Wayang Twit

Wayang Twit: #Moksa

7,532 Views

STcartoon1Tweepswati yang njancuki dan Jancukers yang menggemari tweepswati, inilah lakonku Pandawa Moksa, yang tak pernah aku pentaskan live seumur-umur. Baru kepada kalian aku ceritakan Pandawa Moksa, karena aku anggap dengan tak pergi padahal udah aku jancuki saban hari, spiritualitas kalian tinggi. Hanya orang-orang dengan spiritualitas tinggi (ga harus yang kelihatan tekun fisiknya beragama) seperti kalian, tweepswati dan jancukers yang sanggup. Berspiritualitas tinggi. Cuma itulah yang sanggup terima lakon Pandawa Moksa. Moksa adalah keadaan ketika manusia hendak dipanggil pulang.

Pandawa, kita tahu terdiri atas Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula Sadewa. Istri kelimanya adalah Drupadi yang poliandris. Ibunya Kunti. Pandawa punya kakak spiritual yakni Kresna, adalah adik Baladewa. Kresna adalah kakak Subadra, istri Arjuna (selain Drupadi).

Bumi gonjang ganjing.. syahdan.. Setelah Perang Baratayudha Pandawa tak punya musuh, Kehidupan jadi membosankan. Mereka memilih Moksa.

Setelah melakukan puter puja, yaitu Kepana Doa di bumi, sampailah semuanya di Dusun Samahita. Kresna tanya semua satu-satu.

Kunti jawab: “Tadi malam aku ngimpi Pandu (suaminya yang telah almarhum) menyongsongku dengan kereta cahaya tarikan 100 kuda.

Kresna: “Wah mimpi bagus itu, Bibi Kunti. Lantas Dinda Drupadi ngimpi apa?”

“Saya ngimpi ketemu FPI”

Kresna menengok, ternyata yang jawab Panakawan Bagong, bukan Drupadi. Kresna “Asu kamu Gong, hehe..Jiaaancuk hahaha..”

Drupadi: “Saya berjalan di Wulukarnala (samudra pasir) terus ketemu Gapura dari Intan. Bayang-bayang saya lenyap. Aduh! hhmm..”

Kresna: “Hmmm.. hehe.. Itu juga firasat bagus. Dinda Yudistira?”

Yudistira: “Saya melihat ada keris raksasa bahan kencana. Tak lama keris masuk ke sarangnya dari kayu cendana sari.. harumnya…”

Kresna: “Waah.. bagus Dinda Yudis! Adakah yang melebihi keindahan ketika keris masuk ke sarangnya (warangka)?”

“ngencuk tuh kan masuknya keris ke dalam kerangkanya”

Kresna noleh lagi ternyata itu suara Bagong. Kresna: “Bagong anjiiirr seak maah.. ntong ngabodor.. cicing wae!”

Kresna: “Sekarang giliranmu, Bima”

Bima: “Hmm, Arjuna dan kemar saja dulu. Aku jadi gongnya saja cuuk.”

Arjuna: “Kakang Kresna, hamba melihat ada boneka emas kembar tergantung tanpa cantolan. Saat hampa raih, keduanya manunggal ke saya.”

Nakula: “Kakang Kresna, saya mimpi gandengan tangan dengan Dinda Sadewa, naik ke gunung salju, sesampai di puncak gandengan kami lepas..”

Sadewa: “Wah, Kakang Kresna. Ternyata impian saya persis dengan kakak kembaran saya Nakula..”

“Saya juga ngimpi seperti itu juga… tapi kok gandengan saya gak lepas-lepas seperti Ariel-Luna?”

Kresna: “Bagong, jangan menyela obrolan terus, wow tak kokop ndasssmu..”

Kresna: “Wah, mimpimu Arjuna dan si Kembar bagus! Nnaaahh…Sekarang, kamu, Bima?”

Bima: “Aku akan tanya dulu Pandawa tuh berapa?”

Kresna (kaget): “Lho kok kamu tiba-tiba nanya itu? Ya gampang. Pandawa ada 5. Enam dengan aku. Itulah Pancaindra. Aku indra keenamnya. Betul?”

Bima: “Hmmm.. Pandawa tuh sejatinya 10.” Kresna kaget.

Bima: “Pertama, badan tumbuh. Itulah Kunti dan Drupadi. Kedua, badan hidup disebut Pancaindra. Pancaindra itu Yudistira, Aku, Arjuna, Kembar Nakula Sadewa. Selain kedua itu ada 3 jiwa, Jiwa Cipta, Jiwa Rasa, Jiwa Karsa. Cipta itu putih, seperti Baladewa. Rasa itu Kresna, hitam, sebagai lambang kekuatan dan kebijakan. Karsa atau gairah itu Subadra.” Kresna kaget.

Kresna: “Jadi, Pandawa itu 10? Tapi tunggal?

Bima: “Tunggal di dalam hidup. Tapi dalam kematian, semua unsur membuat tanggung jawab masing-masing.”

Kresna: “Tapi, Bima, semua mimpi-mimpi saudaramu tuh gimana?”

Bima: “Bagus. Tapi aku ogak kalau disuruh milih salah satunya.”

Kresna: “Kenapa?”

Bima: “Karena semuanya bukan untuk aku. Aku mimpi lihat cahaya sekunang-kunang. Tempatnya ada di Teleng Pramono Jati. Sampai aku bangun dan sekarang ngobrol sama kamu, cahayanya masih nyala. Kalo aku tunduk, cahaya sekunang-kunang itu ada di bumi. Kalo aku tengadah, dia ada di antariksa. Noleh ke manapun dia ada. Bahkan kalau aku pejam mata, cahaya sekunang-kunang itu tetap tampak.”

Kresna mulai terkagum-kagum. “Menurut kamu, Bima, cahaya begitu firasat bagus?”

Bima: “Ya baguslah.”

Kresna: “Bagus kayak apa?”

Bima: “Bagus gitu aja.”

“Sekarang ganti kamu, Kakang Kresna. Setelah upacara puter puja (kelana doa)… kamu melihat apa?” sambung Bima

Kresna: ” Udahlah, Dinda.. hehe.. ga usah..”

Bima mendesak Kresna: “Kamu melihat apa?”

Kresna: ” Ah, udahlaah.. Setiap kali aku konsentrasi jemput firasat, malah datang gulita!”

Bima: “Hmm.. mungkin justru karena kamu berkonsentrasi! Kamu sendiri pernah bilang, Samadi tuh bukan konsentrasi, memusatkan.”

“Samadi justru mengosongkan, mendekonsentrasi..” sambung Bima.

Kresna: “Iyah, aku salah. Tapi ketika sudah aku kosongkan pikiran, tetap gulita.”

Tweepswati dan Jancukers yang baik, saat itulah Bima melihat pertama kali air mata Kresna menetes perlahan..

“Jangan nangis, Kakang Kresna.. Nanti aku ikut nangis. Ini yang disebut ngunduh wohing pakarti. Memetik kemunafikan-kemunafikan hidupmu.” kata Bima

Bima: “Kakang, untuk menebus seluruh kemunafikanmu, bertapalah 40 tahun di atas samudra pasir..”

Kresna sambil menitikkan air mata, melihat dari kejauhan adik-adiknya, Pandawa, menapaki tangga ke Sorga.

END

Salam Thanks untuk sabarmu..

Ditulis ulang oleh: @chiezworld