Wayang Durangpo Tahun I (2009 - 2010)

Episode 49 Dewi SUTET-Wati Nyosor Raden Lesmana

6,259 Views

Episode049Nduk satu dua kabupaten di Jawa Timur ada perempuan manjat menara listrik tegangan ekstratinggi. Di Jawa Tengah, di satu dua kabupaten, sama. Di sana gitu juga. Ada perempuan…duduuuuuk lama-lama di atas rangka baja tinggi. Matanya kosong. Kayaknya mau bunuh diri. Dan perempuannya sama. Orangnya itu-itu juga. Pindah-pindah. Cuma seorang. Wereng juga melanda sawah-sawah padi dua provinsi itu, tapi nggak cuma sewereng.

Itu yang membikin ponokawan Bagong bingung. Kenapa hama padi yang mengancam dua musim panen ke depan itu jumlahnya banyak, jutaan? Tapi kok perempuan yang pindah-pindah menara, yang entah putus ekonomi entah putus cinta itu, jumlahnya cuma satu. Yang berbeda-beda cuma pengakuan tentang jati dirinya.

Kepada Petruk, perempuan berambut kusut-masai itu bilang dia dulu kerja di Kebun Binatang Surabaya. Kalau ndak salah tugasnya di kandang macan. Suatu hari anaknya yang masih taman kanak-kanak oleh gurunya disuruh ngitung, berapa kerugian akibat macet saban hari gara-gara jalan dikosongkan untuk perjalanan presiden PP Cikeas-Istana.

Anak ini ndak bisa njawab, malah nyanyi-nyanyi Pelangi-Pelangi ciptaan almarhum A.T. Machmud. Ibunya berpikir, kalau dikasih makan daging, pasti anak ini selain pandai bernyanyi juga pintar berhitung. Masa tiap hari makan nasi mbarek garam. Diambillah jatah daging para macan di kebun binatang. Itung-itung mengikuti gerakan yang dicanangkan Pak SBY menyambut Hari Anak Nasional. Yaitu gerakan Indonesia Sayang Anak. Nah, demi anak, pas daging jatah macan dibungkus -sebenarnya macannya nggak tahu- tapi petugas keamanan ngelirik. Jadilah perempuan ini sekarang suka manjat menara tegangan tinggi dan jadi tontonan.

”Kamu percaya cerita perempuan itu, Truk?” tanya Gareng.

Jan-jane ya ndak percoyo, Kang Gareng. Tapi kan sekarang yang aneh-aneh bisa saja malah jadi senyata-nyatanya nyata. Wong sekarang ada kok, itu…di Surabaya….orang tua nyerah, angkat tangan ngasih makan bayinya. Eh, bayi nggak diserahkan ke panti asuhan, malah diserahkan ke kantor polisi. Padahal semboyan Pak Polisi itu mau di Surabaya, di Kulonprogo, di Ambarawa, dan di mana-mana kan sama, polisi kerjanya cuma melindungi dan melayanindak pakai menggendong dan menyusui…”

”Iya, Truk, polwan saja semboyannya juga sama, cuma melindungi dan melayani, ndak ditambahi mengasuh dan menyusui…”

”Ke aku kok lain lagi ya ceritane,” kata Bagong kepada kakak-kakaknya. Bungsu ponokawan itu menunjuk ke televisi. Ada siaran Mas Bambang Sulistomo, salah satu pemrakarsa gerakan penyelesaian lumpur Lapindo. Putra Bung Tomo ini bilang, kalau ada ketegasan penguasa seperti Obama, asyik Rek. Wong lumpur minyak di Teluk Mexico bisa diselesaikan Amerika dalam waktu cuma 3 bulan, masa lumpur Lapindo wis empat tahun ndak beres-beres.

”O, Gong, maksudmu wong wedok di atas menara itu korban lumpur Lapindo?” Petruk dan Gareng kompak.

”Bukan. Maksudku nuding televisi…yuk kita pindah di depan televisi situ, ada tiker, aku tak ndongeng siapa perempuan tower itu menurut pengakuannya kemarin ke aku pribadi…”

Untuk pertama kalinya, Bagong mendongeng dengan cukup runtut.

***

Perempuan di atas mercu itu dulunya ndak kurang suatu apa. Rumah di mana-mana. Kebo, sapi, ayam, kambing…dia punya sak arat-arat. Suami? Hehe… dia malah punya dua. Namanya Pak Karadusana dan Pak Trimurda. Makanya kalau lihat perempuan-perempuan lain, perempuan itu tidak memperhatikan harta bendanya. Dia sudah kaya raya kok. Mau perempuan lain itu pakai tas orisinal Prada, Louis Vuitton, Gucci…ndak masalah.

Perempuan itu tertarik ke salah seorang wanita yang sama sekali sandangannya nggak pakai merk terkenal. Kenapa? Karena di atas kepala wanita yang dilihatnya itu seperti selalu ada sinar. Cahaya itu senantiasa mengikuti kepalanya. Dan setiap tanah yang dipijak oleh wanita bercahaya itu, tiba-tiba…byar… jadi subur. Ternak pun jadi berhidupan sehat-sehat. Harga-harga jadi terjangkau. Cabe merah tak sampai puluhan ribu per kilo. Harga daging juga terjangkau. Bukan hanya macan kebun binatang yang bisa mbadog daging.

Namanya Bu Sinta.

Pantas, pikir perempuan tower itu dulunya. Berarti wanita yang di atas kepalanya ada naungan cahaya itu pastilah adalah titisan Dewi Sri alias Dewi Widowati. Dan lelaki tampan di samping wanita itu pastilah Pak Ramawijaya, titisan Dewa Wisnu.

