Wayang Durangpo Tahun I (2009 - 2010)

Episode 50 Amir Membolos… Kata Bu Guru…

7,286 Views

Episode050PONOKAWAN perempuan, Cangik dan anaknya, Limbuk, punya nazar. Mereka akan mbalekno KTP ke kelurahan. Dua-duanya tergugah tekad Bu Sutarti dan Bu Rusmini. Kedua janda pahlawan itu kan bakal mengembalikan ke negara sertifikat kepahlawanan mendiang suami mereka. Ya kayak gitulah kalau sampek pengadilan tega-teganya ngetuk palu menyalahkan keduanya lantaran didakwa nyerobot rumah dinas.

Ndak cuma itu. Bu Sutarti dan Bu Rusmini mengancam akan membongkar kuburan suaminya di Taman Makam Pahlawan. Buat apa negara pura-pura hormat ke almarhum suami mereka dengan kasih pusara nduk Kalibata, kalau nyatane janda-janda kusuma bangsa itu dikuyo-kuyo.

Pas jalan ke kantor Pak Lurah, Cangik yang kurus kering dan Limbuk yang gendut-subur mandek sebentar di Senayan. Ada kerumunan manusia di sekitar gedung DPR. Ternyata seorang aktor tempo dahulu, namanya Pong Harjatmo, sedang manjat gedung yang bentuk atapnya kayak bokong tengkurap itu. Di atas atap sang aktor protes kok anggota DPR sering mbolos.

”Wah, Oom Pong Harjatmo itu idolaku lho, Mak,” seru Limbuk kepada emaknya. ”Aku itu paling suka acara Oom Pong di TVRI zaman dulu… Berpacuuuuu dalam Melodi!!!”

”Hush! Itu Mas Pong Hendratmo, Mbuk, eh Koes Hendratmo… Kalau Dik Pong Harjatmo itu aktor. Biasanya selalu jadi orang sial. Dulu tempo kamu belum lahir ada film remaja. Kondang banget. Dari novel Eddy D. Iskandar, orang Bandung. Judulnya Gita Cinta dari SMA. Rolnya Rano Karno dan Yessi Gusman. Nah, Dik Pong itu jadi guru SMA sing ngebet pada Ratna, si Yessi Gusman itu. Di depan Ratna, tingkah Pak Guru ini neko-neko sampai celananya mlorot dan robek di belakang bokongnya… Lalu Dik Pong, Pak Guru, lari terbirit-birit sampai murid-muridnya semua kepingkel-pingkel…

***

Matahari masih terik.

Si tambun Limbuk dan si kerempeng Cangik akan beranjak dari kerumunan di DPR Senayan, mau melanjutkan jalan kaki ke kantor kelurahan, mengembalikan mereka punya KTP. Ujuk-ujuk datang Tantowi Yahya. Putra Palembang ini muncul-muncul ndak bawa empek-empek, malah ngajak kameraman televisi sembari menyodorkan mik. ”Lihat kan demonstrasi panjat atap gedung DPR tadi? Komentar Anda?” tanyanya kepada Limbuk.

”Hehehe… Mas Tantowi… Tak pikir-pikir Om Pong keliru. Mestinya beliau tetap saja tekun di gaweannya, profesinya, jadi MC acara Berpacuuuuu dalam Melodi…

Tantowi mengernyit.

Cangkik tanggap. Ia jawil anaknya sambil bisik-bisik, ”Hush, Berpacu dalam Melodi itu Mas Koes Hendratmo… Mas Koes itu seniornya Mas Tantowi, sama-sama kadernya ratu kuis tahun 80-an, perempuan Aceh, Ibu Ani Sumadi…”

”O jadi Mas Pong yang keliru?” sambung Tantowi masih mengernyit. ”Terus… terus… Anggota DPR, sering bolos… Nggak salah?”
”Ooo ya ndak to Mas Tantowi... ndak salah… Piye to… Karena DPR kan memang bukan Taman Kanak-kanak. Di DPR nggak ada lagu yang wanti-wanti agar nggak mbolos. Kalau di TK kan ada… Amir Membolos… Kata Bu Guru…

Cangik menyela, ”Ya… Betul sekali Limbuk, anakku ini. Dulu suwargi Presiden Gus Dur sudah mau meresmikan DPR sebagai Taman Kanak-kanak, tapi anggota DPR nggak mau. Mereka malah mencak-mencak. Akibatnya ya gini, DPR nggak punya lagu tentang masuk terus pantang mbolos…”

Cangik bener. Seandainya DPR itu TK, para anggotanya bisa menyanyikan tembang dolanan tradisional yang sangat populer dengan nada Slendro Pathet Sanga. Cangik rengeng-rengeng:

Wajibe dadi murid

Ora pareng pijer pamit

Kejobo yen loro, kejobo yen loro

Loro tenan, ora loro mung etok-etokan, aaan

Lan manehe kudu pamit nganggo layang…

Cuplikan tembang dolanan anak-anak itu kalau komplet Indonesianya begini: Please deh jadi murid mbok jangan mbolosan. Kecuali pas sedang sakit. Sakit pun harus sakit beneran yang memang gak bisa berangkat ke sekolah lho, bukan sakit hati atau sakit panu. Sakit betulan pun masih harus pakai surat. Awas ya, kalau keseringan bolos nanti kamu jadi goblok sedungu kerbau.

BACA  SELENGKAPNYA DI JAWA POS, KOLOM MINGGUAN, WAYANG DURANGPO