Cerber

Lamunan Perempuan yang Kehilangan Malam (1)

4,550 Views

Pengantar redaksi: Tulisan ini kami rencanakan sebagai cerita bersambung. Kami mengundang teman-teman yang berminat untuk bikin usulan, kritik dan lain-lain komentar. Karena kelanjutan dan frekuensi kemunculan cerita ini sangat tergantung pada kritik dan saran teman-teman. Mohon para komentator mencantumkan alamat. Terima kasih.

Malam itu bulan tak jauh. Codot dan kelelawar sepertinya bisa saja hinggap-hinggap dari mangga ke nangka, ke manggis-manggis, lalu menclok di bulan. Kalau malam itu ada yang manjat pohon kelapa, bisa saja dia salah petik rembulan. Karena malam itu bulan memang begitu dekat.

Ada seseorang yang tusuk kondenya jatuh di tanah sepulang dari kondangan warga sekampung. Dengan gampang tusuk gelap itu ditemukan di antara bongkahan tanah kemarau. Malah orang itu tak perlu membuka tas buat mengambil kacamatanya. Tusuk konde itu gampang ditemukan. Karena bulan sungguh-sungguh tak jauh dari desa di situ, desa yang dulunya sawah-sawah.

Mobil dan sepeda motor yang kebetulan lewat mau ke kota atau dari kota banyak yang iseng mematikan lampunya. Tak ada kecelakaan. Musang-musang juga tak ada yang tergeletak di jalan karena tiba-tiba menyeberang bagai bocah dan ditabrak kendaraan manusia. Musang-musang itu bisa menyeberang berliku-liku dan menyelinap di antara lintasan-lintasan mobil saking terangnya keadaan malam, saking bedanya malam itu dengan malam-malam biasa, karena bulan sangatlah dekat.

Siapa itu perempuan yang tengadah di bekas pematang sawah? Ujung hidung, tulang pipi, dagu dan pelupuk matanya berkilauan oleh rembulan. Pasti itu bukan wajah biasa. Pasti itu wajah yang memperhitungkan tonjolan tempat cahaya direbahkan dan cekungan-cekungan tempat cahaya disamarkan mendekati rahasia. Tonjolan bagian depan antara pundak dan lengan perempuan tengadah itu juga direbahi cahaya rembulan.

Siapa itu perempuan yang tengadah di bekas pematang sawah? Ia seakan tak hirau oleh cecet-cuet suara codot di kampung pohon-pohon. Deru mobil dan sepeda motor tanpa lampu di kejauhan juga tak membuatnya terganggu. Rambutnya dibiarkan terurai hingga meraba tanah. Hitam dan kehijauan oleh cahaya rembulan.

“Tadi pagi ada anak muda datang membawa ransel ke rumahnya,” kata seorang lelaki tua yang sempat memperhatikan perempuan itu dari kejauhan. Suaranya pelan. Masih melihat pemandangan yang sama di atas= bekas pematang, laki-laki itu kembali berbisik pada rekannya sepulang menonton wayang di kampung sebelah,”lalu saya lihat pemuda itu keluar lagi membawa ranselnya…terus hilang.”

“Perempuan itu sudah tengadah sejak waktu Isa’,” seseorang yang berpapasan dengan mereka menjelaskan. Tapi mungkin tak tepat Isa’ benar. Pokoknya, waktu dia berangkat mau nonton dangdut di kampung sebelah, dia sudah melihat perempuan itu tengadah pada rembulan, rambutnya menggapai tanah dan suara sekitar tak menganggu keheningannya.

Berarti perempuan itu sudah sekitar 5 jam tengadah di bumi, karena lelaki tua dan rekannya sesama penonton wayang tadi pulang pas selesai adegan Goro-goro tengah malam. Jadi, siapa perempuan yang tengadah di antara bumi dan bulan malam itu?