Jawa Pos

Kunjungan saat Jam Makan

9,372 Views

HARI ini, 5 Agustus, mestinya Mbah Surip, saya, dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) tampil dalam orasi budaya ulang tahun Komisi Yudisial. Waktu berunding dengan ketua lembaga tinggi negara tersebut, Busyro Muqoddas, akhirnya kami putuskan bahwa Mbah Surip tidak usah tampil dulu. Ini sama sekali tak berhubungan dengan niat merendahkan almarhum.

Alasan kami teknis saja. Ulang tahunan ini, meski sifatnya guyon, akan dirancang dengan agak serius. Misalnya, melibatkan tokoh-tokoh serius seperti rohaniwan Buya Syafi’i Maarif dan budayawan Romo Franz Magnis Suseno.

Dalam perundingan informal di kawasan Jakarta Pusat itu, Cak Nun punya pendapat menarik. Dengan Mbah Surip acara memang jadi lebih penuh tawa, katanya, tetapi jadi agak kacau. “Mbah Surip itu kalau kita tanya dalam dialog kan njawabnya tergantung pas dia lagi ingat apa. Kita tanya kusutnya peradilan di Indonesia, kalau dia lagi ingat California, ya njawabnya tentang California…”

Memang iya sih. Kalau Mbah Surip lagi ingat lagunya soal bangun tidur … tidur lagi… mau ditanya soal Manohara, ya jawabnya soal bangun tidur terus tidur lagi itu. Atau tiba-tiba ketawa sendiri kalau memang lagi pengin atau inget ketawa. Cobalah tanya komentarnya soal Jembatan Suramadu … bisa saja dia jawab cuma dengan Haaa… haaa… haaaa….

Ingat Gombloh

Kira-kira 10 tahun lalu, saya dan banyak teman termasuk orang yang kerap dikunjungi Mbah Surip pada jam makan. Kelakuannya mengingatkan kita pada penyair besar Chairil Anwar yang saking nggak punyanya duit untuk sekadar makan, maka bertamunya ya itu… kalau nggak lohor, ya habis magrib. Lalu, kalau mau pamit pulang membuat bahasa-bahasa tubuh yang membuat tuan rumah mana pun akan tidak tega untuk tidak nyangoni meski cuma sekadarnya.

Tapi, poinnya bukan itu. “Kera Ngalam” Anto Baret yang kini memimpin komunitas seni Warung Apresiasi Blok M Jakarta tahu lebih banyak kelakuan Mbah Surip. Wong almarhum setiap saya ke kawasan Bulungan itu pasti ada di warung itu. Ada banyak lagi orang yang dijumpainya di situ. Saya bukan satu-satunya “korban.”

Poin saya, Mbah Surip mengingatkan kita bahwa seformal apa pun zaman, lebih-lebih zaman seperti ini ketika orang kaya atau tidak, S-3 makin tak ada harganya, selalu saja ada tipe-tipe seperti Mbah Surip yang mengingatkan kita pada Chairil Anwar.

Sebelum Mbah Surip, kita juga mempunyai Gombloh yang digandrungi orang-orang dari dunia malam karena begitu kuat watak sosialnya. Mbah Surip, kita tahu, masih juga ke mana-mana naik sepeda motor meski kalau mau dia bisa leha-leha dengan mobil mewah….

Lupa Tak Gendong

Yang membedakan Mbah Surip dengan Gombloh mungkin adalah peninggalannya. Gombloh meninggalkan lagu Kebyar-Kebyar yang sampai sekarang masih kerap dibawakan pada forum-forum resmi, selain dia tinggalkan lagu ecek-ecek Kugadaikan Cintaku alias Di Radio…

Mbah Surip belum sempat menitipkan pada kita lagu-lagu yang lebih serius dan agung selain tipe-tipe seperti Tak Gendong… Mungkin karena Mbah Surip tak seberuntung Gombloh.

Waktu zaman Gombloh, mungkin khalayak masih sedikit banyak mau mendengarkan lagu yang bagus sehingga Gombloh bisa menelurkan Kebyar-Kebyar. Meminjam Ronggowarsito, zaman itu masih zaman Kalatida, yakni ketika kerusakan masih melanda pribadi-pribadi dalam masyarakat.

Kini zaman telah meningkat pada era Kalabendu, yaitu kerusakan sudah merantak dan melanda seluruh sendi masyarakat. Bukan saja kelompok musik Kuburan yang lupa (lupa akan syairnya dalam lagu Lupa-Lupa Ingat). Kita semua bahkan sudah lupa pada Pancasila, lupa pada UUD 45.

Kalau kita semua masih ingat dasar ideal dan konstitusional ketatanegaraan, mustahil biaya kuliah jadi gila-gilaan seperti sekarang, mustahil air bisa dikelola oleh asing, mustahil petani garam, padi, nelayan, dan lain-lain jadi sempoyongan, mustahil modal-modal besar boleh masuk sampai ke perkampungan untuk melakukan perdagangan eceran dan membunuh pasar tradisional….

Ke dalam masyarakat yang masih penuh harapan sekaligus apatis itulah lagu-lagu Mbah Surip berdenyut… Seandainya masih hidup lebih lama, pasti almarhum akan menciptakan lagu-lagu yang lebih berbobot… Tapi, almarhum tahu itu tak mungkin… Karena zaman Kalabendu akan makin menuju puncaknya. Dan masyarakat hanya akan mau mendengarkan lagu-lagu setaraf Tak Gendong.

Mbah Surip telah meninggal… Hidup Mbah!!!! (lk)

Disadur Sepenuhnya dari Jawa Pos, Rabu, 05 Augstus 2009