Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 147 “Junk Food” Membunuh Pancawala

8,473 Views

STcartoon1Hidup tak hanya urusan orang-orang top. Orang-orang top malah sebenarnya ndak ada apa-apanya kalau ndak banyak orang yang ndak top. Dan ini termasuk tokoh wayang yang tidak beken. Namanya Pancawala. Dia anak si sulung Pandawa Prabu Yudistira dengan Dewi Drupadi.

Kenapa banyak yang tak mengenal nama Pancawala alias Pratiwindya?

Menurut ponokawan Gareng, ya karena lumrahnya orang cuma mau dengar nama-nama kondang. Padahal banyak sekali orang-orang yang hebat banget walaupun namanya cuma terdengar sampai batas RT/RW-nya sendiri.
Banyak pemuka agama yang sejatinya berilmu sangat tinggi, tapi masyarakat malah memburu tokoh-tokoh agama yang kerap muncul di televisi. “Jangan ada yang tersinggung. Ini cuma guyon. Tapi kira-kira begitulah perbandingannya,” tambah Gareng kepada adik-adiknya, ponokawan Petruk dan Bagong.

“Lho, Kang Gareng, sebentar to … bukannya Dewi Drupadi nikah dengan kelima anggota Pandawa? Hmmm…Apa itu istilahnya…kalau satu perempuan banyak lelaki?” tanya Bagong.

“Poliklinik!”
“Hush! Poliandri!” sergah Gareng membetulkan Petruk.
Memang, putri dari kerajaan Pancawala Dewi Drupadi itu menurut versi India berpoliandri dengan kelima Pandawa. Anaknya dari Yudistira ialah Pratiwindya, dari Bima: Srutasoma, dari Arjuna: Srutakirti, dari Nakula: Srutanika dan dari Sadewa: Srutakarman.

“Wah, wah, wah…Kok saya baru dengar, Reng?” Bagong heran.
“Lha kamu yang saben hari ngumpul Pandawa saja ndak mudeng soal anak-anak Drupadi dari masing-masing anggota Pandawa, apalagi masyarakat sawantah, Gong!”

“Berarti bukan sekarang saja kita lebih silau ke orang-orang yang kondang kaonang-onang ya, Reng?” timpal Petruk. “Dari dulu pun manusia sudah dikulinakno cuma mengenali orang-orang terkenal?”
“Mestinya kita mengenali orang-orang yang tidak terkenal, kalau sudah terkenal buat apa kita kenali lagi. Begitu, kan Kang Gareng?” Bagong penasaran.

“Sudah. Sudah. Ndongengku tadi sampai mana ya …? Oh, sampai anak-anak Dewi Drupadi versi India…Nah, kalau dalam pedalangan di Nusantara, Dewi Drupadi ndak berpoliandri. Putri Raja Prabu Drupada itu hanya menikah dengan Yudistira dan berputralah Pancawala.”

***
Suatu hari di sudut gubuk Bluluktibo, dusunnya Gareng, sulung ponokawan itu melanjutkan penjelasannya. Katanya, yang tidak terkenal padahal penting tak cuma manusia. Banyak juga buah tangan manusia yang tidak top padahal penting.
“Hayo, coba sekarang wahai bedes-bedes, nyanyikan tembang dari Serat Kalatida karya Ngabehi Ronggowarsito,” Gareng memberi tebakan kepada adik-adiknya.

“Amenangi zaman edan…Ewuh oyo ing pambudi …Melu edan ora tekan … Yen tan melu anglakoni … mboya keduman melek … kaliren wekasanipun, ” Bagong spontan menembang, menjawab tantangan Gareng.

Petruk sontak menerjemahkan tembang itu. Eh, sambil ia lagukan pula, “Memasuki zaman edan … Serbah salah kita semua…. Ikut edan tak sampai hati …Tapi kalau tak ikut jadi gila tak punya apa-apa dan kelaparan…”
“Itu karya yang terkenal dari sang pujangga,” jelas Gareng. “Yang aku maksud tadi karya yang tidak terkenal tapi penting dari almarhum!”

Gareng lantas mencontohkan tembang macapat dalam melodi Sinom dari Serat Kalatida karya Ronggowarsito:

Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Parandene tan dadi
Paliyasing kalabendu
Malah mangkin andadra
Rubeda kang ngreribeti
Beda-beda hardaning wong sak nagara

(Presidennya, kabinetnya, anggota dewannya dan para pegawainya semua bekerja keras. Tapi mengapa kemakmuran dan keadilan tak kunjung terwujud, malah selalu timbul malapelata? Karena semuanya termasuk rakyatnya cuma suka-suka mengikuti keinginannya udelnya masing-masing).

“Tembang itulah yang aku maksud,” jelas Gareng. “Kalian percaya ndak, Menpora Pak Andi Mallarangeng hafal lho tembang itu? Kok kalian bisa nggak tahu?”

***

Karena setiap pemimpin dan seluruh rakyatnya cuma menuruti keinginannya sendiri-sendiri, Pancawala terbunuh saat hendak melangsungkan pernikahan dengan Dewi Pergiwati, kakak Dewi Pergiwa yang diperistri Raden Gatutkaca.
“Dibunuh oleh rokok apa dibunuh oleh junk food?” sela Petruk sekenanya keluar dari topik obrolan.
Hampir saja Gareng naik pitam kalau tidak direh-reh oleh Bagong.

Kata Bagong sambil ngelus-ngelus pundak Gareng, “Petruk itu ada benarnya, Kang Gareng. Kamu tadi kan bilang kita sering terlalu membicarakan apa-apa yang terkenal saja. Rokok itu kan terkenal sebagai pembunuh. Padahal …apa itu…junk food… makanan-makanan cepat saji dari manca negara itu… juga sama membunuhnya dengan rokok…bahaya bagi kesehatan…”

Petruk mengacungkan jempol ke Bagong. “Bener cocotmu, Gong. Hari Anti Tembakau sudah ada 1 Juni. Nah Hari Anti Junk Food kok nggak berani kita ramaikan? Takut ama negara-negara pengekspor junk food?”

“Halah, aku ini tidak bodo,” Gareng bersikeras. “Lama-lama akan ada juga hari Anti Junk Food…lha wong sekarang Disney sudah melarang iklan-iklan junk food bagi anak-anak kok…”

Gareng melanjutkan lakonnya. Pancawala, katanya, tidak dibunuh oleh junk food. Tapi saat melangsungkan pernikahan dengan Pergiwati itu Pancawala tertikam keris Pulanggeni milik Arjuna.

Ceritanya begini. Untuk melaksanakan suatu tugas amat berat, Gatutkaca dipinjami keris Pulanggeni oleh Arjuna. Datanglah orang yang menyamar sebagai Gatutkaca. Ia ambil Pulanggeni dari Gatutkaca asli. Ia tikamkan kepada Pergiwati. Gatutkaca 24 karat didakwa membunuh dan ia dibui. Menjelang Gatutkaca tulen menjalani hukuman mati, ia mendapat bantuan dari ponokawan untuk mencari sisik melik siapa sesungguhnya pembunuh Pergiwati.

Ternyata dia adalah Leksmana Mandra Kumara putra Raja Astina Prabu Duryudana. Dan selidik punya selidik, Leksmana adalah putra mahkota yang doyan junk food.

“Berarti Raden Pancawala dibunuh oleh junk food juga…Dengan energi tubuh yang berasal dari junk food itu Leksmana menusukkan keris Pulanggeni ke tubuh Raden Pancawala. Begitu kan?” tanya Bagong ke para kakak.