa hendak mengajarkan ilmu itu kepada Dewi Sukesi, para dewa ketakutan karena bila manusia menjadi sempurna konsekuensinya manusia tidak lagi membutuhkan mereka.

Dewa lalu menyabotnya, saat Wisrawa sedang mengajarkan Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu, Bethara Guru masuk ke dalam tubuh Wisrawa dan Bethari Uma menyelundup dalam tubuh Dewi Sukesi. Api asmara dikobarkan antara keduanya, hingga terjadilah peristiwa terlarang itu sebelum ilmu Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu utuh dijabarkan Wisrawa pada Sukesi. Dari hubungan itulah lahir segunung darah yang karena marahnya pada dewa kemudian dicipta oleh Wisrawa menjadi Rahwana, dan sebuah kuku menyertai darah itu yang menjadi rasaksa perempuan bernama Sarpakenaka.

Berturut- turut kemudian lahir Kumbakarno, raksasa berhati mulia dan Gunawam Wibisana sebagai gambaran akhir yang tercerahkan dari Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu. Dan sebagai sebuah simbol, Rahwana adalah satu-satunya tokoh wayang yang tidak boleh mati. Rahwana akan selalu ada dunia. Raksasa yang disimbolkan sifat jahat dalam diri manusia.

“Aku bukan ge er, orang yang ingin melihat pertunjukan ini ringan maka akan melihat pertunjukaan ini ringan. Tapi kalau ingin melihat dalam dia akan menemukan kedalamannya, walau hanya dengan contoh tetangga-tetangga itu,” ujar Tejo mengakhiri perbincangannya. Bagi yang tak mengerti wayang, terlebih ilmu Sastrajendra Hayuningrat Panguwating Diyu, tentu cukup menyimak aksi nyeleneh Tejo saja di atas panggung.(teguh nugroho/adiyanto/foto Wachyu AP )

Dikutip sepenuhnya dari Koran Jakarta edisi Minggu, 31 Mei 2009 (teguh nugroho/adiyanto).

http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=9332