Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 125 Cinderella Negeri 1001 Sandal

2,644 Views

Episode125INGGRISNYA cas cis cus. TOEFL-nya lebih dari 600. Kalau megawe ndhuk kementerian perdagangan yang pak menterinya menjunjung TOEFL, pasti ia sudah jadi di atasnya menteri atau … walah ... di atasnya presiden malah. Namanya Cinderella. 

Sesuai koridor hukum, eh, koridor namanya … ia memang ayu. Meski ayu, badannya sudah mulai nglentruk. Mungkin karena sudah sepuluh harian ia masuk kampung keluar kampung menenteng sandal jepit. Itu pun hampir ndak ada penduduk yang mau mencoba alas kaki bawaanya. Mereka seolah takut begitu memegang sandal itu lantas dianggap mencurinya dan dituntut 5 tahun penjara. Padahal, sudah jelas-jelas diumumkan: barangsiapa kaki nya pas dengan sandal jepit bawaan Cinderella, yang bersangkutan akan dilantik menjadi presiden.

Tetap saja penduduk menghindar. Tak sedikit malah yang lebih percaya rasan-rasan bahwa, memang, kalau kakinya pas sandal itu akan dijadikan presiden. Tapi, kalau tidak pas akan dibantai atau dibakar atau ditembak seperti warga Aceh, Bima, Mesuji, maupun Sampang.

Bumi gonjang-ganjing …

Untuk menarik simpati warga, sampai-sampai perempuan semampai berambut blonda itu belajar dari orangorang partai dan tukang obat. Orang partai pakai janji-janji dan duit. Tukang obat pakai ular dan sulapan. Nah, nah, nah …, Cinderella mengaku masih seduluran dengan Dewi Nawangwulan dalam legenda Jaka Tarub. Nasibnya saja yang beda. Ia tak kehilangan selendang pas ciblon di sendang. Cinderella kehilangan sandal.

Eh, tetap saja masyarakat tidak mau merubung Cinderella.

“Ya, masyarakat kan sudah cerdas. Mereka mana mudah percaya lagi sekarang ke siapa pun,” kata ponokawan Gareng. Kebetulan Gareng dan adik-adiknya, Petruk dan Bagong, menginthili perawan ayu itu naik turun gunung, termasuk menyeberangi lahar dingin Semeru.

Lanjut Gareng, “Masyarakat tahunya kan bukan Cinderella yang membawa sandal ke mana-mana. Sandal itu ditemukan oleh seorang pangeran. Pangeran inilah yang bikin sayembara: Siapa pun, mau gadis kota maupun pegunungan, kalau kakinya pas dengan sandal itu akan diangkat jadi putri. Lha wong trembesi yang ditanam presiden di istana tumbang kena angin mereka juga dengar kok.”

Cinderella mangsuli Gareng tapi seperti biasa dalam bahasa Inggris. Ia tidak percaya Gareng. Masa’ orang udik yang rumah-rumahnya reyot ngerti cerita tentang Cinderella.

“Lho, jangan terkecoh penampilan luarnya,” Gareng bersikukuh. “Memang rumah mereka seperti gubuk. Tapi di balik itu, di belakang itu, toilet mereka harganya lebih dari Rp 2 M.”

Really?”

Yes. Buktinya apa? Buktinya wakil rakyat saja toiletnya Rp 2 M. Itu baru wakilnya lho, apalagi rakyatnya ….”

***

Malam harinya berlangsung musyawarah tertutup ponokawan: tetap mengikuti Cinderella menawarkan sandal jepit atau tidak. Toh dagangannya ndak laku. Ternyata kemampuan bahasa Inggris ndak njamin kemampuan berdagang. Cina dan Jepang ngomong Inggrisnya payah. Toh mereka menguasai perdagangan.

Tapi no problem. Mereka tetap akan mengikuti Cinderella. Gareng tertarik pada perawakan Cinderella yang lencir kuning. Petruk tertarik karena wanita ini selalu bawa cemilan dan agak loma. Petruk selalu kebagian.

Bagong entah tertarik pada apanya. “Dia mengingatkan aku pada istriku sewaktu muda,” katanya. Gareng dan Petruk yang blas tak melihat kemiripan Cinderella dan Bagnawati saling cengengesan. Tapi agar Bagong tak tersinggung dan mau ikut nginthil, mereka pura-pura membenarkan. Bagong pun tampak berbinar-binar dan tetap semangat ikut, atau teteup cemungudh ikut kalau dalam bahasa generasi 4L4Y.

Di bang bang wetan pagi itu Cinderella memutuskan untuk menjajakan sandal jepit ke pulau kecil seberang Sungai Yamuna. Tukang perahu motornya perempuan. Namanya Dewi Durgandini atau lebih terkenal dipanggil Dewi Lara Amis. “Lara” artinya sakit. “Amis” berarti anyir. Meski cantik, seluruh tubuh perempuan itu memang penuh bercak dan anyir baunya.

Lara Amis tidak tersinggung Cinderella dan ponokawan sampai memakai masker. Perempuan berambut panjang itu malah sibuk membanggakan perahu motornya. “Tahu nggak? Ini bikinan dalam negeri. Pembuatnya ya yang bikin mobil Esemka Digdaya itu. Seandainya Kota Solo itu kota perairan, sudah pasti Pak Wali Jokowi pakai perahu yang kalian tumpangi ini ….”

Menjelang berangkat, ada satu penumpang lagi naik. Seorang lelaki yang tampak gentur bertapa.

***

Laki-laki itu bernama Resi Palasara alias Parasara, putra tunggal Begawan Sakri. Tinggalnya di Pertapaan Sata Arga atau Sapta Arga di Gunung Rahtawu. Sejak kanak-kanak ia sudah yatim piatu, diasuh oleh Begawan Manumayasa, kakeknya.

Karena sakti, Resi Palasara bisa menyembuhkan Dewi Lara Amis. Seketika di tengah sungai kulit perempuan yang sebelumnya serba-anyir ini menjadi mulus malah kini harum aromanya. Ponokawan terbelalak. Cinderella yang semula merasa paling cantik di perahu “Jokowi” itu kini tampak cemburu.

Mendadak terjadilah pergumulan di atas air itu.

Bekas bercak-bercak luka Dewi Lara Amis menjelma raksasa. Amuk sang raksasa terhadap Resi Palasara memecahkan perahu. Lara Amis, Cinderella dan ponokawan kampul-kampul di tengah sungai Yamuna naik pecahan bagian tengah perahu. Pecahan bagian haluan dan buritan sama-sama menjelma manusia.

Resi Palasara berhasil menaklukkan semuanya. Raksasa jelmaan penyakit kulit dinamainya Rajamala. Jejadian pecahan haluan dan buritan perahu masing-masing diberinya nama Rupakenca dan Kencakapura. Adapun malihan dari dayung dijulukinya Dewi Rekatawati. Semuanya disuruh Resi Palasara untuk ngenger menjadi abdi dalem kerajaan Wirata.

Sampai di pulau terpencil itu Palasara dan Dewi Lara Amis memadu kasih hingga berputra Abiyasa alias Kresna Dwipayana yang berarti anak hitam di suatu pulau.

Saat dewasa, sandal yang dibawa Cinderella ternyata pas untuk kaki Abiyasa. Pantesan Abiyasa pun memimpin kerajaan Astina dan menurunkan Pandawa- Kurawa, para raja Astina.