Kecemburuan mulai muncul di hati perempuan tower itu dulunya. Edan. Dilihatnya, Pak Rama kalau pergi ke mana-mana meninggalkan istrinya, pulangnya pasti karena butuh. Butuh bertemu Bu Sinta, butuh berdua dengan Bu Sinta. Sedangkan kedua suaminya, Pak Karadusana dan Pak Trimurda? Hah, mereka pulang ke rumah bukan karena butuh istri tapi karena takut istri. Minimal karena kewajiban! Bukan karena kebutuhan!

”Oooo… Bosan aku! Bosan! Bosan! Bosan! Bahtera macam apa rumah tanggaku ini!!!!” jerit hati perempuan itu.

Maka, ketika dilihatnya Pak Rama meninggalkan Bu Sinta untuk pergi berburu di Hutan Dandaka, perempuan ini mulai pedekate pada Rama. Tapi Pak Rama dengan halus menolaknya.

Kata Rama, ”Wahai perempuan cantik, terima kasih telah Diajeng nyatakan perasaan Diajeng. Tapi saya sudah cukup beristrikan Sinta. Wanita ini membawa rezeki, karena dia tidak pernah bersungut-sungut mau pukul berapa pun saya pulang. Dan saya selalu butuh pulang. Nenek-moyang saya bilang, suami-istri itu satu karma. Ketunggalan doa suami-istri, itulah rezeki rumah tangga, untuk kita bagi pada sesama…Kalau Diajeng ingin punya suami, lamarlah adik saya. Namanya Lesmana. Dia lelaki yang baik…”

Dengan sedikit tersinggung, pergi jugalah perempuan ini kepada Lesmana.

***

Siaran Mas Bambang Sulistomo di Metro TV perkoro lumpur Lapindo masih tertayang. Bolak-balik arek Suroboyo ini menyatakan optimismenya. Lumpur Lapindo bisa dirampungkan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Teluk Mexico sumber semburan lumpurnya di bawah laut saja bisa cepat tuntas. Lumpur Lapindo kan di daratan. Di sini ahli-ahli dari ITB dan ITS juga banyak. Asal Pak SBY mau saja…Asal Pak SBY mau saja… kata Mas Bambang berkali-kali.

Bagong berkali-kali juga bilang, perempuan tower itu dulunya juga ndak bosen-bosen mengungkapkan cintanya ke Pak Lesmana. Pernyataan asmaranya berulang-ulang seperti kebakaran kompor gas sampai hampir empat tahun, sampai hampir seusia terkatung-katungnya kasus blethok Lapindo.

Siang-malam selama empat warsa perempuan ini juga menyedu kopi luwak buat Pak Lesmana. Masih juga adik yang mirip Pak Rama ini menolaknya.

”Mungkin karena belum ada fatwa halal dari Majelis Ulama Indonesia…,” sahut Petruk.

Ndak,” timpal Gareng, ”Kalau melihat setting cerita Bagong dan jenis nama-nama tokohnya, pasti ini terjadi sebelum Syarekat Islam berdiri deh. Jadi waktu itu pasti belum ada MUI.”

Bagong kesel ceritanya dipotong-potong. ”Bener. Waktu itu belum ada MUI. Padahal luwak sendiri kan nggak bisa dimintai fatwa apa kopinya halal apa mubah apa haram. Waktu saya tanya, luwak-luwak itu cuma cengar-cengir saja…”

Akhirnya Pak Lesmana mau juga kopi luwak hidangan perempuan itu. Tapi pas perempuan cantik itu nyosor-nyosor pengin mencium Lesmana, Lesmana dengan indra gaibnya sanggup mengendus bau keringat raksasa. Ah, ini bukan perempuan biasa. Seketika hidung perempuan itu dipuntirnya sampai patah dan berdarah-darah. Wujudnya seketika berubah ke bleger aslinya, raksasa. Namanya Sarpakenaka! Sarpa artinya panjang mengerikan. Kenaka berarti kuku. Raksasa perempuan yang berdarah-darah hidungnya itu berlarian sampai akhirnya manjat ke menara listrik tegangan ekstratinggi.

Sik..sik..sik…Gong,” sela Gareng, ”Kalau dia betul Sarpakenaka, mestinya dia lari wadul, lapor ke kakak kandungnya, raja raksasa Alengka si Dasamuka. Lha ini kok manjat tiang listrik?”

”Lha ya embuh, pokoknya dia ceritanya ke aku ya gitu…”

***

Terdengar dari puncak menara SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi):

Hahaha…. Aku ancene bukan Sarpakenaka, tapi kami sama-sama pemakan daging… Anak-anakku yang di SD dan SMP juga. Semua harusnya makan daging. Mau di Hari Anak Nasional atau hari Senin atau Jumat Kliwon atau hari apalah. Tapi bukan daging wereng. Tapi aku ikut rombongan grup facebook ”Say No to Krisdayanti…” Tapi siapa tahu ada daging yang bisa dimakan di dalam grup itu… Tapi di puncak ini aku lebih tinggi dari Anang dan lumpur Lapindo. Tapi aku lebih tinggi dari siapa pun. Aku lebih luhur dari siapa pun. Lebih luhur dari tarif dasar listrik. Lebih luhur dari tingginya harga cabeeeeeee……Aku menaaaaaaang…..Maju tak gentar…mem­beeeeela yang tinggiiiii…..

DISADUR SELENGKAPNYA DARI JAWA POS, KOLOM MINGGUAN, WAYANG DURANGPO